Terungkap. PHK Ratusan Karyawan, Driver Ojek Online “Tulang Punggung” Perusahaan

  • Whatsapp
Ilustrasi driver Gojek sedang antre di suatu gerai makanan. (SHUTTERSTOCK/GRATSIAS ADHI HERMAWAN)

Jakarta, KPonline – Ramai diberitakan, Gojek melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 430 karyawan, atau 9 persen dari total karyawan. Startup ride-hailing itu juga menghentikan sejumah layanan.

Sebagian besar karyawan Gojek yang terdampak PHK berasal dari divisi terkait layanan GoLife dan GoFood Festival. Sebab, kedua layanan itu akan dihentikan pada 27 Juli 2020, setelah mengalami penurunan yang cukup signifikan sejak awal pandemi Covid-19.

Berita Lainnya

Selain karyawan Gojek, yang terdampak keputusan ini adalah para mitra GoLife, yang mencakup mitra GoMassage dan GoClean. Para mitra merchant di GoFood Festival juga akan terdampak langsung keputusan ini.

Sementara mitra driver ojek online (ojol) Gojek tidak terdampak secara langsung akibat keputusan ini. Sebab, Gojek masih akan fokus pada tiga bisnis inti, yakni transportasi (GoRide), layanan pesan antar makanan (GoFood), dan uang elektronik (GoPay).

Pernyataan pihak Gojek bahwa mereka akan fokus pada transportasi (GoRide) serta layanan pesan antar makanan (GoFood), menandakan betapa pentingnya para para driver ojeg online. Dalam bahasa saya, mereka merupakan tulang punggung dari perusahaan ini.

Oleh karena itu, sangat wajar jika para driver menuntut kesejahteraannya diperhatikan. Bahkan diperlakukan sama, selayaknya karyawan. Bukan hanya sekedar mitra, yang dalam banyak hal justru lebih mirip sebagai hubungan kerja.

Pengakuan dari perusahaan bahwa mereka adalah bagian penting dari bisnis yang sedang dijalani Gojek, menurut hemat saya harus diperlihatkan dengan mengakui mereka sebagai karyawan. Sehingga ada ikatan sebagai hubungan kerja, untuk memastikan hak-hak para driver sebagai pekerja bisa terjamin.

Hubungan kerja yang fleksibel model mitra seperti ini banyak dikeluhkan. Seolah-olah apa yang terjadi dengan para driver adalah tanggungjawab pribadi. Termasuk penyediaan alat produksi pun harus disiapkan sendiri. Padahal apa yang mereka lakukan adalah bisnis inti dari perusahaan.

Bukan sekali dua kali permasalahan ini disampaikan ke pemerintah. Pertemuan-pertemuan diselenggarakan, tetapi belum mendapatkan penyelesaian terbaik.

Oleh karena itu, situasi ini bisa menjadi pintu masuk untuk memperbaiki hubungan kerja antara Gojek dan para mitranya. Hal ini sebagaimana apa yang diumumkan oleh Andre Soelistyo dan Kevin Aluwi, Co-CEO Gojek;  jika mereka masih akan fokus pada tiga bisnis inti, yakni transportasi (GoRide), layanan pesan antar makanan (GoFood), dan uang elektronik (GoPay).

Pos terkait