Inilah Tuntutan yang Selalu Terlupakan di Peringatan Hari Perempuan

Jakarta, KPonline – Peringatan Hari Perempuan Internasional jatuh setiap tanggal 8 Maret. Hampir setiap tahun secara rutin diperingati. Berbagai tuntutan disuarakan, terutama terkait dengan “kebebasan” dan “kemerdekaan” kaum perempuan.

Namun demikian, ada satu yang selalu terlupakan setiap kali hari perempuan dirayakan. Apa itu? Apalagi kalau bukan tuntutan yang ditujukan terhadap para suami. Kepada kaum lelaki.

Loh, kok? Berdasarkan pengalaman, salah satu yang menghambat perempuan untuk bisa aktif dalam organisasi, misalnya organisasi serikat pekerja, adalah faktor keluarga. Yups, tidak sedikit para perempuan yang tidak diijinkan oleh suaminya untuk mengikuti kegiatan serikat pekerja.

Aktivis FBLP Dian Septi Trisnanti, ketika menjadi pembicara dalam Diskusi Publik bertepatan dengan HUT Media Perdjoeangan di DPP FSPMI bercerita, tidak sedikit buruh perempuan yang ketika masih lajang aktif dalam serikat pekerja, akhirnya memilih mundur teratur setelah menikah. Alasannya, suaminya tidak memberikan restu kepadanya untuk berpartisipasi dalam kegiatan serikat pekerja.

Bahkan ketika rapat hanya dijadwalkan 2 (dua) jam, tetapi suaminya bisa menelepon hingga 10 (sepuluh) kali. Menanyakan kapan pulang, mengapa lama sekali, dan berbagai alasan lain.

Belum lagi, para suami yang tidak bisa bekerja sama. Misalnya membantu momong anak ketika perempuan mengikuti kegiatan serikat pekerja. Beda jika kasus ini terjadi pada laki-laki, yang bisa ikut rapat serikat kapan saja, sementara istri di rumah mengasuh anak.

Makanya, dalam peringatan hari perempuan, ada baiknya jika hal-hal seperti ini juga disuarakan.

Tuntutan perempuan tidak mungkin bisa menang, jika laki-laki hanya berdiam diri. Tidak memberikan konkret terhadap perjuangan itu. Apalagi dalam budaya patriakhi, laki-laki selalu memposisikan diri di atas perempuan. Alih-alih sebagai teman seiring sejalan, mereka lebih sering menguasai.

Di luar isu publik terkait dengan perlindungan maternitas, hentikan diskriminasi dan kekerasan, di hari perempuan ini saya ingin menetap pesan. “Hei kaum lelaki, jika kamu memang mencintai perempuanmu, dukunglah perjuangan mereka untuk merebut hak-haknya.”

Tentu saja, ini jangan dimaknai bahwa kaum perempuan berharap belas kasihan pada laki-laki. Sama sekali tidak. Ini adalah seruan terkait dengan kesetaraan. Jika mereka boleh aktif dalam gerakan, perempuan pun harus diberikan kesempatan yang sama.

Bisa jadi, salah satu faktor mengapa perempuan sulit mendapatkan haknya, karena keegoisan laki-laki. Karena itulah, kepada mereka tulisan ini saya tujukan: lelaki!

Facebook Comments