Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi

Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi

Posted by

Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi, begitulah sepenggal pepatah jawa yang mengandung makna yang sangat dalam. Yang bilamana diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah Berani Mawas Diri, Merasa Ikut Memiliki, Wajib Ikut Menjaga/Membela.

Pepatah jawa inilah yang pada awal Maret 2018 nantinya digunakan sebagai tema dalam Musyawarah Cabang II Serikat Pekerja Aneka Industri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Kota Semarang. Ada latar belakang serta harapan dalam penggunaan peribahasa jawa tersebut sehingga digunakan sebagai tema dalam pesta demokrasi serikat pekerja FSPMI di Kota Semarang. Peribahasa ini seringkali digunakan sebagai ajakan agar siapa saja yang berada dalam satu lingkungan atau wadah tersebut merasa terpanggil untuk terlibat aktif serta berpartisipasi dalam pengembangan serta kerja kerja di dalamnya, pun juga di organisasi buruh atau serikat pekerja.

Organisasi ini tidak akan pernah maju dan berkembang tanpa peran serta campur tangan seluruh anggotanya, di butuhkan rasa ikut memiliki, sehingga tumbuh perasaan untuk membela dan menjaga. Visi, misi maupun program-program organisasi akan terlaksana dengan sinergitas masing masing anggota tanpa membeda bedakan peranan.

Mulat Sarira Hangrasa Wani

Berani mawas diri atau berani melihat diri sendiri adalah wujud instropeksi sebelum melangkah lebih jauh. Pun melihat realita kondisi pergerakan buruh di Kota Semarang memang belum bisa di sejajarkan dengan pergerakan buruh di daerah lainnya. Banyak pembelajaran yang masih harus terus di kejar, mengatur strategi strategi baru, mencoba untuk menggali potensi diri,serta mencoba pemikiran yang keluar dari kotak.

Semarang dengan tingkatan buruh lokal, masih berada pada zona nyaman. Hal ini sangat berpengaruh pada gerakan. Kontras dengan daerah daerah industri lainnya yang mayoritas buruhnya bertindak sebagai jiwa perantau, sehingga dalam kondisi sulit, harus sadar bahwa tanpa bergerak maka akan semakin tertindas. Bagi buruh perantau, dihadapkan dengan upah minimum tentu akan sangat menjerit, karena tak ada kerabat maupun saudara terdekat yang dapat mereka mintai pertolongan, hanya ada satu jalan yakni melawan. Buruh Kota Semarang yang mana masih tinggal dalam lingkungan keluarga, tentu tak sepelik nasib yang di rasakan buruh perantau, Buruh Semarang masih merasa nyaman dengan bantuan dari kerabat serta keluarga. Tidak bisa tidak, ini adalah salah satu hal yang menghambat gerakan. Oleh sebab itu, perlu adanya evaluasi dan strategi –strategi baru yang mana tidak sekedar mengiblat. Semarang harus punya karakter sendiri, inilah harapan dalam estafet kepemimpinan di SPAI FSPMI Kota Semarang.

Rumangsa Melu Handarbeni

Merasa ikut memiliki adalah hal pokok. Rasa inilah yang sesungguhnya menjadi harapan sederhana dalam berorganisasi. Suatu hal ataupun langkah yang didasari rasa ikut memiliki tentu akan berupaya untuk selalu merawat dan berhati hati. Krisis saat ini yang melanda adalah sikap masing-masing anggota yang rentan merasa acuh dan enggan untuk ikut berperan aktif. Tentu dalam perjalanannya, organisasi inipun akan berada pada titik terrendah, dimana wujud nyata akan terlihat dari prosentase kehadiran anggota dalam konsolidasi maupun agenda agenda organisasi lainnya, di butuhkan point pertama diatas yakni Mawas Diri untuk selanjutnya mencapai ke tahap ini. Karenanya tak akan tercapai militansi bila tak ada rasa ikut memiliki.

Wajib Melu Angrungkebi

Pepatah terakhir ini ibarat Roda Gigi gerakan buruh. Seperti yang kita sadari bersama bahwasanya Organisasi hanyalah sebuah kendaraan dalam mewujudkan cita cita perjuangan kesejahteraan. Perjuangan ini tak akan pernah sampai bila mana tidak adanya komitmen dan konsistensi dalam menjaga perjalanan gerakan, dan tak akan pernah sampai pada tujuannya. Maka, masing –masing anggota wajib ikut menjaga keberlangsungan gerak juang organisasi ini. Membela di saat organisasi ini memanggil.

Ketiganya itulah yang menjadi semboyan kuat masyarakat Jawa untuk sadar dan kembali memusatkan pikiran untuk menuju cita cita sesungguhnya, seperti itulah harapan yang di tuangkan dalam tema Muscab II SPAI FSPMI Kota Semarang.

(Afg)

Facebook Comments

Comments are closed.