Asia Pacific Pulp and Paper Sector Trade Union Network Meeting

Jakarta, KPonline – Federasi Serikat Pekerja Sektor Pulp dan Kertas menghadiri kegiatan Asia Facifik Pulp and Paper Sector Trade Union Network Meeting pada tanggal 19 – 20 Agustus 2019.

Kegiatan ini berlangsung di Millennium Hotel Jakarta yang dihadiri  oleh Federasi dan Serikat Pekerja Sektor Pulp dan Kertas dari Beberapa Negara seperti Malaysia, Philipina, Vietman, Thailand  dan di Indonesia sendiri yang hadir adalah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indoneia (FSP2KI)

Federasi Serikat Pekerja KEP (FSP-KEP), FSP – KEP CEMWU serta dari  Kikes dalam kegiatan Asia Pasifik Pulp and Paper Sector Trade Union Network Meeting ini dihadiri oleh IndustriAll – JAF yang berasal dari Jepang, Brother Alex Millar dari CFMEU

Salah satu Serikat Pekerja pada Industri Pulp dan Kertas yang berasal dari Australia, Sister Annie Adviento selaku  Regional Director at IndustriAll SEAO sebagai penyelenggara mengatakan bahwa kegiatan pertemuan dan diskusi ini harus dilakukan secara berkelanjutan

Brother Tom Grinter selaku Director, Chemicals and Pharmaceuticals, Pulp and Paper, Rubber Industries IndustriALL Switzeleand mengatakan bahwa setiap pertemuan dan diskusi dalam kegiatan  Asia Facifik Pulp and Paper Sector Trade Union Network  ini harus menghasilkan satu gagasan ataupun ide yang bisa disepakati bersama.

Dalam kegiatan IndustiALL Global Union Asia Facifik Pulp and Paper Sector Trade Union Network Meeting ini setiap Federasi dan Serikat Pekerja Sektor Pulp dan Kertas dari beberapa negara di Asia menyampaikan prersentasi tentang kondisi politik, perkembangan industry pulp dan kertas serta kondisi di setiap Federasi dan Serikat Pekerja yang berafiliasi dengan IndustriALL Global Union yang berpusat di Swedia.

Kondisi Politik sangat berpengaruh pada perkembangan dan pergerakan  Buruh dan Serikat Pekerja  di Sektor Pulp dan Kertas di Negara – Negara Asia hampir mengalami permasalahan yang sama seperti Aturan – aturan atau kebijakan Pemerintah yang tidak berpihak pada buruh satu contoh di Indonesia dalam waktu dekat pemerintah melalui legeslatifnya akan merevisi Undang – Undang Nomor 13 Tahun 2003 Versi dari Pengusaha, dan ini merupakan satu kebijakan yang tidak berpihak kepada buruh, hal seperti ini juga terjadi di Negara-negara di Asia, Pemerintah juga melakukan Intimidasi terhadap Pergerakan Buruh, Kebebasan Berserikat bahkan di Intimidasi.

Dalam Industri Pulp dan Kerta di Asia dan di Dunia perkembangannya sangat pesat dan berdasarkan Badan Penelitian dan Pengembangan Industri pada tahun 2013 Indonesia memiliki 82 Industri Pulp dan Kertas yang terdiri atas 4 Industri Pulp, 73 Industri Kertas, serta 5 Industri Pulp dan Kertas terintegrasi dengan Kapasitas terpasang Industri Pulp dan Kertas sebesar 18,96 juta ton, Realisasi Produksi Pulp dan Kertas masing-masing 4,55 juta ton dan 7,98 juta ton kertas.

Dengan kemampuan produksi tersebut Indonesia menempati peringkat ke-9 untuk produsen pulp terbesar di dunia dan ke-6 untuk produsen kertas terbesar di dunia, Dari sisi ekspor, Indonesia mampu mengekspor pulp sebesar 3,75 juta ton dengan nilai 1,85 miliar dolar AS dan mengekspor kertas sebesar 4,26 juta ton dengan nilai 3,76 miliar dolar AS. Adapun negara tujuan ekspor terbesar adalah Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok

Pertumbuhannya sangat bagus. Ini terbukti ada 2 industri dapat fasilitas dari pemerintah. Salah satunya PT. OKI Pulp di Sumatera Selatan dengan beroperasinya tahun depan ekspor kita bisa naik ke posisi ke enam. Saat ini konsumsi kertas di dunia se-banyak 394 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. Sementara di dalam negeri konsumsi kertas per kapita masih sangat jauh dari rata-rata konsumsi negara lainnya sehingga masih sangat potensial untuk berkembang sedangkan pengembangan Industry pulp dan kertas sendiri  menurutnya, beberapa proyek industri pulp dan kertas lainnya akan segera menyusul, yaitu Unit Produksi Kertas Tissue PT. OKI dengan kapasitas 500 ribu ton per tahun yang diperkirakan mulai berproduksi pada Juni 2018.

Selain itu, proyek PT. Sateri Viscose International di Pelalawan Riau, yang akan memproduksi dissolving pulpuntuk rayon dan kertas digital. ( Sumber Kementrian Perindustrian )

Dalam produksi Pulp dan Kerta juga tidak lepas dari para pekerja Outsoursing yang ada di dalam Industri Pulp dan Kerta tersebut,  namun selama ini pekerja outsoursing di anggap tidak mempunyai peran penting terhadap hasil produksi Pulp dan Kertas di Indonesia maupun di beberapa Negara di Asia, permasalah – permasalahan  pekerja outsoursing hampir serupa, dari mulai upah, status hubungan kerja yang tidak jelas, jaminan kesehatan yang tidak di berikan bahkan bahkan intimidasi selalu ada ketika pekerja Outsoursing membentuk Serikat Pekerja

Bahkan  rata – rata perusahaan Pulp dan Kertas enggan menjamin kelangsungan kerja para pekerja Outsourcing yang ada di dalammya, dalam kegiatannya pekerja Outsourcing mempunyai dan ikut andil dalam dalam memproduksi Pulp dan Kertas.

Dalam kegiatan Asia Facifik Pulp and Paper Sector Trade Union Network Meeting.

Membahas juga tentang dampak dari Industri 4.0 yang mana industry ini sangat berkaitan dengan inovasi teknologi dalam proses produksi Pulp dan Kertas di Asia, Eropa, Amerika dan beberapa Negara maju lainya. Indonesia sudah menapaki Era Industri 4.0, dimana ditandai dengan serba digitalisasi dan otomatis. Namun, belum semua elemen masyarakat menyadari konsekuensi logis atau dampak dari perubahan-perubahan yang ditimbulkannya.

Ilustrasi ini menggambarkan perubahan yang muncul akibat digitalisasi dan otomasi dalam era Industri 4.0 sekarang ini

Indonesia tak dapat disamakan karakteristiknya dengan negara lain yang telah menerapkan sistem otomatis secara penuh, seperti Jepang. Jepang dapat menerapkan sistem otomasi penuh karena menjadi negara yang penduduknya banyak berusia tua. Sekitar sepertiga penduduk Jepang merupakan orang tua yang berusia 65 tahun ke atas.

Hal ini kemudian berimbas terhadap sedikitnya jumlah tenaga kerja produktif di Jepang. Dengan begitu, kekurangan tenaga kerja di Jepang itu diantisipasi dengan sistem otomasi dan robotik.Selain itu, kebutuhan dasar masyarakat juga harus tetap diperhatikan meski menerapkan Revolusi Industri 4.0.

Hal ini berbeda dengan di Indonesia yang memiliki penduduk usia produktif yang sangat besar dengan demikian Apabila antisipasi terhadap penurunan penyerapan tenaga kerja tidak direncanakan secara matang, maka tingginya angka pengangguran di Indonesia tak akan terelakkan karena tenaga manusia digantikan oleh tenaga mesin atau robot, pemerintah harus mempunyai program di mana industry yang di peruntukan penyerapan tenaga kerja dan perusahan yang berbasis teknologi industry.

Artinya hal ini menjadi permasalahan bersama yang berdampak terhadap pekerja maka, dalam pertemuan Asia Facifik Pulp and Paper Sector Trade Union Network Meeting. Jakarta ini semua Federasi dan Serikat Pekerja baik dari Indonesia maupun dari beberapa Negara – Negara seperti Malaysia, Philipina, Thailand, Vietnam Jepang dan Australia yang berafiliasi pada IndustriALL sepakat untuk membentuk suatu Forum atau lembaga yang terdiri dari Federasi dan Serikat Pekerja pada Industry Pulp dan Kertas yang mempunyai fungsi untuk mendorong dan melakukan langkah – langkah kongkrit terhadap kepentingan pekerja pada Industri Pulp dan Kertas serta pendukungnya.