IndustriALL Tetapkan Strategi Songsong Industri 4.0

Jenewa,KPonline – Lebih dari 100 peserta dari lebih 60 serikat pekerja di 40 negara berkumpul di Jenewa, Swiss, dari 26 hingga 27 Oktober 2017 kemarin untuk Konferensi Dunia IndustriALL Global Union tentang “Industri 4.0: Implikasi bagi serikat pekerja dan kebijakan industri yang berkelanjutan”.

Konferensi tersebut mendengar dari bagian afiliasi IndustriALL yang luas mengenai bagaimana Industri 4.0 dan digitalisasi memengaruhi afiliasi di berbagai negara dan sektor, dan menetapkan sebuah rencana tindakan untuk mengatasi tantangan di masa depan.

Bacaan Lainnya

“Perubahan industri bukanlah hal baru namun laju perubahan dengan Industry 4.0 belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Sekretaris Jenderal IndustriALL, Valter Sanches, dalam sambutannya.

“Sektor kita akan berubah, dan kita harus menyesuaikan diri.”

Masa depan produksi dan pekerjaan dan dampak Industri 4.0 pada masyarakat pada umumnya merupakan diskusi penting di konferensi tersebut.

“Tidak bisa dibiarkan sampai yang paling kaya untuk menuai keuntungan dari Industri 4.0,” kata Brian Kohler, direktur kesehatan, keselamatan dan keberlanjutan di IndustriALL.

“Kekuatan pendorong di belakang Industri 4.0 memangkas biaya dan itu berarti pekerjaan akan berisiko. Jika kita tidak memiliki kursi meja, kita akan berada di menu “kata Kohler dalam menekankan perlunya serikat pekerja untuk terlibat dalam pengambilan keputusan untuk menetapkan kebijakan industri yang berkelanjutan.

“Bahkan pekerja yang paling banyak dieksploitasi tidak bisa bersaing dengan robot,” kata Kohler, menambahkan bahwa wanita sangat rentan karena banyak pekerjaan yang didominasi perempuan adalah genting dan rendah dibayar.

Apa itu Industri 4.0? Industri 4.0 adalah tren automasi industri dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur yang mana didalamnya termasuk teknologi cloud computing, cyber-physical system dan Internet of Things (IoT). Istilah “smart factory” akan menjadi hal yang lumrah kita dengar di era Industri 4.0 sebagaimana saat ini kita mendengar istilah smartphone, smartcard dan istilah-istilah lain yang ditambahkan prefiks smart. Istilah “Industrie 4.0” dicetuskan oleh pemerintah Jerman pada tahun 2011 yang lalu.

Langkah menuju Industry 4.0 ini akan memberikan dampak bagi sektor swasta. Produsen besar yang terintegrasi akan dapat mengoptimalkan serta menyederhanakan rantai suplai mereka, contohnya melalui sistem flexible factories . Sistem manufaktur yang dioperasikan secara digital juga akan membuka peluang-peluang pasar baru bagi UKM penyedia teknologi seperti sensor, robotik, 3D printing atau teknologi komunikasi antar mesin.

Perusahaan yang siap menyambut revolusi industri ini adalah mereka yang dapat membangun ekosistem produksi berbasis konsep Industry 4.0, seperti perusahaan-perusahaan platform-as-services (PaaS), seperti Pivotal, serta perusahaan-perusahaan lain yang dapat menyediakan infrastruktur jaringan untuk Industrial Internet.

Di Indonesia perkembangan teknologi informasi era Industri 4.0 (Smart-Industri) dalam bentuk ‘read sharing’ sudah merambah di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dalam salah satu bentuk Demo Besar antara Driver Konvensional dengan Driver Online (Gojek-Grab dll).

Di Luar negeri Foxconn dikenal sebagai penyuplai komponen untuk produsen perangkat elektronik. Dua di antara yang paling terkenal adalah Samsung dan Apple. Dari total 110.000 pegawai di pabrikan China, porsi manusia hanya tersisa 50.000 orang, setelah Foxconn memangkas 60.000 pekerja manusia dan menggantinya dengan robot.

Cloud Hosting Indonesia

Pos terkait