Tantangan Serikat Pekerja Global: Robotika, Tesla, dan Fleksibilitas Kerah Putih

Tantangan Serikat Pekerja Global: Robotika, Tesla, dan Fleksibilitas Kerah Putih

Berlin, KPonline-Seperti diberitakan sebelumnya, pada hari kedua (16/6) rangkaian agenda Konferensi gabungan IndustriAll Global Union dilanjutkan dengan diskusi dan membahas beberapa tema.

Pertemuan ini diselenggarakan di kantor pusat IG Metall di Berlin.

Dalam giatnya, Agung Purwanto sebagai perwakilan dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) mengungkapkan, sambutan pertama Constantin Borchelt selaku President of IG Metall, yang menceritakan gedung tempat pelaksanaan Konferensi ini yang sarat dengan sejarah gerakan buruh di masa kekuasaan Nazi, serikat pekerja dilarang dan para pemimpinnya dipenjara.

Gedung itu sendiri hancur akibat perang dan kemudian dibangun kembali, sebuah pengingat kuat akan besarnya pengorbanan demi hak-hak pekerja dan betapa pentingnya hak-hak tersebut.

Kemudian, kata Agung, di hari kedua Konferensi ini juga dibahas beberapa issue diantaranya, Apa dampak dari kemajuan AI, robotika, dan digitalisasi bagi pekerja di sektor manufaktur, dan pekerja kerah putih? Bagaimana serikat pekerja merespons ketidakpastian kerja, kesenjangan keterampilan, dan meningkatnya dampak psikososial akibat perubahan teknologi? Dan yang terpenting, bagaimana kita melakukan pengorganisasian di sektor-sektor di mana para pekerja belum memandang diri mereka sebagai satu kesatuan kolektif?

“Tiga sektor hadir dalam pertemuan minggu ini diantaranya sektor kelistrikan dan elektronik, teknik mesin, dan pekerja kerah putih. Tantangan yang mereka hadapi kini semakin saling bersinggungan dengan cepat,” ujar Agung.

Selanjutnya, Agung mengungkapkan, pada sambutan kedua Patrick Tay selaku Co-Chairperson of White Collar workers sector menyampaikan bahwa pekerja kerah putih lebih sulit diorganisir karena mereka sering kali tidak memandang diri mereka sebagai bagian dari kelompok kolektif. Patrick Tay Teck Guan dari Singapura, yang juga merupakan ketua bersama sektor ini, menyatakannya dengan lugas setiap kelompok memerlukan pendekatan yang berbeda. Tujuannya adalah membawa mereka ke meja perundingan.

“Berikutnya, Prihanani Boenadi, Co chairperson of the ICT, electrical and Electronics sekaligus Wakil Presiden DPP FSPMI Bidang Hubungan Luar Negeri mengingatkan para peserta bahwa masa depan dunia kerja sedang dibentuk saat ini, dimana AI menghadirkan peluang sekaligus risiko baru. Pekerja perempuan termasuk kelompok yang paling terdampak ketika teknologi mengubah lini produksi,” lanjut Agung.

Prihanani Boenadi, Co chairperson of the ICT, electrical and Electronics

Asisten Sekretaris Jenderal IndustriALL, Kan Matsuzaki, menyoroti perusahaan-perusahaan baru yang sedang berkembang pesat seperti Tesla. Tesla memproduksi kendaraan listrik sekaligus robot, sehingga mencakup sektor teknik mesin maupun TIK. Perusahaan ini memiliki nilai yang sangat fantastis namun tidak memiliki serikat pekerja.

“Itulah tantangan pengorganisasian di masa kini. Ketidakpastian kerja, pemantauan berbasis AI, hilangnya pekerjaan, dan perlambatan ekonomi global. Perubahan terjadi dengan sangat cepat. Minggu ini, kami hadir untuk berbagi pengetahuan, membangun solidaritas lintas sektor, dan mendorong kebijakan AI yang berpusat pada manusia,” jelas Agung Purwanto.