Sedih, Hari Gini Masih Ada yang Meninggal Dunia Karena Terlambat Ditangani

  • Whatsapp

Purwakarta, KPonline – Sehat merupakan suatu hal yang mahal. Memiliki uang dalam jumlah besar menjad penentu penunjang dalam mendapatkan fasilitas medis yang sedang dibutuhkan bila kita tidak menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Karena itulah, ada istilah, orang miskin dilarang sakit. Sebab kalau sakit, bisa jadi si miskin mati tanpa pengobatan.

Bertempat tinggal di Kp Kiara Pedes Kabupaten Purwakarta dengan hidup serba kekurangan, Nurdin (35) ternyata tidak mampu lagi bertahan hidup akibat penyakit Tuberculosis (TB Paru) yang selama ini telah lama dideritanya.

Bacaan Lainnya

Sempat terbuka harapan untuk kesembuhannya,dengan dibantu oleh Didin Hendrawan (Caleg Dapil 3,dari PKS dengan nomor urut 7,Kabupaten Purwakarta) beserta Tim Jamkeswatch. Nurdin diikutsertakan dalam kepesertaan JKN.

Setelah didaftarkan menjadi peserta JKN melalui program BPJS Kesehatan-Mandiri dan kemudian ditindaklanjuti dengan mendapatkan pelayanan perawatan medis di Rumah Sakit selama sepekan, Jumat 11 Januari 2018 Nurdin menghembuskan nafas terakhir menghadap Yang Maha Kuasa.

Kematian memang tidak ada yang dapat mengetahui kapan akan terjadi. Tetapi setidaknya harapan besar atas kesembuhan penyakit yang diderita almarhum untuk tetap bertahan hidup mungkin akan terealisasi,jika saja Pemerintah melalui Program JKN mampu kelola dengan benar dan secara serius didalam pelaksanaannya.

Nurdin tidak mampu bertahan hidup akibat penyakit (TB Paru) yang dideritanya. Jangankan untuk berobat, mungkin untuk makan saja Nurdin kesulitan.Lalu kemanakah JKN? Padahal Nurdin seharusnya dapat merasakan Program Kesehatan tersebut jauh-jauh hari.

Di Rumah Sakit berbeda dengan Diagnosa penyakit yang sama, Kamis 10 Januari 2019 Mesy Sumiati (17) Warga Cigedogan Kecamatan Purwakarta,Kabupaten Purwakarta ternyata harus meregang nyawa akibat keterlambatan Mesy dalam mengobati penyakit (TB Paru) yang dideritanya.

Sebelumnya Mesy telah terdaftar menjadi peserta BPJS – PBI,namun akibat ada indikasi kelalaian dari pihak terkait,entah itu Pemerintahan Daerah Kabupaten Purwakarta atau BPJS Kesehatan, Mesy tidak memiliki kartu kepesertaan berobat.Sehingga Mesy beserta keluarga tidak mengetahui kalau telah menjadi peserta BPJS – PBI.

Kembali dipertanyakan, kemanakah Kartu kepesertaan BPJS – PBI Mesy Sumiati? Andai saja kartu tersebut ada pada Mesy, mungkin Mesy bisa bertahan hidup sampai detik ini.

 

Karena Mesy bisa menggunakan kartu tersebut untuk mengobati penyakitnya sedini mungkin. Beruntung ada Didin Hendrawan, Ade Supyani bersama tim Jamkeswatch FSPMI Purwakarta.

Walau Mesy harus tutup usia,setidaknya Mesy bisa mendapatkan fasilitas medis Rumah Sakit dengan menggunakan BPJS-PBI tanpa kartu kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tersebut.

“Terima kasih banyak atas segala bantuan yang telah diberikan,semoga senantiasa selalu diberikan kesehatan bagi Pak Ade Supyani dan rekan-rekan FSPMI semuanya,” ucap ustad Sinyo.

Loyalitas serta kesungguhan yang diiringi rasa tulus serta ikhlas Didin Hendrawan bersama Ade Supyani dan rekan rekan Jamkeswatch Purwakarta dalam kegiatan sosial untuk membantu hal apa pun terhadap sesama kembali dibuktikan.

“Lakukan apa yang bisa dilakukan,kerjakan apa yang bisa dikerjakan.Jadikanlah setiap waktu dan kesempatan untuk membantu sesama.”

Pos terkait