Karawang, KPonline-Gelombang semangat perjuangan buruh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) kembali menghangat menjelang peringatan Hari Buruh Internasional 2026. Dalam konsolidasi akbar yang digelar di Aula Masjid Al Gammar, Karawang, Kamis, (23/4/2026) Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menyampaikan pidato yang tidak hanya membakar semangat, tetapi juga mengajak peserta konsolidasi memahami akar sejarah panjang perjuangan kelas pekerja dunia.
Di hadapan ratusan buruh KSPI, perwakilan dari berbagai daerah di beberapa wilayah Jawa Barat, Said Iqbal menegaskan bahwa perjuangan buruh hari ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah global yang penuh pengorbanan. Ia mengingatkan kembali peristiwa penting yang menjadi tonggak lahirnya May Day, yakni Haymarket Affair (Tragedi Haymarket) di Amerika Serikat.
“Sejarah mencatat, ratusan ribu buruh turun ke jalan menuntut jam kerja manusiawi. Mereka bekerja 14 hingga 16 jam sehari, tanpa perlindungan. Buruh pabrik, buruh tambang, semua mengalami penderitaan yang sama,” ujar Iqbal dalam pidatonya.
Ia menggambarkan bagaimana pada akhir abad ke-19, gelombang aksi buruh di Chicago melibatkan lebih dari 300 ribu pekerja yang menuntut pengurangan jam kerja menjadi delapan jam sehari. Namun, perjuangan tersebut dibayar mahal dengan bentrokan berdarah yang kemudian dikenal sebagai tragedi Haymarket.
Menurut Said Iqbal, peristiwa tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan simbol keberanian dan pengorbanan kelas pekerja di seluruh dunia. Dari sanalah kemudian lahir kesepakatan internasional pada tahun 1889 yang menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.
“Perjuangan itu tidak berhenti. Dari abad ke-19, abad ke-20, hingga sekarang abad ke-21, semangatnya tetap sama. Melawan ketidakadilan,” tegasnya.
Said Iqbal juga menyoroti bahwa meskipun kondisi kerja telah mengalami perubahan, ancaman terhadap buruh masih tetap ada. Ia menyebut persoalan klasik seperti upah murah, jam kerja panjang, dan ketidakpastian kerja masih menjadi realitas yang dihadapi banyak pekerja di Indonesia.
“Sekarang kita masih menghadapi upah murah, outsourcing, dan hubungan kerja yang tidak pasti. Ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi soal keadilan,” katanya.
Ia menekankan bahwa perjuangan buruh tidak hanya sebatas menuntut kenaikan upah, tetapi juga mencakup hak-hak dasar lainnya seperti jaminan sosial, pendidikan yang layak, layanan publik, hingga perlindungan hukum.
Kemudian, dalam pidatonya, Said Iqbal juga menyinggung perjalanan May Day di Indonesia yang mengalami pasang surut. Ia mengingatkan bahwa pada masa Soekarno, peringatan Hari Buruh sempat menjadi momentum besar bagi gerakan pekerja.
Namun, pada era Soeharto, May Day sempat dilarang dan dikaitkan dengan ideologi tertentu, sehingga aktivitas buruh dibatasi secara ketat.
“Sejarah Indonesia juga punya catatan sendiri. Pernah ada masa dimana buruh tidak bebas bersuara. Tapi hari ini kita memilih jalan demokrasi,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa KSPI tetap berkomitmen memperjuangkan hak buruh melalui jalur konstitusional dan demokratis, bukan melalui kekerasan.
Konsolidasi akbar ini menjadi bagian dari persiapan menuju peringatan Hari Buruh Internasional 2026. KSPI menargetkan mobilisasi besar-besaran buruh untuk menyuarakan tuntutan mereka secara nasional di DPR RI.
Said Iqbal menyebut bahwa jutaan buruh di seluruh Indonesia berpotensi terlibat dalam aksi tersebut, sebagai bentuk tekanan terhadap pemerintah dan pemangku kebijakan agar lebih serius memperhatikan kesejahteraan pekerja.
“Bayangkan jika jutaan buruh bergerak bersama. Ini bukan sekadar aksi, tapi kekuatan rakyat pekerja,” katanya.
Diakhir, Said Iqbal menegaskan bahwa sejarah panjang perjuangan buruh harus menjadi inspirasi, bukan sekadar cerita masa lalu. Ia mengajak seluruh buruh untuk tetap solid dan tidak melupakan akar perjuangan mereka.
“May Day bukan hanya peringatan. May Day is not Holiday. May Day adalah pengingat bahwa hak yang kita nikmati hari ini adalah hasil perjuangan panjang. Sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang,” pungkasnya.