Presiden dan Buruh dalam Satu Panggung

Presiden dan Buruh dalam Satu Panggung
Presiden RI, Prabowo Subianto saat berpidato dihadapan ratusan ribu buruh di Mayday 2026 | Foto by Wiwik Aswanti

Purwakarta, KPonline-Perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day di Indonesia mencatatkan sejarah tersendiri dalam perjalanannya. Dalam catatan dari berbagai negara, hanya sedikit kepala negara yang pernah hadir secara langsung dan merayakan Hari Buruh bersama kaum pekerja. Indonesia kini masuk dalam daftar tersebut, setelah Sukarno, Presiden Prabowo Subianto hadir langsung dalam peringatan May Day selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 1 Mei 2025 dan 1 Mei 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Kehadiran Presiden Prabowo di tengah puluhan hingga ratusan ribu buruh menjadi peristiwa yang mendapat perhatian luas. Pada perayaan May Day 2026, Presiden hadir langsung di Monas, menyapa para pekerja, berpidato di hadapan massa buruh, serta berdialog dengan sejumlah pimpinan serikat pekerja. Bahkan, kehadirannya pada tahun 2026 menjadi kali kedua selama masa pemerintahannya menghadiri perayaan Hari Buruh secara langsung.

Dalam sejarah peringatan Hari Buruh sedunia, Indonesia bukan satu-satunya negara yang presidennya turun langsung bersama buruh. Setidaknya terdapat dua negara lain yang memiliki tradisi serupa, yaitu Venezuela dan Bolivia.

Di Venezuela, peringatan May Day selama bertahun-tahun menjadi bagian dari agenda politik dan sosial pemerintahan yang dekat dengan organisasi pekerja. Pada era Presiden Hugo Chavez hingga penerusnya Nicolás Maduro, Hari Buruh kerap diperingati bersama serikat pekerja dan pendukung pemerintah dalam berbagai mobilisasi massa yang besar.

Sementara di Bolivia, tradisi serupa juga pernah dilakukan oleh pemerintahan yang memiliki kedekatan dengan gerakan rakyat dan pekerja. Presiden Bolivia tercatat beberapa kali menghadiri langsung peringatan Hari Buruh bersama massa pekerja sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi kaum buruh dalam pembangunan nasional.

Namun demikian, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Jika Venezuela dan Bolivia dikenal memiliki sejarah panjang hubungan antara pemerintah dan gerakan pekerja, maka kehadiran Presiden Prabowo selama dua tahun berturut-turut dalam peringatan May Day menjadi catatan baru dalam sejarah ketenagakerjaan Indonesia. Kehadiran tersebut dinilai banyak kalangan sebagai simbol pengakuan negara terhadap peran strategis kaum pekerja dalam pembangunan bangsa.

Pada May Day 2025, Presiden Prabowo menyampaikan sejumlah komitmen terkait kesejahteraan pekerja, termasuk pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh Nasional dan perhatian terhadap perlindungan pekerja melalui berbagai kebijakan ketenagakerjaan.

Sementara pada May Day 2026, Presiden kembali hadir di Monas dan menyampaikan berbagai langkah pemerintah terkait isu ketenagakerjaan, termasuk perhatian terhadap mitigasi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan peningkatan kesejahteraan buruh.

Bagi kalangan serikat pekerja, kehadiran seorang presiden di tengah massa buruh bukan sekadar perayaan. Kehadiran tersebut memiliki makna tersendiri bahwa suara pekerja didengar langsung oleh pemegang kekuasaan tertinggi di negara. Di banyak negara, peringatan Hari Buruh sering kali menjadi momentum penyampaian tuntutan kepada pemerintah. Karena itu, ketika seorang presiden hadir langsung di tengah pekerja, momen tersebut menjadi peristiwa yang relatif langka dalam sejarah gerakan buruh dunia.

Dengan catatan tersebut, Indonesia kini sejajar dengan Venezuela dan Bolivia sebagai negara yang presidennya pernah turun langsung merayakan May Day bersama kaum pekerja. Bahkan, Indonesia mencatatkan sejarah tersendiri karena Presiden Prabowo Subianto hadir dalam peringatan Hari Buruh selama dua tahun berturut-turut, sebuah momentum yang akan tercatat dalam perjalanan panjang hubungan antara negara dan gerakan buruh Indonesia.