Yang Tak Pernah Puas pada Perjuangan Buruh

Yang Tak Pernah Puas pada Perjuangan Buruh

Purwakarta, KPonline-Bagi manusia yang gemar berisik tetapi malas berpikir, buruh sering kali menjadi sasaran paling empuk untuk dihakimi.

Ketika buruh turun ke jalan, membawa spanduk lusuh dan suara yang serak karena berteriak menuntut hak, ada saja yang mencibir.

“Kerjanya demo terus.”

“Mengganggu investasi.”

“Bikin macet jalan.”

Seolah-olah buruh lahir ke dunia hanya untuk diam, bekerja, pulang, lalu menerima nasib tanpa boleh bertanya.

Namun lucunya, ketika ada wakil buruh yang berhasil masuk ke dalam pemerintahan, duduk di meja pengambil keputusan, kembali suara-suara sinis itu muncul.

“Buruh kok masuk politik?”

“Sudah tidak murni lagi.”

“Sudah lupa sama kawan-kawannya.”

Aneh.

Buruh demo diomongin.

Wakil buruh masuk pemerintahan juga diomongin.

Lalu sebenarnya maunya apa?

Kalau buruh diam, upah ditekan.

Kalau buruh melawan, disebut pembuat masalah.

Kalau buruh masuk sistem untuk memperjuangkan kebijakan, dituduh haus kekuasaan.

Seakan-akan bagi sebagian orang, posisi ideal buruh adalah tetap miskin, tetap tertindas, tetapi tidak boleh mengeluh.

Ironisnya lagi, banyak yang paling keras mengkritik perjuangan buruh justru masih berstatus buruh juga.

•Masih bangun pagi mengejar absensi.

•Masih mengeluh harga beras naik.

•Masih mengeluh kontrak kerja tak kunjung menjadi tetap.

•Masih mengeluh lembur panjang tetapi kebutuhan hidup tak kunjung tercukupi.

•Tetapi ketika ada buruh lain yang berjuang, mereka malah berdiri di barisan yang berseberangan.

Inilah tragedi paling menyedihkan dalam dunia perburuhan: ketika sesama pekerja mulai memandang perjuangan sebagai ancaman.

Mungkin mereka lupa bahwa hampir semua hak yang hari ini dianggap biasa lahir dari perjuangan panjang.

√>Upah minimum.

√>Jaminan sosial.

√>Hak cuti.

√>Pesangon.

√>Batas jam kerja.

√>Keselamatan kerja.

Semuanya bukan hadiah dari langit. Semuanya bukan sedekah pengusaha. Semuanya lahir dari keringat, air mata, intimidasi, bahkan pengorbanan para buruh yang berani melawan ketidakadilan.

Sejarah tidak pernah mencatat bahwa hak buruh datang karena buruh diam. Hak lahir karena ada yang berani bersuara.

Karena itu, ketika ada yang mencemooh aksi buruh dan pada saat yang sama mencemooh wakil buruh yang masuk ke dalam pemerintahan, pertanyaannya sederhana:

• Apakah kalian memang ingin nasib buruh terus-menerus ditindas?

• Ataukah kalian sudah terlalu lama terbiasa hidup dalam ketidakadilan hingga menganggapnya sebagai sesuatu yang normal?

Singkatnya adalah begini. Ketika gaji tidak cukup sampai akhir bulan, mereka mengeluh. Ketika harga kebutuhan pokok naik, mereka mengeluh. Ketika status kontrak diperpanjang berkali-kali, mereka mengeluh.

Tetapi ketika ada orang yang berusaha memperjuangkan perubahan, mereka justru menjadi penonton yang paling rajin mencela.

Padahal mereka sendiri masih berdiri di depan mesin produksi, masih mengenakan seragam kerja, masih menjual tenaga dan waktu kepada perusahaan. Mereka masih buruh.

Cepat atau lambat, kebijakan yang tidak berpihak kepada pekerja akan ikut menyentuh hidup mereka.

Karena pada akhirnya, perjuangan buruh bukan soal siapa yang paling lantang berteriak di jalan atau siapa yang duduk di kursi pemerintahan.

Perjuangan buruh adalah memastikan bahwa orang yang bekerja keras bisa hidup layak dari hasil kerjanya.

Dan sejarah selalu membuktikan satu hal:

“Musuh terbesar gerakan buruh bukan hanya ketidakadilan. Tetapi juga mereka yang menikmati hasil perjuangan buruh sambil terus mencibir perjuangan itu sendiri”