Pekerja Muda KSPI Tegaskan Pemuda Garda Depan Perjuangan Just Transition di Asia

Pekerja Muda KSPI Tegaskan Pemuda Garda Depan Perjuangan Just Transition di Asia

Filipina, KPonline – Perwakilan Pekerja Muda Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Komite Perempuan KSPI yang diwakili Agung Panji Sutrisna (FSPMI) dan Rezkyanti Tri Utami (FSP ISSI) menghadiri Regional Trade Union Youth Conference on Just Transition: Advancing Youth-Led Climate Action yang digelar pada 23–24 April 2026 di Makati City, Filipina.

Konferensi ini mempertemukan perwakilan serikat pekerja muda dari berbagai negara di Asia untuk memperkuat konsolidasi gerakan buruh dalam menghadapi krisis iklim dan perubahan struktur ekonomi global, dengan menekankan pentingnya agenda Just Transition yang berkeadilan bagi pekerja.

Bacaan Lainnya

Pada sesi pertama, diskusi menegaskan bahwa Just Transition tidak boleh dipersempit hanya sebagai agenda lingkungan, tetapi merupakan bagian dari perjuangan kelas pekerja untuk memastikan transisi menuju ekonomi hijau tetap menjamin hak-hak pekerja, keamanan kerja, dan keadilan sosial. Tanpa keberpihakan yang jelas, transisi justru berpotensi menjadi instrumen baru yang memperdalam ketimpangan dan memperluas pemiskinan.

Forum juga menyoroti dampak nyata krisis iklim terhadap pekerja, mulai dari meningkatnya risiko kesehatan akibat suhu kerja yang ekstrem, penurunan produktivitas, hingga ancaman hilangnya pekerjaan akibat transformasi industri. Namun, kebijakan pemerintah di berbagai negara dinilai belum sepenuhnya berpihak pada pekerja, khususnya dalam implementasi komitmen global terkait pendanaan iklim, transfer teknologi, dan perlindungan tenaga kerja.

Isu keterlibatan pemuda menjadi perhatian utama. Partisipasi pemuda dalam serikat pekerja dinilai masih menghadapi berbagai hambatan, seperti minimnya ruang kepemimpinan, terbatasnya akses pelatihan, serta kondisi kerja yang tidak stabil. Meski demikian, berbagai inisiatif positif, termasuk di Indonesia, terus berkembang melalui pendidikan serikat, workshop, dan program pengembangan kepemimpinan.

Pada sesi kedua, workshop difokuskan pada perumusan strategi konkret untuk memperkuat peran pemuda dalam agenda Just Transition. Peserta dibagi dalam kelompok kerja tematik yang membahas advokasi kebijakan, pengembangan kapasitas, pengorganisasian, serta penguatan jaringan dan aliansi.

Hasil workshop menunjukkan keterlibatan pemuda dalam isu Just Transition masih bersifat sporadis dan belum terlembagakan secara kuat dalam struktur serikat pekerja. Untuk menjawab tantangan itu, peserta merumuskan sejumlah inisiatif strategis, antara lain pembentukan forum tahunan lintas sektor, pembangunan pusat pengetahuan digital, serta optimalisasi media digital sebagai alat mobilisasi dan edukasi pemuda.

Forum juga menegaskan pentingnya mendorong negara segera menyusun dan mengimplementasikan kerangka Just Transition yang berpihak pada pekerja, termasuk melalui jaminan perlindungan kerja, pelatihan ulang, dan penciptaan pekerjaan hijau yang layak. Serikat pekerja pun didorong memasukkan isu ini ke dalam perundingan kolektif sebagai langkah strategis menghadapi perubahan di tingkat industri.

Konferensi turut menekankan pentingnya penguatan aliansi lintas sektor dan lintas negara. Dalam menghadapi perusahaan global dan kebijakan transnasional, gerakan buruh dituntut membangun solidaritas regional yang lebih kuat guna meningkatkan daya tekan politik.

Sebagai tindak lanjut, peserta sepakat menyusun resolusi bersama sebagai dasar advokasi di tingkat nasional dan regional, serta memperkuat koordinasi lintas negara. Forum ini juga mendorong keterlibatan aktif dalam ruang-ruang internasional, termasuk melalui ILO, agar suara pekerja menjadi bagian integral dalam agenda global perubahan iklim dan transformasi ekonomi.

Perwakilan KSPI menegaskan momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat peran pemuda sebagai motor penggerak gerakan buruh. Just Transition tidak boleh berhenti sebagai slogan, melainkan harus diwujudkan dalam kebijakan nyata yang menjamin tidak ada pekerja yang ditinggalkan.

“Pemuda bukan hanya pelengkap dalam gerakan serikat pekerja, tetapi harus menjadi aktor utama dalam menentukan arah perjuangan, terutama dalam menghadapi krisis iklim dan transformasi ekonomi global,” tegas perwakilan KSPI.

Pos terkait