Dalam Giat Aksi Solidaritas Serikat PT Caterpillar Batam, Fuad BM Dorong Penguatan Pendidikan Serikat untuk Cegah Kriminalisasi dan PHK Pengurus

Dalam Giat Aksi Solidaritas Serikat PT Caterpillar Batam, Fuad BM Dorong Penguatan Pendidikan Serikat untuk Cegah Kriminalisasi dan PHK Pengurus

Batam, KPonline-Aksi solidaritas yang digelar di Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT Caterpillar Indonesia, Batam tidak hanya menjadi giat dukungan bagi pengurus serikat yang menghadapi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tetapi juga menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat gerakan serikat pekerja di masa mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Pimpinan Pusat (PP) SPAMK FSPMI, Fuad BM, memberikan motivasi kepada anggota dan pengurus SPAMK FSPMI Batam agar tetap teguh serta istiqomah dalam menjalankan perjuangan organisasi, meskipun menghadapi berbagai tantangan dan tekanan.

Menurut Fuad yang juga merupakan Ketua Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta, perjuangan serikat pekerja tidak boleh berhenti hanya pada aksi solidaritas. Peristiwa yang menimpa Ketua PUK SPAMK FSPMI PT Caterpillar Indonesia, Batam harus menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh struktur organisasi, khususnya di sektor Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK).

“Kawan-kawan harus tetap istiqomah dalam perjuangan. Pulang dari Batam kita harus melakukan evaluasi bersama bagaimana membuat sektor AMK, baik di tingkat Pimpinan Cabang (PC) maupun PUK, mendapatkan pendidikan yang merata, terutama di daerah-daerah pengembangan,” ujar Fuad kepada Media Perdjoeangan (Koran Perdjoeangan). Sabtu (13/6/2026).

Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting bagi gerakan serikat pekerja. Fuad menilai bahwa kasus PHK yang menimpa pengurus serikat tidak boleh dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai pelajaran berharga untuk memperkuat daya tahan organisasi melalui pendidikan yang sistematis dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, kata Fuad, salah satu kebutuhan mendesak yang harus diperkuat adalah pendidikan dasar berserikat. Pendidikan tersebut menjadi fondasi bagi anggota maupun pengurus untuk memahami hak-hak normatif pekerja, fungsi organisasi, hingga strategi menghadapi berbagai persoalan hubungan industrial.

“Di banyak negara, pendidikan serikat pekerja telah menjadi instrumen penting dalam membangun kesadaran kolektif pekerja. Melalui pendidikan, anggota memahami bahwa serikat pekerja bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan alat perjuangan yang memiliki landasan hukum yang kuat,” ujarnya.

Di Indonesia sendiri, keberadaan serikat pekerja dijamin oleh Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh yang memberikan kebebasan kepada pekerja untuk membentuk dan menjadi anggota serikat pekerja.

Karena itu, Fuad menegaskan bahwa setiap pengurus dan anggota harus dibekali pemahaman yang memadai mengenai hak-hak organisasi dan mekanisme perlindungan hukum yang tersedia.

Selain pendidikan dasar berserikat, Fuad juga menyoroti pentingnya pendidikan imunitas organisasi.

Sebab, katanya, pendidikan ini bertujuan agar setiap pengurus maupun anggota memiliki kemampuan untuk melindungi diri sendiri ketika menghadapi persoalan hubungan industrial, intimidasi, union busting, maupun ancaman terhadap kebebasan berserikat.

“Pendidikan imunitas sangat penting. Pengurus PUK dan anggota harus mampu membela diri sendiri ketika menghadapi persoalan. Jangan sampai ketika ada masalah, mereka tidak memahami hak-haknya,” tegasnya.

Untuk itu, Fuad beranggapan bahwa kasus-kasus PHK terhadap aktivis serikat pekerja yang terjadi di berbagai daerah menunjukkan bahwa kemampuan memahami regulasi ketenagakerjaan dan strategi advokasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi.

Kemudian, Fuad juga menekankan pentingnya pendidikan agitasi dan pengorganisasian bagi kader-kader AMK di seluruh Indonesia.

Baginya, kekuatan organisasi tidak hanya diukur dari keberanian melakukan aksi, tetapi juga dari kemampuan mengajak pekerja lain untuk bergabung dan terlibat aktif dalam serikat pekerja.

“Pendidikan agitasi harus diperkuat agar kader mampu mengajak teman-teman bergabung ke serikat. Organisasi tidak akan berkembang jika hanya mengandalkan orang yang itu-itu saja,” katanya.

Sejarah gerakan buruh Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan organisasi selalu diawali oleh kader-kader yang memiliki kemampuan komunikasi, pengorganisasian, dan militansi yang baik. Mereka turun langsung ke pabrik, kawasan industri, hingga lingkungan tempat tinggal pekerja untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya berserikat.

Metode tersebut mengingatkan kembali pada masa-masa awal perkembangan FSPMI, khususnya di Kabupaten Purwakarta. Ketika para organizer melakukan pendekatan dari kawasan industri ke kawasan industri, bahkan dari kontrakan ke kontrakan pekerja untuk membangun kesadaran kolektif kaum buruh.

Peristiwa yang terjadi di PT Caterpillar Indonesia Batam kini menjadi perhatian FSPMI. Fuad BM berharap momentum solidaritas di Batam tidak berhenti sebagai bentuk dukungan moral semata, melainkan menjadi titik awal untuk memperkuat pendidikan organisasi di seluruh sektor AMK.

Kesimpulannya, lanjut Fuad, pendidikan dasar berserikat, pendidikan imunitas, dan pendidikan agitasi harus menjadi program prioritas yang dijalankan secara merata hingga ke daerah-daerah pengembangan.

“Dengan kader yang memahami organisasi, mampu membela diri, serta mampu mengorganisir pekerja lain, serikat pekerja akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan hubungan industrial di masa depan,” pungkas Fuad BM.