Pangkornas Garda Metal Ungkap Empat Kunci Utama Kekuatan FSPMI

Pangkornas Garda Metal Ungkap Empat Kunci Utama Kekuatan FSPMI
Keterangan foto: Supriyadi berada di posisi tengah dengan menggunakan seragam FSPMI

Subang, KPonline-Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Jawa Barat sekaligus Panglima Koordinator Nasional (Pangkornas) Garda Metal, Supriyadi (Piyong), menyampaikan hal penting mengenai sejarah dan soliditas organisasi FSPMI dalam kegiatan Gathering yang diselenggarakan Pimpinan Pusat (PP) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) FSPMI dan berlangsung selama dua hari di Subang. (18-19/8/2026).

​Di hadapan para peserta, Supriyadi yang juga merupakan Wakil Ketua Umum (Waketum) PP SPAMK FSPMI menegaskan bahwa perkataannya dalam acara ini bukan untuk menggurui, melainkan untuk merawat ingatan bersama seluruh anggota.

Bacaan Lainnya

Ia mengingatkan bahwa keberadaan seluruh buruh dari berbagai daerah mulai dari Aceh hingga Jawa Timur dan Sulawesi bisa saling mengenal dan bersatu karena berada di bawah satu bendera perjuangan FSPMI.

​”Kita bisa berdiri dan duduk bersama di sini bukan karena ada yang paling hebat, tetapi karena kita dipersatukan oleh satu bendera perjuangan yang sama,” tegasnya.

Selanjutnya, Supriyadi merawat ingatan sejarah organisasi yang didirikan sejak tahun 1999 di Garut. Memasuki usia 27 tahun perjalanan FSPMI, ia mengapresiasi para senior pendiri yang masih konsisten berjuang hingga hari ini.

​Ia mengungkapkan bahwa keberlanjutan dan kekuatan FSPMI hingga saat ini ditopang oleh empat hal:

1. ​Kemandirian Organisasi melalui Chek of system (COS): FSPMI berdiri tegak secara mandiri tanpa menggantungkan diri pada bantuan pemerintah.

2. Anggota yang Solid dan Kuat: Kekuatan utama serikat pekerja terletak pada kesetiaan dan militansi seluruh anggotanya.

3. Mampu Menciptakan Isu Sendiri: FSPMI tidak sekadar mengekor pada isu yang dilayangkan pihak lain, melainkan aktif membentuk arah narasi perjuangan buruh (seperti isu Jamsostek, BPJS, hingga penolakan UU Cipta Kerja).

4. Kepemimpinan yang Hebat dan Berpikir Maju: Perlunya keberanian dan kapasitas para pimpinan di setiap tingkatan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Pos terkait