Jakarta, KPonline-Perjalanan Said Iqbal menuju Istana Negara bermula dari lantai pabrik. Pada 1992, ia bekerja di sebuah perusahaan elektronik di Kabupaten Bekasi dan mulai aktif di serikat pekerja. Tiga puluh empat tahun kemudian, tepatnya 8 Juni 2026, Said dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh.
Perubahan posisi itu menandai babak baru perjalanan Said Iqbal. Dari pekerja dan aktivis serikat, menjadi pemimpin federasi buruh, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Presiden Partai Buruh, hingga penasihat Presiden untuk urusan ketenagakerjaan.
Siapa Said Iqbal?
Said Iqbal lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968. Latar belakang pendidikannya berada di bidang teknik mesin dan ekonomi.
Ia menempuh pendidikan D3 Teknik Mesin di Politeknik Universitas Indonesia, kemudian S1 Teknik Mesin Universitas Jayabaya dan Magister Ekonomi Universitas Indonesia. Namun, perjalanan profesionalnya justru banyak dibentuk oleh pengalaman langsung sebagai pekerja dan aktivis serikat.
Pada 1992, ketika bekerja di perusahaan elektronik di Kabupaten Bekasi, Said mulai aktif di serikat pekerja. Menurut profil FSPMI, ia kemudian menjadi ketua pimpinan serikat pekerja di perusahaan tersebut hingga 1999.
Pengalaman itu menjadi fondasi perjalanan organisasinya.
Apa yang Membawa Said dari Pabrik ke Tingkat Nasional?
Setelah Reformasi 1998, ruang gerak organisasi pekerja di Indonesia berubah. Said kemudian terlibat dalam perkembangan dan pendirian Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Karier organisasinya berkembang dari tingkat perusahaan menuju organisasi pekerja tingkat nasional. Ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal FSPMI sebelum kemudian memimpin federasi tersebut.
Pada 2004, Said juga mulai terlibat dalam Dewan Pengupahan Nasional dan Lembaga Kerja Sama Tripartit Nasional.
Dititik ini, perjuangannya tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan satu perusahaan. Ia mulai masuk ke ruang perumusan dan pembahasan kebijakan ketenagakerjaan yang mempertemukan pemerintah, pengusaha, dan pekerja.
Kapan Said Menjadi Tokoh Buruh Nasional?
Titik penting berikutnya terjadi pada 2012 ketika Said Iqbal menjadi Presiden KSPI.
Jabatan tersebut membuatnya menjadi salah satu tokoh utama dalam berbagai isu ketenagakerjaan nasional.
Persoalan yang menjadi perhatian antara lain:
• upah minimum;
• outsourcing;
• pekerja kontrak;
• jaminan sosial;
• kepastian kerja;
• pesangon;
• perlindungan pekerja;
• serta kebijakan ketenagakerjaan pemerintah.
Namanya kemudian kerap muncul dalam aksi demonstrasi dan perundingan yang melibatkan serikat pekerja dengan pemerintah maupun pengusaha.
Pada 2013, Said juga memperoleh The Febe Elisabeth Velasquez Award dari FNV Mondiaal, organisasi serikat pekerja Belanda, atas aktivitasnya dalam gerakan pekerja.
Mengapa Jaminan Sosial Menjadi Bagian Penting Perjalanannya?
Sebelum menjadi Presiden KSPI, Said juga terlibat dalam gerakan yang mendorong perluasan jaminan sosial.
Pada 2011, ia tercatat sebagai Sekretaris Jenderal Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS). Gerakan tersebut memperjuangkan pelaksanaan sistem jaminan sosial yang lebih luas bagi masyarakat dan pekerja.
Perjuangan ini penting dalam perjalanan Said karena isu buruh yang dibawanya tidak berhenti pada besaran upah.
Persoalan kesejahteraan pekerja kemudian mencakup pula jaminan kesehatan, jaminan pensiun, kepastian pendapatan, dan perlindungan sosial.
Bagaimana Sikap Said dalam Perdebatan UU Cipta Kerja?
Ketika pemerintah dan DPR membahas Omnibus Law Cipta Kerja pada 2019–2020, Said menjadi salah satu pemimpin serikat pekerja yang menentang sejumlah ketentuan ketenagakerjaan dalam rancangan tersebut.
KSPI di bawah kepemimpinannya menyampaikan keberatan terhadap sejumlah isu, termasuk pesangon, outsourcing, pekerja kontrak, dan pengaturan upah.
Setelah UU Cipta Kerja disahkan, penolakan serikat pekerja terhadap sejumlah ketentuan tersebut terus berlanjut.
Fase ini memperlihatkan posisi Said sebagai tokoh yang berada di luar pemerintahan dan secara terbuka melakukan tekanan terhadap kebijakan pemerintah ketika dinilai tidak sesuai dengan kepentingan pekerja.
Kapan Said Masuk Politik?
Perjalanan Said tidak berhenti pada gerakan serikat pekerja.
Pada 2021, ia menjadi Presiden Partai Buruh.
Perubahan tersebut membawa perjuangan isu pekerja dari arena serikat ke arena politik elektoral. Partai Buruh kemudian menggunakan isu ketenagakerjaan dan kesejahteraan pekerja sebagai bagian penting dari agenda politiknya.
Dengan posisi tersebut, Said berada dalam dua ruang sekaligus: sebagai pemimpin gerakan serikat pekerja dan sebagai pimpinan partai politik.
Dimana Titik Balik Terbesarnya?
Titik balik terbesar terjadi di Istana Negara, Jakarta, pada 8 Juni 2026.
Pada hari itu, Presiden Prabowo Subianto melantik Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh.
Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 58 Tahun 2026. Pelantikan itu memiliki arti penting dalam perjalanan karier Said.
Selama puluhan tahun, ia berada di luar pemerintahan sebagai pemimpin dan aktivis buruh. Ia melakukan advokasi, bernegosiasi, mengkritik kebijakan, dan memimpin aksi pekerja.
Ia berada di dalam lingkungan kepresidenan sebagai penasihat yang memberikan masukan kepada Presiden mengenai bidang yang selama ini menjadi fokus utamanya.
Mengapa Presiden Memilih Said Iqbal?
Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, penunjukan Said berkaitan dengan rekam jejaknya dalam memperjuangkan isu ketenagakerjaan dan perburuhan.
Pemerintah menyebut pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pengangkatannya.
Sementara itu, setelah dilantik, Said menyatakan fokusnya antara lain menyangkut kepastian kerja, kepastian pendapatan, upah layak, dan jaminan sosial.
Dengan demikian, alasan formal pengangkatannya berkaitan langsung dengan pengalaman panjangnya di bidang ketenagakerjaan.
Apa Tugas Said sebagai Penasihat Khusus?
Posisi penasihat khusus berbeda dengan menteri. Said tidak ditempatkan sebagai pelaksana teknis kementerian. Perannya adalah memberikan saran, pendapat, gagasan, dan analisis kebijakan kepada Presiden sesuai bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
Setelah dilantik, Said menyebut beberapa persoalan yang akan menjadi perhatiannya, termasuk kepastian kerja, upah layak, jaminan sosial, outsourcing, dan perlindungan pekerja.
Dengan kata lain, pengalaman yang sebelumnya digunakan untuk mengadvokasi kepentingan buruh dari luar pemerintahan kini digunakan dalam fungsi penasihatan langsung kepada Presiden.
Bagaimana Perjalanan Itu Terjadi?
Jika dirunut, perjalanan Said Iqbal dapat dibaca dalam beberapa tahap.
• 1992 — Bekasi.
Said bekerja di perusahaan elektronik dan mulai aktif dalam serikat pekerja.
• 1992–1999 — Serikat pekerja perusahaan.
Ia dipercaya menjadi pimpinan serikat pekerja di perusahaan tempatnya bekerja.
• Pasca-Reformasi — FSPMI.
Ia terlibat dalam perkembangan dan pendirian Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia.
• 2000-an — Kepemimpinan serikat.
Ia menempati posisi strategis di FSPMI dan kemudian memimpin federasi tersebut.
• 2004 — Forum tripartit.
Ia tercatat terlibat dalam Dewan Pengupahan Nasional dan LKS Tripartit Nasional.
• 2011 — Gerakan jaminan sosial.
Ia terlibat dalam Komite Aksi Jaminan Sosial.
• 2012 — KSPI.
Ia menjadi Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia.
• 2013 — Pengakuan internasional.
Ia memperoleh The Febe Elisabeth Velasquez Award dari FNV Mondiaal.
• 2019–2020 — Perdebatan Omnibus Law.
Ia menjadi salah satu tokoh serikat pekerja yang menolak sejumlah ketentuan ketenagakerjaan dalam Omnibus Law Cipta Kerja.
• 2021 — Partai Buruh.
Ia menjadi Presiden Partai Buruh.
• 8 Juni 2026 — Istana Negara.
Ia dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh.
Dari Lantai Produksi ke Meja Presiden
Ada garis merah yang menghubungkan seluruh perjalanan tersebut: ketenagakerjaan.
Said Iqbal mengenal persoalan buruh bukan hanya melalui dokumen kebijakan. Ia pernah menjadi pekerja di perusahaan elektronik, menjadi aktivis serikat, memimpin organisasi pekerja, terlibat dalam forum tripartit, mengadvokasi jaminan sosial, memimpin KSPI, kemudian masuk ke politik melalui Partai Buruh.
Kini, setelah 34 tahun sejak mulai aktif sebagai pekerja dan aktivis serikat di Bekasi, ia berada di lingkungan Istana Negara.
Perubahan itu menggambarkan perpindahan ruang perjuangan: dari lantai pabrik, kantor serikat, jalanan aksi dan meja perundingan menuju meja kebijakan Presiden.
Pertanyaan berikutnya bukan lagi bagaimana Said Iqbal menyuarakan tuntutan buruh dari luar pemerintahan, melainkan bagaimana pengalaman puluhan tahun tersebut diterjemahkan menjadi masukan kebijakan ketika ia kini berada di dalam lingkar penasihat Presiden.
Disitulah babak baru perjalanan Said Iqbal dimulai.



