Ketika Rizal Ramli Bercerita tentang Jin yang Keluar Dari Botol

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Ratusan orang sudah berkumpul ketika saya tiba di sebuah kantor yang terletak di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Rabu malam (5/7/2017), di tempat ini, ekonom senior DR. Rizal Ramli mengadakan halal bihalal. Ratusan orang dari berbagai elemen organisasi, lintas generasi, hadir.

Dalam kesempatan ini, Rizal Ramli menyampaikan pandangan dan kritiknya terhadap perekonomian Indonesia. Dia bercerita tentang kekalahan Yudistira, sulung keluarga Pandawa, dalam perjudian melawan keluarga Kurawa.

Bacaan Lainnya

Mantan Menteri Koordinator Kemaritiman ini menggambarkan Yudistira sebagai adalah tokoh berkarakter pemimpin yang bijaksana. Tetapi satu ketika dia membuat kekeliruan. Terutama ketika meladeni tantangan Kurawa untuk bermain judi.

“Sampai-sampai istrinya Drupadi hampir dijadikan taruhan. Akhirnya taruhan terakhir Yudistira adalah Kerajaan Astina. Pandawa kalah sehingga harus meninggalkan Astina,” kata Rizal Ramli.

Pelajaran penting dari kisah ini adalah, kita semua tidak ingin Indonesia mengalami nasib yang sama seperti Astina. Akibat sebuah kebijakan ceroboh, Astina kemudian dikuasai oleh Kurawa.

“Jangan serahkan Indonesia pada Kurawa,” sambungnya.

Apa kaitannya cerita ini dengan situasi yang sekarang terjadi di Indonesia? Menurut Rizal Ramli, tim ekonomi pemerintah dikuasai oleh kelompok yang tidak memiliki keberpihakan kepada rakyat kecil. Mereka hanya mengandalkan pada strategi pengetatan anggaran yang membuat daya beli masyarakat turun.

Maksud dari pengetatan ini untuk membanyak tabungan yang bisa digunakan untuk membayar pokok dan bunga utang. Kebijakan ini disambut gembira lembaga kreditor. Tapi di sisi lain membuat daya beli rakyat turun.

Bukan Rizal Ramli namanya jika menyampaikan kritik tanpa memberikan solusi. Menurut Rizal, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menambah pemasukan negara. Cara terbaik dengan mengimplementasikan gagasan Nawacita Presiden Jokowi yang intinya adalah keberpihakan.

Strategi lain adalah dengan growth story. Pemerintah harus punya kisah-kisah sukses pembangunan. Ini yang paling efektif untuk menambah pendapatan negara. Menurut Rizal Ramli, apabila daerah-daerah dibangun dan dijadikan pusat pertumbuhan ekonomi baru seperti yang pernah dikerjakan setahun yang lalu, maka ekonomi akan tumbuh merata, berbagai proyek pembangunan infrastruktur juga biasa dibiayai,

Pemimpin KSPI juga hadir dalam pertemuan ini. Dari kiri: Ketua Majelis Nasional KSPI Didi Suprijadi, Presiden KSPI Said Iqbal, Rizal Ramli, Deputi Presiden KSPI Muhamad Rusdi.

Jin Yang Keluar Dari Botol

Di sisi lain, Rizal Ramli menyebut Indonesia seperti sedang berjudi. Perjudian itu menguras energi dan mengancam persatuan. Hal ini terlihat, misalnya, saat Pilkada DKI Jakarta. Ada sebagian yang terlalu bersemangat mendukung tokoh yang sangat kontroversial.

“Gara-gara ini hampir saja modal sosial dan persahabatan kita bubar,” kata Rizal Ramli. Kemudian dia menambahkan. “Meskipun Pilkada DKI Jakarta sudah berakhir, tetapi kotak pandora sudah terlanjur terbuka. Ibarat jin sudah keluar dari botol, susah memasukkannya lagi.”

Persatuan Indonesia sedang diuji. Namun demikian dia masih optimis, ujian ini akan membuat Indonesia menjadi semakin kuat.

Malam itu Rizal Ramli cukup cerdas menyampaikan gagasannaya. Mengenakan kemeja lengan panjang berwarna ungu, dia tampil dengan ide-ide yangn cemerlang.

Tentang Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Rizal Ramli, persoalan yang dihadapi Indonesia tidak kunjung membaik. Khususnya menyangkut stabilitas ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen disebut Rizal Ramli masih rendah. Hal ini disebabkan, Indonesia terlalu bebas mengikuti kebijakan Bank Dunia. Untuk menopang ekonomi nasional di tengah krisis global, pemerintah menerapkan kebijakan pemotongan anggaran. Kebijakan itu tidak lain adalah untuk menuruti kemauan Bank Dunia.

Dengan pemotongan anggaran itu, maka otomatis daya beli masyarakat akan melemah. Ekonomi justru tidak akan bertambah maju. Sebab di sisi lain pembayaran pajak naik termasuk kenaikan tarif dasar listrik. Kebijakan ini menambah beban rakyat miskin yang tidak lagi punya daya beli.

“Kalau daya beli masyarakat lemah, maka ekonomi tidak bisa berjalan dengan baik. Lebaran ini saya sempat berkunjung ke Pasar Tanah Abang. Saya tanya ke pedagang baju, mereka bilang penjualan hanya mencapai 20 persen jauh dibanding lebaran tahun kemarin,” dia menegaskan.

Ketika Rizal Ramli menceritakan hal ini, saya ingat pernyataan Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani. Dia mengatakan, lebaran tahun ini, penjualan produk menurun. Hampir seluruhnya. Barulah saya semakin sadar, bahwa permasalahannya terletak pada daya beli. Anda bisa membacanya dalam artikel yang berjudul ‘Surat Terbuka Untuk Ketua Umum Apindo‘.

Saat masih menjabat sebagai menteri, Rizal Ramli mengaku sempat ditanya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang heran mengapa Bank Dunia senang dengan kebijakan Indonesia yang memotong anggaran. Rizal lalu menjelaskan, wajar Bank Dunia senang karena itu artinya Indonesia punya kas untuk membayar hutang.

“Saya bilang kalau potong anggaran itu artinya kita punya sisa untuk bayar hutang. Wajar mereka senang, dengan memotong subsidi, itu yang mereka inginkan,” jelasnya.

Padahal untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi tidak harus memotong anggaran. Banyak cara yang bisa dilakukan di antaranya memompa kembali pertumbuhan ekonomi nasional dengan mengevaluasi kembali aset-aset nasional. Evaluasi aset kata dia, menyangkut penataan kembali BUMN dengan seluruh aset-asetnya. Rizal yakin dengan pengolahan aset yang baik maka pertumbuhan Indonesia semakin maju. Sebab Indonesia memiliki banyak kekayaan alam yang melimpah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *