Kedatangan Raja Arab di Indonesia, Antara Peningkatan Investasi dan Janji yang Belum Dilunasi

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Raja Salman berencana berkunjung ke Indonesia selama sembilan hari mulai 1-9 Maret 2017. Kunjungan kenegaraan rencananya dilakukan pada 1-3 Maret 2017, dan sisanya akan digunakan untuk beristirahat di Bali. Kunjungan ini merupakan kali yang pertama sejak 47 tahun lalu.

Kunjungan raja Salman membawa rombongan terbesar. Kurang lebih 1.500 orang, 10 menteri, dan 25 pangeran. Berikuta catatan KPonline terkait kunjungan yang menghebohkan ini.

Bacaan Lainnya

Momentum Peningkatan Investasi

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, sepanjang 2016 Arab Saudi hanya merealisasikan investasi sebesar US$900 ribu. Sementara Singapura memimpin negara penanam modal dengan realisasi investasi mencapai US$9,17 miliar. Karena itu, kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia pada bulan depan diharapkan bisa mendongkrak kinerja investasi dari Negeri Minyak tersebut. Terlebih lagi, investasi negara tersebut ke Indonesia masih minim dibandingkan dengan negara lain.

Baca juga: Menperin Sebut Indonesia akan Banjir Investasi, Buruh Ingatkan Tujuan Investasi Untuk Kesejahteraan

Posisi realisasi investasi Arab Saudi tersebut berada di urutan ke-57, di bawah Afrika Selatan yang menanamkan modalnya sebesar US$1 juta dan Mali yang mampu menginvestasikan US$1,1 juta. Investasi sebesar US$900 ribu yang digelontorkan Arab Saudi sepanjang tahun lalu mengucur ke 44 proyek di Indonesia.

Dalam hal ini, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan, pemerintah berharap kunjungan Raja Arab Saudi Sri Baginda Raja Salman bin Abdulaziz Alsaud bersama 25 pangeran Arab Saudi membawa serta potensi investasi bernilai puluhan miliar dolar. Salah satu proyek yang akan diteken nanti, yaitu investasi kilang di Cilacap.

“Ada proyek lain yang akan ditandatangani kurang lebih sebesar US$1 miliar. Presiden berharap, investasi Arab Saudi tembus mencapai US$25 miliar,” ujar Pramono Anung, Selasa (21/2).

Baca juga: Pemenang Pilkada DKI Jakarta Harus Ramah Investasi, Buruh: Tidak Hanya Investasi, Sama Rakyat Juga

Dirilis dari cnnindonesia.com, Jumat (23/2/2017), Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, kehadiran Raja Arab Saudi pada kali ini sangat strategis. Apalagi, sejumlah proyek energi telah dilirik oleh negara tersebut. “Walaupun mungkin jumlahnya tidak besar secara nilai, investasi di sektor energi lebih berkualitas karena multiplier effect,” ujarnya.

Tangga Khusus

Kedatangan Raja Salman juga membawa kargo yang dibawa oleh lebih dari 30 pesawat. Salah satu isi dari kargo tersebut adalah tangga motorized atau eskalator yang biasa digunakan oleh Raja Salman. Pesawat Saudi Arabian (SV 6854) tiba pertama di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta pukul 24.00 WIB, lalu melanjutkan penerbangan ke Bandara Ngurah Rai Denpasar dan tiba pukul 07.00 WITA, khusus untuk mengantarkan tangga tersebut.

Pihak manajemen SV sendiri telah mempercayakan penanganan ground handling sepenuhnya kepada JAS Airport Services. Jenis pesawat rombongan raja Arab Saudi yang ditangani JAS, di antaranya adalah Boeing B747-400, B747 Freighter, B777, B757 dan B737-800.

Baca juga: Upah di Negara Ini Tidak Lebih Dari 23 Ribu, Buktinya Tidak Menjadi Tujuan Investasi

Tidak hanya tangga eskalator, DPR juga dibuat sibuk menyiapkan tangga khusus untuk naik menuju ke Gedung Nusantara.

“Raja Salman punya penyakit di lutut kalau tidak salah, sehingga tidak boleh naik tangga yang ekstrem, makanya tangganya dibikin landai,” kata Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah.

Persiapan Bandara

Penyambutan dan pelayanan akan dilakukan sesuai aturan yang berlaku pada bidang penerbangan untuk tamu negara VVIP, baik di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan Bandara Ngurah Rai, Bali.

“Kami akan menyambut dan melayani rombongan besar tamu negara, Yang Mulia Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi dengan baik sesuai standar dan prosedur operasi yang berlaku di penerbangan untuk tamu VVIP. Kami akan memastikan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan rombongan VVIP tersebut selama di bandara,” ujar Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi, Kamis (23/2/2017).

Baca juga: Sespim IV FSPMI: Membuka Tabir Serbuan Investasi dari China

Budi menuturkan, dengan pelayanan yang baik pada rombongan VVIP tersebut, diharapkan tidak akan mengganggu operasional penerbangan sehari-hari di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan Bandara Ngurah Rai, Bali.

Terkait dengan penyambutan itu, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Udara akan mengeluarkan Notice to Airman (Notam) yang diperlukan untuk peringatan terhadap semua pihak yang terkait penerbangan di dua bandara tersebut.

“Kami akan mengeluarkan notam secepatnya jika ada kegiatan terkait penerbangan VVIP dari Kerajaan Arab Saudi tersebut,” ujar Kepala Bagian Kerja sama dan Humas Ditjen Perhubungan Udara Agoes Soebagio.

Dongkrak Pariwisata

Agenda kunjungan Raja Salman pun tak hanya untuk urusan kenegaraan saja namun sekaligus akan berlibur ke Bali. Kabar tentang liburan Raja Salman ke Bali membuat Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut gembira. Menurutnya, liburan Raja Salman ke Bali sangat positif bagi pariwisata Indonesia, karena akan semakin memperkuat citra pariwisata di Pulau Dewata ataupun Indonesia.

“Raja Arab Saudi bisa menjadi endorser yang istimewa, seorang raja, pemimpin dan panutan negara, orang yang semua perilakunya akan diikuti oleh rakyatnya,” ujar Arief dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Baca juga: Berbagai Kemudahan untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika

Menurut Arief, liburan Raja Salman di Bali pasti akan menjadi perhatian dunia, terutama negara-negara Arab. Apalagi Indonesia memang membidik negara-negara Arab sebagai pasar pariwisata.

“Kehadiran Raja Salman itu sudah pasti akan diliput oleh media internasional, termasuk media di Arab. Ini akan memiliki media value yang tinggi dengan indirect impact yang sangat besar bagi pariwisata Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan, Indonesia punya konsep wisata halal. Pasar terbesar wisata halal adalah Arab dan Timur Tengah.

Dalam setahun, lanjut Arief, jumlah outbound travellers dari Timur Tengah lebih dari 100 juta orang.

Oleh karena itu liburan Raja Salman bersama rombongan yang mencapai 1.500 orang termasuk para pangeran Kerajaan Arab Saudi juga bisa menjadi ajang promosi bagi pariwisata Bali dan daerah lain.

Baca juga: Gaji Tidak di Bayar, Buruh di Saudi Malah Di Hukum Cambuk

“Mereka berpotensi untuk datang kembali ke Bali and beyond. Destinasi wisata halal seperti Lombok, Aceh dan Sumbar bisa berpromosi di Bali,” katanya.

Janji yang Belum Ditepati

Dibalik kemewahan itu, ternyata Raja Salman memiliki janji yang belum terbayar, yakni menyantuni para korban jatuhnya crane yang hingga sekarang masih tak jelas.

Seperti diketahui, alat crane di Masjidil Haram jatuh dan menimpa ratusan jamaah haji. Sebanyak 107 orang meninggal dunia dan 238 orang cidera. Dari jumlah itu, sebanyak 12 jamaah haji asal Indonesia meninggal dan 49 orang luka-luka. Terkait insiden itu, Raja Arab menjanjikan santunan sebesar satu juta riyal atau setara Rp 3,8 miliar untuk korban meninggal dan 500 ribu riyal untuk korban luka-luka. Dia juga menjanjikan memberangkatkan haji gratis bagi keluarga korban. Namun, sudah setahun lebih berlalu janji ini belum juga terlaksana.

Baca juga: PRT Migran, Dianiaya di Negara Lain, Diabaikan di Negeri Sendiri.

Apakah kehadiran Raja Salman nanti akan ada dialog tentang penagihan janji korban crane? Sepertinya tidak. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir atau biasa disapa Tata, menjelaskan komunikasi kedua negara akan fokus pada bidang ekonomi. “Pertemuan ini akan membahas kerja sama antara Indonesia dan Arab Saudi di luar konteks haji dan tenaga kerja seperti kerja sama perdagangan dan investasi,” jelas Tata, saat juma pers di Kemenlu, kemarin.

“Arab Saudi juga melirik kerja sama tidak hanya di bidang energi saja, tetapi juga pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan, penyediaan air bersih dan perumahan,” tambahnya.

Bentuk kerja sama ini yang akan terus dikembangkan kedua negara dan terus menjadi perhatian Indonesia. Selain itu, di kesempatan sama akan lima MoU yang sudah disepakati kedua negara yang akan dipertimbangkan untuk ditandatangani. “Ada lima MoU yakni kerja sama budaya, kesehatan, Islam dan wakaf khususnya dalam rangka promosi Islam moderat melalui dakwah dan pertukaran ulama, pelayanan udara khususnya dalam rangka peningkatan jumlah penerbangan, dan terakhir perjanjian pemberantasan kejahatan. Ada juga MoU lain yang sudah dalam proses finalisasi,” ujarnya.

Baca juga: Bukan Pilihan Yang Kau Kehendaki

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Deding Ishak mengatakan, kunjungan ini sangat bermakna sebagai bukti penghargaan Raja Salman terhadap Presiden Jokowi dan umat Islam indonesia. “Ya kita berharap selain meningkatkan hubungan bilateral di berbagai bidang termasuk realisasi santunan untuk korban crane yang sudah menjadi perhatian dari Raja Salman,” kata Deding.

Pengamat Hukum Internasional dari Unpad, Teuku Rezasyah menyayangkan persoalan konsekuensi korban crane perlu dibahas pada pertemuan nanti. Menurut dia, pemerintah punya tanggung jawab moral untuk menagih utang itu. “Sayang sekali kalau tidak ditagih,” ujar Reza. Sebenarnya, pemerintah dapat menggunakan cara yang baik untuk menagih kewajiban Raja. Tentunya, dengan cara diplomasi halus dengan nada tidak menyudutkan Saudi.

Salah satunya, Kemenag perlu mengajak tokoh-tokoh muslim, seperti dari MUI, atau dari ormas NU dan Muhammadiyah atau tokoh yang dekat dengan pemerintahan Arab. Pemerintah juga perlu menjelaskan bahwa ketiadaan santunan itu berdampak buruk pada keluarga korban. Seperti anak yang terlantar karena tiadanya biaya pendidikan dan lain sebagainya. *

Pos terkait