Ini Strategi Jaga FSPMI dengan Anggota yang Berkurang

Purwakarta, KPonline –  Kemunduran gerakan buruh dalam empat tahun belakangan ini, begitu terlihat jelas. Pola strategi dalam pergerakan serikat buruh mulai kelihatan lemah dalam menghadapi kebijakan penguasa ataupun pengusaha. Salah satunya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Terbaru adalah rencana ‘deregulasi Undang-undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003’.

Dalam kemunduran gerakan buruh, ternyata semakin diperparah dengan berkurangnya jumlah anggota serikat pekerja. Lalu apakah yang harus dilakukan oleh serikat pekerja untuk menguatkan kembali kedua hal tersebut?

Fuad BM selaku Ketua KC FSPMI Purwakarta mengatakan, “Gerakan buruh di serikat pekerja, dalam hal ini FSPMI, harus kembali diperkuat.”

“Setelah sukses dengan go politik dimana Didin Hendrawan bisa masuk menjadi anggota legislatif DPRD Kabupaten Purwakarta, saya akan fokus ke program go ekonomi. Go ekonomi itu sendiri bertujuan, yang salah satunya adalah untuk membantu anggota FSPMI yang ter-PHK,” lanjutnya.

Go ekonomi merupakan salah satu program yang diharapkan bisa menguatkan gerakan buruh di FSPMI. Dengan memberikan pembekalan ilmu wirausaha melalui suatu komunitas, diharapkan mereka mampu menjalani hidup dalam memenuhi kebutuhan keluarga setelah tidak bekerja lagi di pabrik atau ter-PHK.

Program ini diharapkan bisa kembali menguatkan gerakan buruh dan menambah jumlah anggota yang saat ini terus mengalami penurunan.

Menurut Fuad, untuk kembali menguatkan gerakan buruh dan menambah jumlah anggota, kepada para pemimpin di setiap PUK harus memberikan aura positif kepada anggotanya. Jangan memberi aura memecah-belah dan berkelompok, tetapi mulailah untuk kembali bersatu.

“Kemudian dengan menjalankan program-program kerja yang ada di FSPMI secara maksimal dan serius, baik melalui training atau pendidikan. Diharapkan, dengan melakukan hal tersebut, akan bisa menguatkan kembali roda pergerakan organisasi,” katanya.

Keberlangsungan dan kemajuan organisasi akan hadir, bila kita bisa tetap satu komando dan tertib dalam berorganisasi. Jangan ada lagi perdebatan yang tidak penting dan bisa berhujung perpecahan.

Meskipun saat ini semangat perjuangan anggota di dalam pergerakannya sedang memasuki fase kemunduran. Bila kita sebagai pemimpin mampu mengelola dengan baik atas segala permasalahan yang sedang terjadi saat ini di dalam berorganisasi, grafik optimisme perjuangan dalam jiwa anggota akan terlahir dan menjadi kekuatan kembali.