Saat Nh. Dini Menuangkan Realita Kehidupan, Pengalaman Pribadi, dan Kepekaan Pada Lingkungan

Sampul buku 'Namaku Hiroko' karya Nh. Dini

Jakarta, KPonline – Nh. Dini merupakan satu dari sekian penulis yang yang bukunya pernah saya baca. Perkenalan pertama saya dengan karya Nh. Dini adalah ketika saya duduk di bangku SMK, di Blitar.

Ketika hari sudah malam, dari tempat kost saya suka berjalan kaki ke toko buku bekas di dekat Stasiun Blitar. Selain novel penulis legendaris Fredy S, novel Nh. Dini adalah salah satu yang pernah saya beli.

Bacaan Lainnya

Beberapa novel yang ditulis oleh pemilik nama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini memang masuk dalam kategori cerita dewasa. Sebuah cerita, yang, saat usia saya beranjak 17-an tahun mampu membuat nafas saya terasa sesak.

Saya suka caranya menulis cerita. Datar dan detail. Kususnya adegan-adegan yang menyinggung soal seks yang dimunculkan dalam karya-karyanya. Dini tak sungkan mengungkapkan persoalan dan kisah perjalanan hidupnya melalui karya yang ditulisnya.

Sepanjang hidupnya, Nh Dini menulis lebih dari 20 buku. Kebanyakan novelnya bercerita tentang wanita. Tak jarang, tulisannya menjadi semacam protes terhadap laki-laki.

Ketika mengentahui Nh. Dini meninggal karena kecelakaan, saya mencoba mengingat-ingat kembali buku-bukunya yang pernah saya baca. Satu diantaranya adalah ‘Namaku Hiroko’.

Saya sudah lupa bagaimana detail ceritanya. Pagi ini saya iseng mengetik judul buku tersebut di google, dan menemukan satu tanggapan pembaca buku ‘Namaku Hiroko` yang menarik perhatian saya.

Dia mengatakan, Hiroko adalah seorang gadis dari udik di Jepang yang berjuang demi materi dan kesenangan. Bermacam profesi digeluti. Mulai dari pembantu, penjaga toko, sampai penari telanjang pernah dilakoni.

“Kesan saya, Hiroko ini tidak berfikir berat. Enteng-enteng saja, yang penting ada uang dan happy,” tulisnya. Sekalinya berfikir yang lebih dari biasanya hanya saat suami sahabatnya ingin “tidur bersama” seperti pelanggan lain seusai pertunjukan tari melempar baju.

Tangisan sempat terjadi. Tetapi tidak lama. Setelah menangis Hiroko pun bersedia dibawa ke kamar hotel dan langsung memilih kamar yang termahal. Ada beberapa buku Nh Dini yang menurutnya bergaya sama seperti buku ini. Mengalir. Seperti sedang bercerita. Tidak ada emosi yang menukik dan akhir yang datar.

Buku ini tidak bercerita soal moral. Buat Hiroko, kesenangan dan materi cukup membuatnya bahagia. Walaupun diceritakan Hiroko tidak merasa bersalah menjadi simpanan suami sahabatnya, tetapi Hiroko tidak mau lagi bertemu sahabatnya. Menghindar dan galau saat mengetahui temannya itu berusaha bunuh diri dan bertanya-tanya apakah dia penyebabnya.

Menuangkan Realita Kehidupan

Terlepas dari apa yang diceritakan di dalam novelnya, Nh. Dini mengaku hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi, dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam tulisan.

Justru karena karya-karyanya itulah, perempuan yang digelari pengarang sastra feminis ini meraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand.

Setiap orang memiliki kisah heroik. Jejak langkah yang menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan. Jika kisah-kisah seperti itu ditulis dan dipublikasikan, berapa banyak yang akan tercerahkan?

Saya membayangkan, setiap aktivis akan menuliskan gagasannya. Juga pengalamannya. Ini bukan saja menjadi dokumentasi yang berharga bagi masa depan gerakan, tetapi juga bisa menjadi ruang untuk belajar bagi banyak elemen.

Ini bisa dimulai, misalnya, dengan menuliskan sejarah terbentuknya serikat pekerja di perusahaan. Apa saja yang sudah pernah dilakukan, capaian-capaian yang sudah didapatkan, hingga refleksi atas berbagai persoalan.

Kami di Media Perdjoeangan menamai gerakan ini #BicaralahBuruh. Sebuah seruan untuk mengajak sebanyak mungkin orang bersuara guna meluaskan gagasan dan memperkuat bangunan argumentasi. Jika ini dilakukan, saya percaya, akan semakin banyak orang yang memahami sikap dan perjuangan gerakan serikat pekerja.

Nh. Dini memang sudah tiada. Tetapi karya-karyanya akan melegenda.

Kita pun demikian. Tidak selamanya akan hidup di dunia. Kepada generasi yang akan lahir nanti, kita bisa menitipkan semua asa dan cita, melalui karya yang kita hasilkan hari ini.

Pos terkait