Menelusuri Jejak Gerakan Buruh Indonesia: Kisah Para Martir yang Terlupakan

Menelusuri Jejak Gerakan Buruh Indonesia: Kisah Para Martir yang Terlupakan

Purwakarta, KPonline-Selain Marsinah, sejarah gerakan buruh di Indonesia sebenarnya memiliki barisan tokoh yang sangat progresif dan berpengaruh besar dalam meletakkan dasar-dasar hak pekerja yang kita kenal hari ini. Sayangnya, karena dinamika politik masa lalu (terutama pembersihan ideologi kiri pada masa Orde Baru), nama-nama mereka kerap dihapus atau disamarkan dalam buku pelajaran sejarah formal.

Berikut adalah beberapa tokoh buruh Indonesia yang memiliki pengaruh besar namun jarang dibahas:

Bacaan Lainnya

1. Semaoen: Sang Pelopor Pemogokan Buruh Kereta Api

Jika hari ini kita mengenal adanya serikat pekerja yang kuat, Semaoen adalah salah satu peletak batu pertamanya di awal abad ke-20. Di usia yang masih sangat muda (belasan tahun), ia sudah aktif di Vereeniging van Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP), serikat buruh kereta api dan trem yang merupakan salah satu serikat buruh paling modern dan radikal di Hindia Belanda.

• Peran Besar: Pada tahun 1923, Semaoen memimpin salah satu pemogokan buruh kereta api terbesar dalam sejarah kolonial. Pemogokan ini melumpuhkan transportasi ekonomi roda pemerintahan Belanda dan memaksa pemerintah kolonial sadar akan kekuatan kolektif kaum pekerja.

• Mengapa Dilupakan: Peran politiknya sebagai ketua pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) membuat namanya mengalami domestikasi dan penghapusan narasi secara sistematis dalam penulisan sejarah resmi era Orde Baru, meskipun kontribusinya pada murni gerakan buruh sangat masif.

2. SK Trimurti: Pejuang Hak Buruh Perempuan dan Menteri Perburuhan Pertama

Soerastri Karma Trimurti lebih sering dikenal sebagai seorang jurnalis tiga zaman atau istri dari Sayuti Melik (pengetik teks proklamasi). Namun, jarang yang menyoroti bahwa ia adalah salah satu pemikir dan penggerak buruh perempuan paling gigih di Indonesia.

• Peran Besar: Ia ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri Perburuhan pertama Indonesia (1947–1948). Selama masa jabatannya dan aktivitasnya di Barisan Buruh Wanita (BBW), ia meletakkan fondasi hukum perlindungan buruh perempuan, termasuk memperjuangkan hak cuti melahirkan, cuti haid, serta kesamaan upah antara buruh laki-laki dan perempuan—sebuah pemikiran yang sangat maju pada zamannya.

• Mengapa Dilupakan: Narasi sejarah arus utama cenderung lebih menonjolkan perannya di seputar lingkaran proklamasi kemerdekaan daripada sepak terjangnya sebagai aktivis buruh yang radikal dan anti penindasan kelas pekerja.

3. Suryono: Penggerak Buruh Pelabuhan (Vanguard Perlawanan Surabaya)
Bicara tentang pertempuran Surabaya 1945, kita selalu ingat Bung Tomo. Namun, ada tokoh seperti Suryono yang menggerakkan basis massa paling militan di Surabaya: para buruh pelabuhan dan pelaut.

• Peran Besar: Sebelum kemerdekaan, ia memimpin aksi-aksi boikot kapal-kapal milik Belanda dan Sekutu. Gerakan buruh pelabuhan ini berhasil memotong jalur logistik militer penjajah. Buruh di bawah arahannya tidak hanya menuntut upah, tetapi menuntut kedaulatan penuh atas fasilitas-fasilitas ekonomi yang dikuasai asing.

• Mengapa Dilupakan: Gerakan buruh pelabuhan pra dan pasca-kemerdekaan sering kali dilebur begitu saja ke dalam narasi besar “perjuangan tentara/militer”, sehingga peran spesifik organisasi buruh sektoral sebagai motor penggerak revolusi menjadi kabur.

• 4. Muchtar Pakpahan: Tokoh Buruh Pemberani Era Orde Baru

Jika Marsinah bergerak di akar rumput pabrik, Muchtar Pakpahan adalah tokoh yang menantang monopoli negara atas organisasi buruh di tingkat nasional pada era Orde Baru.

• Peran Besar: Pada tahun 1992, ia mendirikan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Ini adalah tindakan yang sangat berani karena pada masa itu pemerintah hanya mengakui satu serikat buruh resmi (SPSI) yang dikontrol negara. Akibat aktivitasnya membela hak-hak buruh dan memimpin mogok massal, Muchtar berulang kali dijebloskan ke penjara dan menghadapi tuntutan mati atas tuduhan subversi.

• Mengapa Dilupakan: Meskipun dihormati di kalangan aktivis HAM dan perburuhan internasional, namanya jarang masuk ke dalam buku teks sejarah sekolah yang biasanya selesai membahas sejarah buruh pada masa awal kemerdekaan atau langsung melompat ke reformasi 1998 tanpa mendetailkan aktor-aktor penyusun kekuatannya.

Pos terkait