Mendengar Cerita Obon Tabroni: Mimpi-mimpi Dibalik Berdirinya Omah Buruh (7)

  • Whatsapp
Foto: Obon Tabroni

Bekasi, KPonline – Barangkali buruh Bekasi dan sekitarnya sudah tidak asing lagi dengan Omah Buruh, dengan Buruh Bekasi Bergerak-nya. Fenomena ini sempat mendunia. Pergerakan buruh yang kuat dan ditopang dengan informasi yang bebas terbuka. Sebuah khasanah perburuhan yang mengemuka sejak tahun 2010.

Begitu banyak pelaku sejarah yang hadir dalam sebuah rumah yang memiliki jendela dan pintu yang sangat terbuka. Mereka datang dari berbagai penjuru, menghangatkan rumah ini. Melebihi keluarga besar.

Berita Lainnya

Disini lahir impian, pemikiran, dan sikap yang terwujud dalam tindakan yang mengarah pada terciptanya kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan adil.

Adalah sebuah tempat diatas jembatan buntung, yang kemudian diberi nama Omah Buruh. Kelak tempat ini menjadi kawah candra dimukanya para buruh dalam serikat pekerja, solidaritas, ataupun kepemimpinan.

Beragam cerita yang lahir dari Omah Buruh. Tentunya menjadi milik siapapun yang pernah berpijak dan merasa memilikinya baik dari sisi pemikiran maupun sikap pergerakan yang timbul, selepas dari Omah Buruh. Berikut ini sedikit bagian dari pandangan singkat mengenai Omah Buruh dari beberapa kawan aktivis buruh yang pernah mengisi dan menorehkan sejarah.

Cerita ini disampaikan Obon Tabroni, yang saat itu sebagai ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (KC FSPMI) Bekasi.

Obon bercerita, latar belakang berdirinya Omah Buruh diawali dari permasalahan pekerja di PT. KYMCO MOTOR dan di PT. KANEFUSA. Pasang surut atas permasalahan tersebut, membuatnya berfikir untuk sering berkumpul. Mereka kemudian mencari tempat di seputar kawasan.

Setelah berkeliling, kami menemukan tempat yang cocok dan strategis, yang mudah dijangkau oleh para buruh ataupun masyarakat. Ya diatas jembatan buntung diawal tahun 2010 yang dibawahnya ada jembatan penyeberangan motor (eretan). Sebuah tempat yang mudah diakses dan dilintasi untuk sekedar diskusi dengan waktu yang tidak terbatas, konsolidasi, ataupun tempat untuk merenung, berfikir dan bermimpi.

Konsep awalnya kami ingin membentuk Rumah Rakyat, untuk menampung masalah – masalah yang ada di masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, hukum,perburuhan, dan lain – lain. Inspirasi ini muncul dari ide Omah Tani yang ada di Batang, Jawa Tengah. Namun seiring dengan berjalannya waktu, karena tempat tersebut sering di akses kawan-kawan buruh maka tempat tersebut banyak menampung permasalahan perburuhan.

Kantor Pimpinan Cabang waktu itu masih kecil dan sempit, sehingga kami manfaatkan tempat tersebut untuk mendukung perjuangan buruh. Awalnya Omah Buruh ini tidak hanya tempat untuk buruh yang bergabung di FSPMI, buruh buruh lainpun dipersilakan memanfaatkan tempat tersebut. Namun karena yang datang dan mengisi Omah Buruh ini lebih dominan dari kawan – kawan FSPMI maka berkembang seolah – olah menjadi basecamp FSPMI.

Dari Omah Buruh gerakan “Grebek Pabrik” bermula, dari sinilah satu pandangan berkumpul dan bergerak dengan massa yang cukup luar biasa menuju pabrik –pabrik yang bermasalah dengan buruh –buruhnya dalam hal ketenagakerjaan.

Sistim kerja outsourcing, harian, dan kontrak kerja yang melanggar undang –undang, yang merugikan kaum buruh. Melalui mekanisme Grebek Pabrik massa solidaritas buruh mengadakan penekanan yang kuat kepada Pengusaha –pengusaha yang melanggar aturan ketenagakerjaan.

Fantastis hasil Grebek Pabrik ini, lebih dari 50.000 (limapuluh ribu) buruh diangkat menjadi pegawai tetap. Dari Grebek Pabrik jelas ada pola yang terbentuk atas organisasi buruh yang terorganisir, solidaritas yang besar, dan semangat perlawanan yang menggelora di kawan –kawan buruh Bekasi, hingga kekuatan buruh mulai menanjak tinggi sampai menuju era “Mogok Nasional”.

Omah Buruh menjadi basis penting saat akan dilakukan pemogokan – pemogokan buruh hingga berskala nasional. Omah Buruh menjadi titik informasi, konsolidasi, pemetaan dan persiapan mogok nasional sampai menuju kesuksesannya ditahun 2012. Ditengah maraknya aksi buruh, kolaborasi antara pengusaha nakal, aparat –aparat pemerintah yang terbeli dan pribadi ataupun kelompok –kelompok yang berkepentingan atas kesempatan untuk meraup keuntungan, intimidasi, vandalisme ataupun penganiayaan dan kekerasan terhadap buruh berulang – ulang terjadi, hal ini sebagai bentuk perlawanan pengusaha atas tekanan ataupun aksi dari para buruh.

Demikian halnya dengan keberadaan Omah Buruh menjadi ancaman bagi para pengusaha dan bagi pihak – pihak yang tidak menginginkan buruh menjadi kekuatan pergerakan yang mengancam dan menjadi momok atas perilaku jahat para pengusaha hitam. Hingga mereka menebarkan terror, premanisme, dan pengerahan etnis –etnis tertentu yang sengaja dibayar dan dibenturkan dengan kekuatan buruh melalui perusakan dan penganiayaan terhadap buruh untuk melemahkannya.

Bahkan aksi premanisme menjadi marak dan mengarah ke Omah Buruh sampai penggunaan aparatur desa yang dibayar untuk memberangus keberadaan Omah Buruh. Lebih dari itu, suatu ketika Omah Buruh menjadi benteng terakhir atas aksi pengepungan yang dilakukan oleh para preman bayaran, sampai ketegangan terjadi berhari –hari, yang memunculkan semangat heroisme dikalangan buruh untuk bangkit melawan hingga para preman lari tunggang langgang.

Ada yang menarik saat saya memanfaatkan moment – moment di Omah Buruh, berdialog dan berdiskusi dengan kawan – kawan buruh, mencoba mengerti, berbagi, berfikir dan berstrategi. Banyak impian – impian saya lahir di Omah Buruh, dan sebagian besar mimpi – mimpi itu sudah menjadi kenyataan.

Saya sering di cemooh atas impian – impian itu sampai saya dijuluki “sang pemimpi”. Namun saya tidak peduli dengan semua itu, yang saya pedulikan adalah bagaimana strategi saya untuk mewujudkan impian – impian menyejahterakan buruh.

Dari strategi KHL (Komponen Hidup Layak), upah sektoral, melawan patron – patron yang merugikan buruh Bekasi (upah buruh Bekasi tidak boleh lebih tinggi dari upah buruh DKI), dan Alhamdulillah sebagian besar sudah dinikmati oleh kaum buruh Bekasi. Upah Bekasi bisa lebih tinggi dari DKI, dan upah sektoral sudah berjalan lancar.

Tentunya hal ini bisa tercapai berkat dukungan, bantuan, kerjasama, dan solidaritas buruh Bekasi yang solid. Dan mimpi yang saat ini saya nikmati dan saya upayakan kemenangannya adalah membawa buruh pergi berpolitik (Go Politic). Mimpi ini adalah dari hasil situasi obyektif, dimana situasi perubahan management para pengusaha terhadap aksi buruh. Perubahan inipun mencolok baik dari sisi buruh maupun perkembangan Omah Buruh itu sendiri.

Pembangunan jembatan lintas kawasan yang sudah hampir menyentuh Omah Buruh, membuat kami ingin berencana merelokasi Omah Buruh kedepannya. Sebenarnya ada target pendukung perihal Omah Buruh yaitu menjadikan Omah Buruh sebagai “Pusat Ekonomi Buruh.” Hal ini didasari pertimbangan – pertimbangan menuju solusi yang dimungkinkan atas kawan – kawan yang terkena PHK, seperti membuka bengkel, las, bubut, pertukangan dan lain – lain., dengan memanfaatkan keahlian kawan – kawan buruh. Saat ini di Omah Buruh sudah aktif kegiatan pekerjaan pertukangan, seperti membuat mebel (rak, meja, kursi, almari, dan lain – lain), dan produknya sudah banyak yang memesan dan terjual.

Omah Buruh merupakan simbol perlawanan atas keadaan yang tidak berpihak kepada buruh, bukan tempatnya yang dikedepankan, tetapi semangat untuk berkumpulnya yang harus tetap hidup. Omah Buruh boleh dikubur atau dialih fungsikan, tetapi semangat berkumpul kawan- kawan harus tetap terjaga dan meningkat, semangat juang dari Omah Buruh tidak boleh hilang.

Lakukanlah dari “nothing menjadi somethings.

Jangan takut “bermimpi” untuk kesejahteraan buruh.

Jangan diam! Teruslah bergerak karena tantangan masih banyak! Janganlah kawan-kawan tercerai-berai. Kompak dan solidlah!

Bekasi, Tahun 2014
Saiful Nanbu lahir di Rembang pada tanggal 7 Mei 1979. Saat tulisan ini dibuat, penulis aktif di PUK SPAMK FSPMI PT. NANBU P.I.

Tulisan lain terkait Omah Buruh:

Omah Buruh: Kesetiaan yang Tak Tergantikan (1)

Omah Buruh: Intimidasi Itu Nyata di Depan Mata (2)

Omah Buruh: Tempat Kami Menyatukan Hati (3)

Omah Buruh: Saat Mereka Membutuhkan Bantuan (4)

Omah Buruh: Ada Cinta dan Gairah yang Bergelora (5)

Beginilah Awal Mula Berdirinya Omah Buruh (6)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar