Mahasiswa Ekonomi Pembangunan UNEJ Lakukan Wawancara dengan KC FSPMI Jember Bahas Isu Upah Pekerja

Mahasiswa Ekonomi Pembangunan UNEJ Lakukan Wawancara dengan KC FSPMI Jember Bahas Isu Upah Pekerja

Jember, KPonline – Selasa (2/6/2026) Kantor Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (KC FSPMI) Jember menerima kunjungan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Jember (UNEJ) dalam rangka pelaksanaan tugas mata kuliah Analisis Sumber Daya Manusia (SDM).

 

Bacaan Lainnya

Kunjungan tersebut dilakukan oleh sekelompok mahasiswa yang dipimpin oleh Shohibatul Hasanah untuk melakukan wawancara dan pengumpulan data terkait isu pengupahan tenaga kerja. KC FSPMI Jember dipilih sebagai narasumber karena dinilai memiliki peran strategis dalam mengawal kebijakan ketenagakerjaan, khususnya terkait upah pekerja di Kabupaten Jember.

 

Dalam kesempatan tersebut, Ketua KC FSPMI Jember, Nofi Cahyo Hariyadi, memberikan pemaparan mengenai peran serikat pekerja dalam mengawal kebijakan pengupahan yang ditetapkan pemerintah daerah.

 

Menurut Nofi, FSPMI secara konsisten mengawasi dan mengawal kebijakan upah yang ditetapkan pemerintah kabupaten/kota agar tetap sesuai dengan kondisi riil yang dihadapi para pekerja. Ia menjelaskan bahwa terdapat beberapa aspek yang harus menjadi perhatian dalam penetapan upah, antara lain:

 

1. Kondisi pekerja lajang.

2. Kondisi pekerja yang telah berumah tangga.

3. Kesesuaian upah yang direkomendasikan pemerintah daerah dengan kebutuhan hidup layak (KHL) bagi keluarga pekerja di wilayah kabupaten/kota.

 

“FSPMI selalu mengawal kebijakan pengupahan agar tidak hanya menjadi angka administratif, tetapi benar-benar mampu memenuhi kebutuhan hidup layak para pekerja dan keluarganya,” jelas Nofi.

 

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peran serikat pekerja sangat penting dalam proses pengawasan kebijakan pengupahan. Tanpa adanya pengawalan dari serikat pekerja, kebutuhan hidup layak masyarakat pekerja berpotensi tidak terpenuhi secara optimal.

 

“Kondisi tersebut dapat berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat, meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran, serta memunculkan persoalan sosial lainnya, termasuk risiko stunting pada anak-anak dari keluarga pekerja,” tambahnya.

 

Melalui kegiatan wawancara ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika kebijakan pengupahan, peran serikat pekerja dalam memperjuangkan kesejahteraan buruh, serta dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan dari kebijakan upah di tingkat daerah.

 

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan interaktif. Para mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi secara langsung mengenai berbagai persoalan ketenagakerjaan yang berkembang saat ini, khususnya terkait upaya mewujudkan kesejahteraan pekerja melalui kebijakan upah yang berkeadilan.

Pos terkait