Lebaran di Kampung, Membandingkan Nasib?

Batam,KPonline – Bagi sebagian orang Lebaran di kampung bisa jadi lebih ramai daripada berlebaran di kota kota besar. Di kampung saat di mana seluruh keluarga besar datang, kawan-kawan SD, SMP, SMA mampir.

Tentu ada yang rindu, tentu ada yang ingin tulus bertemu dengan kita karena sekian tahun tak jumpa. Namun, beberapa dari mereka ingin bertemu karena ingin membandingkan kesuksesan, membandingkan nasib, atau bahkan menertawakan kesialan orang lain.

Pun mereka yang pulang terkadang ingin menunjukan bahwa mereka telah satu derajat lebih kota daripada mereka yang memutuskan tinggal di kampung halaman.

Bahwa kota telah membuat mereka menjadi modern, maju, dan bermartabat. Seolah-olah tinggal di kampung halaman zaman akan berhenti, pemikiran mandeg, dan informasi tersendat. Kepongahan yang kerap hinggap di beberapa orang kota yang kena tempeleng gaya hidup urban kekinian.

Dan kota juga telah kehilangan beban ketika lebaran tiba. Gedung-gedung perkantoran menjadi lengang, pasar sepi, dan tiba-tiba kita menjadi jatuh cinta pada kota ini. Kota yang membuatmu berharap agar kelengangan dan kesepian ini abadi. Pembangunan dihentikan dan pohon-pohon menjadi rimbun.

Tapi tentu saja ini mustahil. Kota adalah kerakusan itu sendiri. Kota ini menggusur penduduk aslinya hingga ke perbatasan, ke tepi lautan menghilangkan identitasnya untuk kemudian dipaksa terpuruk karena tidak mampu bersaing dengan para pendatang.

Sudah bertahun tahun saya tidak pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Saya memutuskan tinggal bukan karena tidak rindu ibu dan keluarga, atau tidak ingin bertemu teman-teman. Tapi karena keadaan,  entah sampai kapan.