Drama Tender PT Semen Indonesia: Pekerja Tumbang, Kepastian Tak Kunjung Datang

Foto: Situasi Di depan pintu masuk Pos 3 PT Semen Indonesia pada malam hari, Perwakilan anggota all PUK SPAI FSPMI membersamai perjuangan kawan-kawan Sektor Scaffolding dalam satu barisan solidaritas.

 

Tuban, KPonline – Seorang pejuang nafkah keluarga harus menjalani perawatan medis setelah berhari-hari bertahan di pintu masuk Pos 3 PT Semen Indonesia Pabrik Tuban, pada 6 Mei 2026. Kondisi tersebut diduga dipicu oleh kelelahan serta tekanan fisik akibat menunggu kejelasan proses tender yang hingga kini belum juga terselesaikan.

Bacaan Lainnya

 

Peristiwa ini bukan yang pertama. Keterlambatan tender disebut telah berulang kali terjadi dan secara langsung berdampak pada para pekerja yang menggantungkan hidup pada roda operasional perusahaan. Ketika proses administratif macet, dampaknya menjalar menjadi krisis sosial bagi mereka yang berada di lapisan paling rentan.

 

Ironisnya, di tengah statusnya sebagai perusahaan BUMN, persoalan mendasar seperti kepastian kerja justru belum mampu dijamin. Proses tender yang seharusnya menjadi mekanisme profesional dan transparan, kini dipersepsikan sebagai sumber ketidakpastian yang terus berulang.

 

Situasi ini menempatkan manajemen, khususnya Bagian Pengadaan Barang & Jasa, dalam sorotan tajam. Evaluasi tidak lagi cukup bersifat administratif, melainkan harus menyentuh aspek akuntabilitas, transparansi, hingga dampak kemanusiaan yang ditimbulkan.

 

Berlarutnya persoalan ini bukan hanya mengganggu ritme pekerjaan, tetapi juga menggerus ketahanan ekonomi pekerja. Mereka dipaksa bertahan dalam ketidakjelasan, menghadapi tekanan finansial, serta risiko kesehatan yang semakin nyata, sebagaimana yang kini dialami Ferdi.

 

 

Ferdian Bayu Saputra, salah satu pekerja yang terdampak PHK akibat molornya proses tender, saat ini tengah menjalani perawatan medis. Kondisinya menjadi simbol nyata dari konsekuensi yang selama ini kerap luput dari perhatian.

 

“Semoga Ferdi segera diberikan kesembuhan dan bisa kembali berkumpul berjuang di barisan bersama teman-teman,” ujar Bandi, rekan sesama pekerja.

 

Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm keras, bukan hanya bagi manajemen PT Semen Indonesia, tetapi juga bagi seluruh pemangku kepentingan di lingkungan BUMN. Tanpa pembenahan serius, keterlambatan tender tidak hanya akan terus berulang, tetapi berpotensi melahirkan korban-korban baru.

 

Pertanyaan yang kini menggantung bukan lagi soal kapan tender selesai, tetapi: berapa banyak lagi pekerja yang harus tumbang sebelum tanggung jawab benar-benar dijalankan?

Pos terkait