Ketika Aku Jatuh Cinta pada Jamkeswatch

Bogor, KPonline – Namaku Robby Cahyadi. Aku lahir dan besar di Desa Cikeas, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Aku akan bercerita tentang bagaimana situasi dan kondisi di desaku. Tentang kesehatan, tentang Jamkeswatch, tentang kesedihan masyarakat disekitarku jika sakit menerpa keluarganya. Ini tentang aku dan Jamkeswatch, karena aku adalah Relawan Jamkeswatch.

Tidak sedikit masyarakat di desaku yang setiap kali sakit dan berobat, sampai harus menjual tanah. Bahkan tidak sedikit yang sampai harus menjual tempat tinggalnya. Kehilangan tanah dan tempat tinggal, adalah mimpi buruk bagi semua orang. Pun begitu dengan apa yang aku alami.

Bacaan Lainnya

Lalu bagaimana dengan masyarakat miskin yang tidak mempunyai apa-apa? Tidak memiliki tanah, tidak mempunyai tempat tinggal? Bagaimana dengan masyarakat miskin yang harus tinggal di kontrakan petak, dan berdesak-desakan sebuah keluarga dalam rumah kontrakan petak?

Bukankah dalam Undang-Undang Fasar 1945 pasal 28H ayat 1,2, dan 3 serta pasal 34 ayat 1,2, dan 3, yang mana dalam UUD tersebut menjelaskan bahwa, setiap orang berhak hidup sejahtera dan mendapatkan pelayanan kesehatan, mendapatkan kemudahan dan perlakuan yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan? Setiap orang berhak atas jaminan sosial, termasuk fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara?

Telah sama-sama kita ketahui, bahwa pemerintah memberlakukan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan BPJS Kesehatan secara bertahap mulai 1 Januari 2014. Rencana ini ditegaskan didalam UU No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU No. 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Apakah dari 1 Januari tahun 2014 seluruh masyarakat sudah terjamin oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)?

Ternyata tidak. Tidak semua lapisan masyarakat mengetahui apa itu BPJS dan bahkan masyarakat yang mendapatkan kartu BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) pun masih banyak yang tidak tahu bagaimana fungsinya, bagaimana cara menggunakannya. Begitupun dengan pelayanan medis tingkat pertama dan tinggkat lanjut. Masih banyak masyarakat yang merasa ada kecemburuan sosial terhadap pasien umum. Mereka, pasien BPJS Kesehatan merasa di anak tirikan. Dan itu yang terjadi, dan aku menyaksikan sendiri, betapa ada perbedaan pelayanan antara pasien umum dengan pasien pengguna BPJS Kesehatan. Terlebih-lebih kepada pasien BPJS Kesehatan PBI.

Apakah pemerintah membuat UU mengenai SJSN dan BPJS hanya untuk mengugurkan kewajibannya, guna untuk melaksanakan UUD 1945 Pasal 28 dan Pasal 34? Apakah seperti itu?

Pada 2016 yang lalu, aku berkenalan dengan kawan-kawan Relawan Jamkeswatch Bogor Regional 1. Sedikit banyak kumulai mencari tahu fungsi dan tujuan Jamkeswatch dan bagaimana cara kerja Relawan Jamkeswatch. Setelah mulai memahami apa itu Jamkeswatch, apa dan bagaimana Jamkesewtch, kenapa harus Relawan Jamkeswatch yang turun tangan. Hingga pada akhirnya kumulai jatuh cinta. Aku jatuh cinta pada Jamkeswatch.

Maka sejak saat itu, aku dengan sadar dan ikhlas akan membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Aku mendaftarkan diri sebagai relawan Jamkeswatch Bogor.

Visi dan misi yang aku bawa sebagai masyarakat umum yang mendaftarkan diri sebagai Relawan Jamkeswatch yaitu, aku berharap program Jaminan Kesehatan Nasional dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pengawasan dan perlindungan terhadap masyarakat, guna untuk mendapatkan hak yang sama dan adil dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Aku berharap kedepannya, semakin banyak Relawan Jamkeswatch yang berasal dari masyarakat umum. Agar mempermudah masyarakat mengetahui manfaat Jaminan Kesehatan Nasional-BPJS Kesehatan. Dan aku berharap Jamkeswatch mempunyai peran dalam pembuatan aturan-aturan BPJS Kesehatan yang baru.

Aku Relawan Jamkeswatch. Sehat Hak Rakyat

Pos terkait