Kerja di Suzuki Gaji Gede Kok Masih Aksi. Apa Lagi yang Kamu Cari?

Jakarta, KPonline – Ini jenis pertanyaan yang sama ketika kaum ngehek itu nyinyir dengan aksi buruh. Demo nuntut upah layak kok sambil naik ninja?

Lho, emangnya kalau nuntut upah layak harus berpakaian compang-camping sambil ngesot? Saya kasih tahu ya, sebagian yang ikut aksi tidak lagi menggunakan ninja. Tapi mobil pribadi.

Mereka ikut aksi karena sadar, bahwa sebagai makhluk sosial, solidaritas adalah kewajiban. Tuntutan menolak pemagangan juga disuarakan oleh karyawan tetap. Tuntutan menolak PHK didengungkan oleh yang masih bekerja. Pun demikian dengan tuntutan menolak upah murah, juga disuarakan oleh buruh yang penghasilannya sudah relatif baik.

Ketika buruh di PT Suzuki melakukan aksi, ada juga yang nyinyir. Lagi-lagi mereka mengatakan: Sudah enak-enak kerja dengan gaji gede bukannya disyukuri malah melakukan aksi. Lihat noh buruh pabrik krupuk yang bayarannya “yen”. Yen ono dibayar, yen ora ono yo ora dibayar.

Emang hanya buruh yang gajinya kecil dan belum terpenuhi standart normatif saja yang boleh melakukan aksi?

Bagi mereka yang tidak memahami perjuangan kaum buruh, memang sulit untuk mengerti arti sebuah aksi. Sesulit memahami mengapa seseorang bisa jatuh cinta hanya dengan pandangan pertama.

Berbicara mengenai cinta, seperti itulah aksi di Suzuki dilakukan. Kecintaannya pada perusahaan, mendorong mereka untuk turun ke jalan. Mereka tidak ingin oknum yang diduga telah merugikan perusahaan tetap dipertahankan.

Jika kita cermati, apa yang menjadi tuntutan dalam aksi mereka juga sesuatu yang positif. Dalam artian, akan berdampak baik bagi perusahaan disamping tentunya baik untuk karyawan.

Inilah yang disebut sebagai peduli. Justru disaat banyak orang hanya mementingkan diri sendiri.

Jadi kalau ada yang bertanya, mengapa buruh Suzuki melakukan aksi? Karena mereka cinta dengan dengan masa depan perusahaan tempatnya bekerja. Mereka peduli dan tak ingin berdiam diri.

Facebook Comments