Kenangan Di Omah Buruh Jembatan Buntung

  • Whatsapp

Subang, KPonline – Saat itu tanggal 15 Desember 2015. Saya menyempatkan diri untuk datang ke Omah Buruh yang sangat fenomenal itu. Terletak di jembatan buntung, penghubung antara kawasan EJIP dengan Kawasan MM2100. Saat itu, saya belum menjadi anggota FSPMI. Namun demikian, saya sangat terinspirasi tentang Omah Buruh. Memendam mimpi untuk datang, yang kemudian mimpi itu menjadi kenyataan, di pertengahan bulan Desember dua tahun yang lalu.

Dipandu oleh Bang Andya via inbox, akhirnya saya sampai di Omah Buruh. Saya berkenalan dengan berapa penghuninya yang kebetulan sedang stanby di Omah Buruh. Ada Bang Wowo, Bang Sai Kalijaya, dan beberapa orang lainnya yang saya lupa namanya.

Bacaan Lainnya

Wowo menceritakan asal muasal Omah Buruh dan momen-momen bersejarah yang terjadi di Omah Buruh. Mulai dari terjadinya konsolidasi akbar buruh EJIP, dikepung LSM/ORMAS, dan cerita-cerita heroik lainnya.

Hari itu saya merasa sangat beruntung. Bisa mendengar kisah-kisahnya langsung dari para pelaku sejarahnya.

Meskipun saya tidak mengalami saat-saat seperti yang dikisahkan oleh Bang Wowo, tetapi saya dapat merasakan aura perlawanan yang terjadi di dalam setiap aktivitas buruh di sini. .Sempet merinding juga ketika diceritakan, bahwa ada penghuni ghoib selain kawan-kawan buruh yang biasanya stanby di situ.

Akhir tahun 2016, tepatnya tanggal 6 Desember 2016, saya berkesempatan kembali berkunjung ke Omah Buruh. Saat itu dalam rangkaian kegiatan SESPIM ANGKATAN IV FSPMI. Sebelumnya, pada tanggal 1 Mei 2016, saya resmi bergabung menjadi anggota FSPMI Kabupaten Subang), dan diberi kesempatan untuk menjadi salah satu peserta SESPIM FSPMI.

Bersama-sama  dengan para peserta lainnya yang datang dari perwakilan FSPMI seluruh Indonesia, kami berkesempatan berdiskusi dengan Bang Edoy, penanggung jawab Omah Buruh.

Kebanyakan dari peserta menanyakan keberlangsungan keberadaan Omah Buruh,yang sempat beberapa kali ada isu bahwa akan segera dibongkar/dikosongkan atas permintaan Pemda Bekasi. Bang Edoy saat itu hanya berseloroh, bahwa “sampai detik ini Omah Buruh masih ada, dan berharap akan tetap ada”.

Entah rasa seperti apa yang saat ini saya rasakan, manakala mendapat kabar lagi,untuk kesekiankalinya Omah Buruh harus benar-benar di bongkar. Akankah hilang sejarah tentang bangkitnya perlawanan dari Buruh Bekasi? Akan musnahkah semangat perlawanan itu, jika Omah Buruh  benar-benar dibongkar?

Semoga saja saya punya kesempatan terakhir berkunjung ke sana,sebelum Omah Buruh jadi dibongkar.

Subang, 31 Agustus 2017

Penulis : Esti Setyorini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *