Duka Pahlawan Devisa (Kapal Pengangkut 93 TKI Tenggelam di Batam)

  • Whatsapp

Batam, KPonline – Matahari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya. Rintik hujan di pagi hari, seolah memberi pesan sedih kepada penduduk Batam. Mungkin juga Indonesia. Handphone yang sedang di chargepun bergetar dan terus bergetar seakan memberi kabar yang beruntun. Beberapa pesan dari group WA dan broadcast mengabarkan berita yang sama: Sebuah kapal yang mengangkut 93 Pahlawan Devisa tenggelam di perairan Teluk Mata Ikan Nongsa Batam. Beberapa ditemukan meninggal dunia, sementara puluhan orang masih belum diketemukan.

Darah ini langsung mendidih dan tenggorokan menjadi kelu begitu melihat gambar para korban yang ketakutan dan yang telah merenggang nyawa.

Bacaan Lainnya

Menurut salah seorang TKI yang selamat, mereka berangkat dari pelabuhan Sei Deli Johor sekitar pukul  03.00 wib waktu setempat. Kemudian sekitar pukul 05.30 wib sampai di perairan Nongsa dan mereka disuruh turun oleh tekong kapal. Namun tak berapa lama tiba-tiba kapal menabrak sesuatu dan langsung oleng.

Terbayang bagaimana anak dan istri dan mungkin orangtua mereka para korban  yang telah menunggu dengan perasaan riang setelah sekian tahun tak berjumpa demi mengais ringgit demi ringgit di negeri jiran. Coba bayangkan betapa hancurnya hati mereka. Belum lagi harapan akan segera lunasnya hutang mereka pada rentenir demi bisa berangkat bekerja di Malaysia, kini pupuslah sudah.

Mereka para Pejuang Devisa terusir di negerinya sendiri karena Pemerintah tak mampu menyediakan lapangan pekerjaan. Mereka terusir di negerinya sendiri di tengah gempuran pekerja-pekerja asing yang membanjiri negeri gemah ripah loh jinawi ini. Mereka terusir demi si buah hati dan mimpi-mimpinya.

Mengapa tragedi seperti ini sering terjadi ? Padahal berita-berita tersebut sering menghiasi media di Indonesia. Apakah tidak ada solusi? TKI itu juga manusia dan TKI bukan warga kelas kedua.

Mereka pergi mencari nafkah di negeri jiran karena susahnya pekerjaan di kampung halamannya. Di Malaysia pekerjaan yang mereka inginkan pun hanya sebagai seorang buruh bangunan.

Sesampainya di Malaysia, mereka bukannya tambah senang. Berbagai persoalan akan mereka hadapi di negeri jiran ini. Tentu kita sangat hafal dengan isu kekerasan dari majikan, gaji yang tidak dibayar, penangkapan oleh pihak berwenang setempat, penipuan oleh oknum tidak bertanggung jawab dan masih banyak lagi. Meski berbagai persoalan siap menanti mereka, tak sedikit juga dari para TKI ini yang membawa serta keluarga serta anak-anaknya  untuk berpindah ke negera tempat mereka bekerja.

Status ilegal para pahlawan devisa ini juga menjadi santapan empuk bagi pengusaha Malaysia. Mereka tidak perlu membayar pajak yang dikenakan akibat mempekerjakan pekerja imigran secara legal. Mereka juga bisa menekan pemberian upah di bawah standard.

Di negaranya sendiri, Indonesia, proses birokrasi pengurusan izin bekerja ke luar negeri masih menjadi biaya tinggi dan rumit minta ampun. Para calon TKI juga harus menanggung biaya besar, pungli maupun lainnya. Akibatnya, tidak sedikit TKI nekad bekerja tanpa dokumen. Jadi, lengkap sudah penderitaan para pahlawan devisa ini, di Indonesia maupun di Malaysia. Mereka di peras sana-sini, tidak tampak keseriusan negara pada situasi saat ini.

Sementara, pemerintahan Jokowi lebih memilih untuk mengimpor buruh-buruh kasar dari China untuk pekerjaan yang bisa di lakukan oleh rakyatnya sendiri yang tersingkir dan menjadi bulan-bulanan di negeri orang. (*)

Gambar: Tribunnews

Pos terkait