Surabaya ,KPonline – Satu Mei tentunya menjadi momentum yang sangat dinanti-nantikan bagi Pekerja khususnya bagi mereka yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Dunia mengenal dengan sebutan May Day, dimana bukan merupakan hari libur semata tetapi sebagai pengingat akan sejarah lahirnya Hari Buruh Sedunia.
FSPMI Jawa Timur hari ini (16/04/2026) dalam memaksimalkan apa yang dituntut untuk kesejahteraan Pekerja, melakukan aksi Pra May Day. Tujuan aksi demontrasi ditujukan di Kantor Gubernur Jawa Timur, Jl. Alun-alun Contong Surabaya.
Di Surabaya sendiri, semangat buruh tetap tinggi meski cuaca panas menyengat. Hal ini terlihat dari antusiasme buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Surabaya yang tetap solid mengikuti rangkaian aksi.
Massa mulai berkumpul sejak pukul 11.00 WIB di Frontage Jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan Masjid Baitul Haq Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Sambil menunggu kedatangan peserta dari berbagai daerah, yakni: Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Jember, Lumajang hingga Banyuwangi, suasana di lokasi justru terasa hangat dan penuh keakraban.
Selain sebagai momentum aksi, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi antar anggota. Para buruh dari berbagai Pimpinan Unit Kerja (PUK) dari Serikat Pekerja Aneka saling berinteraksi, berbincang santai, hingga mempererat solidaritas. Nuansa kebersamaan tersebut membuat suasana aksi tetap cair dan penuh semangat.
Sedangkan aksi buruh dari Serikat Pekerja Aneka Industri Surabaya (SPAI) dipimpin oleh Slamet Rahardjo selaku Ketua Pimpinan Cabang SPAI Surabaya, yang turut dihadiri perwakilan PUK dari berbagai perusahaan. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya konsolidasi di tingkat basis sebagai kekuatan utama perjuangan buruh.
Menurutnya, pemahaman tentang arti perjuangan perlu terus ditanamkan kepada anggota. Ia menegaskan bahwa tanpa perjuangan, tuntutan buruh berpotensi diabaikan. Penyampaian aspirasi melalui aksi di ruang publik dinilai sebagai salah satu strategi agar suara buruh dapat didengar oleh para pengambil kebijakan.
Ia juga menambahkan bahwa setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan dan kekompakan. Oleh karena itu, solidaritas antaranggota menjadi kunci utama dalam mendorong perubahan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pra-May Day merupakan bagian dari strategi FSPMI untuk terus mengawal tuntutan yang belum terealisasi sekaligus menyuarakan agenda perjuangan ke depan. Dengan demikian, setelah May Day, buruh dapat lebih fokus mengawal hasil dari tuntutan yang telah disampaikan.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan internal, salah satunya adalah rendahnya kesadaran sebagian anggota dalam memaknai perjuangan. Masih ada buruh yang cenderung menggantungkan harapan pada perjuangan orang lain tanpa terlibat langsung.
Ke depan, FSPMI berharap seluruh aspirasi yang disampaikan dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah. Setidaknya, buruh menginginkan adanya solusi konkret dari para pemangku kebijakan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pekerja.
Aksi ini tidak hanya menjadi sarana penyampaian tuntutan, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas dan menjaga semangat kolektif gerakan buruh agar tetap hidup dan berkelanjutan.
(Natalia – kontributor Jawa Timur)



