Audiensi FSPMI dengan Branch Manager Jadi Momentum Bersejarah bagi Buruh Tapal Kuda

Audiensi FSPMI dengan Branch Manager Jadi Momentum Bersejarah bagi Buruh Tapal Kuda

Jember, KPonline – Kawan-kawan buruh dari Probolinggo, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi menghadiri undangan audiensi dari Branch Manager Bapak Satria beserta jajaran manajemen pada Kamis (28/5/2026).

 

Bacaan Lainnya

Pertemuan tersebut menjadi momentum bersejarah bagi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Pasalnya, selama berdirinya FSPMI hingga saat ini, baru pertama kali pihak pimpinan cabang secara langsung mengundang Serikat Pekerja/Serikat Buruh untuk duduk bersama dan bermusyawarah secara terbuka.

 

Undangan tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap keberadaan serikat pekerja dalam memperjuangkan hak serta kepentingan buruh. Dalam audiensi itu, pihak serikat pekerja dan manajemen melakukan pembahasan penting yang berkaitan dengan hajat hidup banyak pekerja.

 

Meski demikian, FSPMI menegaskan tidak akan mudah menyetujui setiap kesepakatan tanpa mempertimbangkan secara matang aspirasi dan kepentingan anggota. Seluruh proses perundingan dilakukan secara serius, hati-hati, dan penuh tanggung jawab.

 

 

Perundingan dimulai sekitar pukul 16.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 19.54 WIB. Lamanya proses perundingan menunjukkan adanya pembahasan yang mendalam antara kedua belah pihak demi menghasilkan keputusan yang bijak dan adil.

 

Di tengah berlangsungnya audiensi, Konsulat Cabang FSPMI Jember, Nofi Cahyo Hariyadi, mengingat kembali gaya perjuangan Ketua KC Surabaya, Doni Ariyanto, saat menghadapi perundingan panjang dengan pemerintah maupun manajemen perusahaan. Kala itu, semangat solidaritas buruh ditunjukkan melalui yel-yel “Rundingan… Rundingan…” yang dikumandangkan sebagai bentuk dukungan moral kepada tim perunding agar segera menghasilkan keputusan terbaik tanpa berlarut-larut.

 

Bahkan, sempat direncanakan kawan-kawan yang berada di luar ruang audiensi akan menjemput tim perunding menggunakan mobil komando (Mokom) sebagai simbol solidaritas dan semangat perjuangan buruh.

 

Audiensi ini diharapkan menjadi awal terbukanya komunikasi yang lebih baik antara manajemen dan serikat pekerja, sehingga setiap persoalan ketenagakerjaan dapat diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan semangat kebersamaan.

Pos terkait