Oleh: Yanto (Bidang Organisasi PP SPLP FSPMI)
Perang atau eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat berdampak langsung pada Indonesia melalui tiga sektor utama: fiskal, moneter, dan rantai pasok. Meski jarak geografisnya jauh, gejolak di Timur Tengah selalu punya daya guncang kuat ke ekonomi domestik. Kita bukan penonton, tapi ikut menanggung risikonya.
1. Fiskal Tertekan: Lonjakan Harga Minyak Gerus APBN
Konflik di Timur Tengah terutama jika mengganggu Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Bagi Indonesia, ini kabar buruk. Sebagai net importir minyak, setiap kenaikan $10 per barel bisa menambah beban subsidi dan kompensasi energi hingga puluhan triliun.
Hal ini menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) karena membengkaknya biaya subsidi energi (BBM dan LPG). Ruang fiskal yang seharusnya untuk pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial terpaksa dialihkan menahan gejolak harga di SPBU. Dilemanya jelas: menaikkan harga BBM memicu inflasi, menahan harga BBM menggerus APBN.
2. Moneter Terguncang: Inflasi dan Rupiah di Ujung Tanduk
Kenaikan harga energi memicu biaya logistik dan transportasi yang lebih tinggi, yang pada akhirnya mendongkrak harga pangan serta kebutuhan pokok di dalam negeri. Ongkos truk naik, harga cabai ikut terbang. Inflasi impor ini paling dirasakan rakyat kecil.
Bersamaan dengan itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga berpotensi terjadi akibat memburuknya sentimen pasar keuangan global. Saat perang pecah, dolar AS jadi “safe haven”. Investor asing cabut dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Rupiah melemah, utang luar negeri swasta dan pemerintah jadi lebih mahal, dan Bank Indonesia dipaksa menaikkan suku bunga. Akibatnya, kredit macet naik, ekspansi usaha tertahan.
3. Rantai Pasok Tersendat: Industri Bisa Mati Gaya
Hambatan jalur pelayaran di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan bahan baku industri nasional serta ekspor-impor Indonesia ke kawasan tersebut. Selat Hormuz itu nadi minyak dunia. Jika ditutup, bukan cuma harga minyak yang naik, tapi pengiriman petrokimia, pupuk, dan gandum juga tersendat.
Industri manufaktur kita yang bergantung pada bahan baku impor akan kena double hit : harga input naik, barang susah datang. Ekspor ke Timur Tengah dan Eropa yang lewat Terusan Suez juga terancam molor. Biaya asuransi kapal melonjak, lead time produksi kacau, dan daya saing produk Indonesia ikut tergerus.
Mitigasi Bukan Opsi, Tapi Keharusan. Konflik Iran-AS adalah external shock yang tidak bisa kita kontrol, tapi bisa kita antisipasi. Pemerintah perlu tiga langkah cepat:
1. Perkuat cadangan energi dan percepat transisi ke EBT agar tak terus disandera harga minyak.
2. Jaga kredibilitas fiskal-moneter lewat bauran kebijakan yang hati-hati, jangan sampai inflasi dan defisit kembar jalan bareng.
3. Diversifikasi rantai pasok dan pasar ekspor agar tak bergantung pada satu jalur dagang.
Kita sudah kenyang krisis. Jangan sampai perang orang lain membuat dapur rakyat kita ikut terbakar.