Walau Biaya Kuliah Mahal, Menulis Dalam Kebisingan Mesin Pabrik Tidak Butakan Mata Hatiku

Bekasi, KPonline – Di zaman sekarang yang serba canggih semua fasilitas tidak ada yang gratis. Begitu juga dengan biaya pendidikan saat ini harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Keinginan seseorang untuk mewujudkan impiannya duduk di bangku kuliah pun hanya sebatas kehampaan yang dinantikan.

Terlihat kegundahan dari raut wajah saat melihat anak muda beranjak tancap gas menuju kampus idolanya. Walau dalam kebisingan mesin pabrik, pria ini selalu menyempatkan diri untuk menuliskan coretan di smartphone miliknya. Harapan hampa yang dirasakan ketika melihat teman sebayanya sudah menyandang gelar sarjana.

Tidak merasa berhenti di situ dia pun terkadang diajak oleh beberapa komunitas untuk bergabung. Hal serupa dirasakan saat itu, dalam perkumpulan komunitasnya pun menemukan teman sebaya yang sama persis mempunyai harapan hampa tidak bisa kuliah.

Namun dengan kesabaran yang dimilikinya, pria yang saat ini menjadi bagian dari Jamkeswatch Bekasi itu pun terus hadapi kehidupannya. Waktu yang terus dilalui pun selalu hadapinya dengan lapang dada dan senyum ramahnya.

Tidak merasa canggung lagi ketika pria (35) ini dihadapkan oleh pihak Rumah Sakit untuk berdialog langsung, saat menemukan permasalahan yang ada dilapangan. Harapan dia untuk duduk dibangku kuliah pun tertunda dikarenakan biaya yang harus dipertimbangkannya.

“Saya lahir dari orang biasa saja yang tidak mempunyai harta melimpah seperti yang lainnya. Biaya kuliah bagiku mahal, namun menulis walau dalam kebisingan mesin pabrik tidak akan butakan hati saya untuk terus berbuat baik antar sesama,” cetus pria berambut panjang itu.

Dengan kebiasaa menulisnya itu, terbuka pintu masuk untuk bergabung disalah satu bagian punggawa Media Perdjoeangan Bekasi.

Dengan merasa terpaksa lambat laun keinginan untuk duduk dibangku kuliah pun mulai terkikis. Kini pria satu anak ini pun merasa terlampiaskan harapan hampanya dengan kebiasaan mencoretkan kata dan bahasanya dalam sebuah berita.

“Sulit memang ketika harus bisa memuat suatu rangkaian kata untuk dituangkan dalam sebuah berita. Bahasa, kata atau pun tanda baca harus tertata dengan rapih. Semenjak tergabung dalam divisi penulisan berita di Koran Perdjoeangan yang isinya ternyata orang-orang hebat semua. Disitu saya bisa belajar banyak dari mereka yang jauh lebih profesional lagi,” tambah pria yang enggan disebut namanya itu. (Jhole)

Facebook Comments