Tiwi: Saya Pernah Merasakan Apa yang Mereka Rasakan

Bogor, KPonline – Namanya Nur Hidayah Pertiwi. Tapi gadis yang mengenakan hijab ini, lebih senang dan akan lebih akrab bila disapa dengan panggilan Tiwi. Dia merupakan salah seorang karyawan kontrak (PKWT) di PT. Selaras Citra Nusantara Perkasa. Sebuah perusahaan elektronik yang berlokasi di salah satu kawasan industri di Cileungsi, Bogor.

Bersama dengan puluhan karyawan PKWT yang lainnya, Tiwi berinisiatif untuk melakukan penggalangan donasi bagi anak-anak yatim-piatu yang berdomisili disekitar pabrik mereka bekerja. Atas dasar kepedulian kepada sesama, dan juga sebagai rasa syukur Tiwi dan puluhan karyawan PKWT lainnya, atas upah pertama mereka di bulan Juni 2019 ini.

“Saya juga pernah merasakan apa yang mereka rasakan saat ini. Saya pernah berada di posisi mereka. Saya juga pernah merindukan keutuhan dari sebuah keluarga, karena saya pernah tinggal di panti asuhan,” jelas Tiwi kepada Koran Perdjoeangan Bogor.

“Apa yang kami lakukan ini, karena saya pernah ingat dengan perkataan Ibunda saya. Bahwa aalah satu cara untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan, yaitu dengan memberi kepada mereka yang kekurangan, mengasihi dan menyantunin anak-anak yatim piatu. Ibunda juga pernaha mengatakan bahwa, kedudukan orang-orang yang suka memberi, nanti tinggi derajatnya akan berada disisi kedudukan Rasullah saw,” lanjut Tiwi.

“Awalnya saya ragu untuk menggerakkan teman-teman yang lain, untuk menggalang donasi untuk acara santunan ini. Tapi alhamdulillah, respon teman-teman karyawan SCNP sangat baik. Apalagi ditambah dengan keikut sertaan karyawan-karyawan tetap, yang ikut menambah penggalangan donasi untuk anak-anak yatim piatu tersebut,” terang Tiwi

Sebuah cara mensyukuri rezeki yang telah kita dapatkan, salah satunya adalah dengan memberi kepada saudara kita yang kekurangan. Hal tersebut bisa melalui santunan anak-anak yatim piatu. Sehingga kita bisa mendapatkan pahala kebaikan dunia akhirat.

Apa yang telah Tiwi dan karyawan-karyawati PT. SCNP, patut kita apresiasi setinggi-tingginya, dan bisa menjadi contoh yang baik bagi sesama pekerja.

“Kalau soal anak-anak yatim piatu, saya paling nggak kuat, pasti meneteskan air mata. Ya nggak bisa berkata-kata aja. Karena gimana sih rasanya jadi anak yatim piatu? Siapa juga yang mau kehilangan keutuhan keluarga? Pasti semua orang enggan merasakannya,” lanjutnya.

Bahkan sudah pasti tidak ada yang mau menjadi anak yatim piatu. Di luar sana, banyak anak-anak yang dimanja dengan keutuhan keluarga, sedangkan saya?

“Saya pernah merasakan betapa pahitnya hidup dengan keluarga yang tidak utuh. Pernah suatu waktu, untuk mengambil raport di sekolah, saya pernah memohon bantuan tetangga saya. Kalau diceritain mah sedih,” ungkap Tiwi dengan nada yang pilu. (RDW)