Tidak Ingin Anggotanya Di PHK, FSPMI Kabupaten Purwakarta Geruduk Pabrik Indo Bharat Rayon

Purwakarta, KPonline – Atas permasalahan hubungan industrial yang terjadi antara pihak pekerja dengan pengusaha, Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kabupaten Purwakarta melakukan aksi geruduk pabrik. Senin, (20/6/2022).

Ratusan pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja tersebut datang menyambangi PT. Indo Bharat Rayon yang berada di Babakan Cikao, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas atau dukungan kepada kawan mereka yang dipaksa berhenti dari tempat kerjanya/ PHK (PT. Indo Bharat Rayon), untuk bisa dipekerjakan kembali.

Dalam aksinya, perwakilan federasi serikat pekerja diterima masuk untuk bertemu dengan manajeman PT. Indo Bharat Rayon.

Kemudian, di pertemuan tersebut pun terjadi pembahasan atas permasalahan hubungan industrial yang terjadi. Dimana, Amir sebagai pekerja sekaligus ketua Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Aneka Industri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPAI-FSPMI) PT. Indo Bharat Rayon sudah tidak boleh lagi bekerja alias PHK oleh pengusaha (PT. Indo Bharat Rayon).

Awal masalah terjadi pada April 2022. Saat itu Amir ijin kerja karena ada kegiatan yang harus dihadiri. Namun, akibat dari ijin kerjanya itu, ketua PUK dipanggil dan ditegur general manager (HOD) terkait disiplin kerja. Dan general manager pun menyampaikan bahwa ijin kerja harus disampaikan secara langsung kepadanya.

Alhasil, Amir pun menyanggah atas ungkapan general manager dan menurutnya, apa yang sudah dilakukan, sudah memenuhi prosedural terkait ijin kerja.

“Saya sudah ijin kerja ke atasan saya, dan engineer adalah atasan saya. Dan itu sudah tertera jelas di PKB (Perjanjian Kerja Bersama),” jelas Amir.

Akan tetapi, walaupun Amir sudah melakukan hal (ijin kerja) sesuai dengan ketentuan (PKB), Amir tetap disalahkan. Bahkan berhujung Pemutusan hubungan kerja (PHK).

Fuad BM Ketua Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta kepada Media Perdjoeangan menyampaikan dan memohon kepada perusahaan bahwa Amir tidak boleh di PHK.

“Semua bisa dibicarakan dan cari solusi yang terbaik, bukan dengan mem Phk Amir,” pungkas Fuad BM.

Senada dengan hal yang sama, Kasma selaku perwakilan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) FSPMI mengatakan bahwa sebetulnya perusahaan tidak mudah untuk mem Phk pekerja. Seharusnya, pembinaan yang serius dari perusahan kepada tiap pekerja yang “mangkir dari Aturan” diadakan. Dimana, hal itu sebagai upaya perusahaan agar pekerja bisa bekerja lebih baik dan nyaman. Baik pekerja maupun perusahaan.

“Tidak ada asap kalau tidak ada api. Tidak ada masalah kalau tidak ada sebab,” sambung Kasma.

Masih dengan hal yang senada, manajemen perusahaan tersebut beralasan bahwa sebelum mem Phk, manajemen sudah melakukan pembinaan.

Penulis: Haerul Soleh (Heru).
Editor: Lestareno.

Pos terkait