Takjub pada Mahakarya Leluhur Bernama Candi Penataran

Takjub pada Mahakarya Leluhur Bernama Candi Penataran

Blitar, KPonline – Kisah menarik tentang perjalanan saya di candi Penataran yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada Senin, (17/06/2024).

Ketika masuk di halaman candi Penataran, hal pertama yang saya rasakan adalah rasa takjub pada dua arca Dwarapala yang berbentuk raksasa atau bhuta.

Bacaan Lainnya

Pada umumnya Dwarapala diwujudkan dengan wajah yang seram, garang, angker yang memperlihatkan taring, dan mata melotot, seperti memperingatkan bahwa tidak semua orang bisa masuk ke area candi dan hanya keluarga kerajaan la yang bisa memasukinya.

Saya merasa takjub saat memperhatikan pahatan demi pahatan dan membayangkan betapa hebatnya pemahat patung pada masa itu yakni di era kerajaan Kertajaya hingga masa Majapahit (Jayanegara- Ratu Suhita) abad (12-13 Masehi).

Betapa detail pahatannya saya bertanya tanya bagaimana pemotongan batu, ukiran gambar sejarah yang sangat presisi bahkan nyaris tanpa ada cela kesalahan dalam pembuatan candi Penataran tersebut.

Ada hal menarik lain yang terletak dibagian paling belakang candi. Disana terdapat Patirtan ( kolam ) yang posisinya berada di bawah sisi kanan area candi utama.

Pijakan berundak batu andesit yang tertata rapi, akan membawa kita menuju sebuah kolam dengan panjang sekitar 2 meter dan lebar 1 meter.

Di dinding Patirtan terukir bentuk satwa yang hidup didalam hutan, Berisi air jernih serta ada beberapa jenis ikan yang hidup disana .

Kemudian saya mencoba mencari informasi terkait Candi Penataran ini.

Berikut informasi yang berhasil saya kumpulkan terkait sejarah,penemuan,pembugaran dan makna gambar ,ukiran dan motif yang ada Candi Penataran.

Riwayat Penemuan Candi Panataran;
Nama Candi Panataran muncul pada awal abad ke 19 ditandai dengan dituliskannya dalam buku “History of Java” menguraikan, bahwa pada tahun 1815 Dr. Horsfield menemukan reruntuhan Candi Hindu di Panataran. Sejak saat itu bermunculan para peneliti yang berujung pada penulisan laporan dalam berbagai sudut pandang dan permasalahannya tentang Candi Panataran diantaranya: N.W. Hoepermans (1866), J. Van Kinsbergen (1872), J.L.A. Brandes (1887), Andre de la Porte dan J. Knebel (1900), Perquin (1917), P.V Van Stein Callenfels (1919), Th.P. Galestin (1948), Kobijitsu Kenkyusho (1945), dan A.J. Bernet Kempers (1959).

Riwayat Pemugaran Candi Panataran;
Candi Panataran telah mengalami beberapa pemugaran, tercatat pada tahun 1917, Perquin dalam laporannya menguraikan tentang perbaikan halaman candi, batur Pendopo Teras, Candi Naga dan Candi Induk.

Dari Inskripsi Angka Tahun pembuatan di Candi Panataran berkisar antara tahun 1242 Saka (1320 Masehi) sampai 1337 Saka (1415 Masehi)

Pemberian angka tahun sudah lazim digunakan sejak dahulu kala sebagai penanda untuk mengingat suatu peristiwa tertentu atau berkaitan dengan angka-angka sebagai petunjuk kala atau waktu. Beberapa angka tahun yang ada di Candi Panataran dipahatkan pada arca Dwarapala, miniatur candi, ambang pintu, petirtaan, dan prasasti.

1242 Saka (1320 Masehi) Pada Arca Dwarapala Candi Panataran, sejaman dengan pemerintahan Jayanegara.

1269 Saka (1347 Masehi) Pada Dwarapala di depan Candi Induk, sejaman dengan pemerintahan Tribuwana Tunggadewi.

1291 Saka (1369 Masehi) Pada ambang pintu Candi Angka Tahun, sejaman dengan pemerintahan Hayam Wuruk.

1337 Saka (1415 Masehi) Pada dinding kolam Pathirtan, sejaman dengan masa pemerintahan Suhita.

CANDI PANATARAN dibangun pada masa pemerintahan Kadiri (Krtajaya) hingga masa Majapahit (Jayanegara- Ratu Suhita) abad (12-13 Masehi).

Candi Panataran disebut juga “Rabut Palah” yang dituliskan dalam kitab Bujangga Manik dan “Candi Palah” berdasarkan prasasti yang Prasasti Palah yang ada di kompleks candi.

Panataran sendiri berasal dari kata Pa-Natha- Ayrya-an yang diartikan sebagai tempat seorang Pemimpin Raja. Kompleks Candi Penataran terbagi menjadi 3 bagian halaman, yakni bagian depan, tengah, dan belakang, dimana bagian belakang adalah bagian paling suci berfungsi sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Acalapati atau Dewa Gunung dalam hal ini Gunung Kelud.

Halaman komplek pertama;
Terdapat struktur gerbang yang diapit dengan arca Dwarapala berangka tahun 1242 Saka, batur Bale Agung, umpak yang berhiaskan.

binatang bertelinga panjang (Hare), batur Pendopo Teras yang memiliki pahatan relief Sri Tanjung, Sang Satyawan, Bubuksah – Gagang Aking dan Relief cerita Panji, dan Candi Angka Tahun.

Halaman halaman komplek ke dua;
Patirtha
terdapat dua gapura beserta arca Dwarapala dan Candi Naga yang memiliki hiasan naga yang disangga oleh sembilan tokoh membawa lonceng (Genta). Halaman Terdapat gapura, arca Dwarapala dan pagar pembatas.

Halaman komplek ke tiga;
Merupakan yang paling suci karena terdapat Candi Induk yang terdiri dari tiga teras yang terdapat pahatan relief cerita Ramayana, Kresnayana, relief Naga dan Singa bersayap.

Patirthan;
Petirtaan atau Pathirtaan berasal dari kata dasar “thirta” yang berarti air, dan berkaitan dengan upacara keagamaan menggunakan air suci yang disebut dengan “Thirta Nirmala” atau “Thirta Amerta”.

Dalam kawasan komplek candi Penataran juga ada banyak Relief pahatan,ukiran motif gambar hias yang penuh makan seperti :

Relief Candi Panataran
Relief merupakan penggambaran figur manusia, hewan, tumbuh- tumbuhan, simbol, atau gabungan dari unsur tersebut yang dipahatkan pada bidang (dinding candi) seperti .

Relief Cerita Panji :
Relief ini menceritakan perpisahan, pencarian, dan pertemuan antara Panji Asmorobangun dengan Galuh Candrakirana. Nilai yang terkandung berupa kesetiaan dan komitmen dalam menjalin hubungan.

Relief Bubuksah-Gagangaking :
Relief ini menceritakan dua pertapa bersaudara yang melakukan ibadah dengan cara berbeda. Nilai yang dapat diambil dari kisah ini adalah keikhlasan dalam beribadah untuk mencapai hasil yang sempurna.

Relief Sri Tanjung :
Relief ini menceritakan kesetiaan Sri Tanjung kepada Sidapaksa yang diuji oleh Raja Sulakrama yang mengandung nilai kesetian dan kepercayaan.

Relief Sang Setyawan;
Mengisahkan pencarian penuh ujian Dewi Suwistri terhadap suaminya (Sang Setyawan) yang bertapa di hutan. Memiliki makna berupa ketabahan kita dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Relief Ramayana;
Mengisahkan pencarian Rama terhadap Sinta di Alengka. Nilai-nilai yang dapat diambil dari kisah ini adalah kesetiaan seorang istri, loyalitas kesatria terhadap pemimpin, patriotisme dan dampak keserakahan akan membawa petaka.

Relief Kresnayana;
Mengisahkan perkawinan antara Kresna dengan Dewi Rukmini. Nilai yang terkandung dalam kisah ini adalah perlunya usaha untuk mencapai apa yang diinginkan.

1. Prasasti Palah yang mana dikeluarkan oleh Raja Srengga, yang bergelar śrī śarwweśwara triwikramāwatäränindita singgalañcana digjayotunggadewanāma pada tahun 1119 Saka/1197 Masehi yang memuat tentang peresmian sima (tanah perdikan) untuk bangunan suci pemujaan Battara i Palah atau Dewa Gunung dalam hal ini Gunung Kelud yang dikelola oleh kelompok masyarakat diluar kerajaan (dharmma lpas).

Ragam Hias;
Keragaman hiasan terlihat sangat menarik dan menjadi penambah nilai keindahan terlihat pada Candi Panataran diantaranya berupa motif.

Motif Meander;
Meander disebut juga dengan motif pinggir awan yang tersambung memanjang dihubungkan dengan ragam hias banji melambangkan Dewa Matahari.

Motif Medalion;
Seni hias medalion merupakan jenis hiasan dekoratif sebagai pelengkap bangunan sakral, berbentuk medali atau mirip dengan tablet. Medalion biasanya bertemakan binatang, makhluk mitologi, geometris, dan tumbuh-tumbuhan.

Motif Tumpal;
Ragam hias tumpal sebagai lambang kesuburan, kehidupan, panas, prinsip laki- laki, lingga, dunia spiritual, kebenaran, kebajikan dan simbol ibu.

Dari perjalanan saya kali ini, saya menjadi sadar betapa luar biasanya para leluhur kita yang telah mewariskan sebuah maha karya seperti Candi Penataran ini.

Namun ada Pertanyaan-pertanyan yang muncul dan belum terjawab seperti proses memahat dengan alat apa, bagaimana cara menyusun batu-batu yang telah dipahat tersebut, dimana para arsitek canggih dan desainer pakaian kerajaan itu belajar? Maka hari ini menjadi kewajiban kita untuk menjaga,merawatnya agar tidak musnah begitu saja.

Kepada para pengunjung Candi sebaiknya tidak hanya berfoto saja tapi juga mau mempelajari makna relief dan struktur Candi tersebut.

(Abd Muis – Kontributor Surabaya)