Bogor, KPonline-Memasuki hari ketiga bulan Agustus, suasana menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia seharusnya mulai terasa di berbagai sudut jalan. Namun, pemandangan berbeda justru disaksikan oleh seorang pekerja sekaligus pengurus Serikat Pekerja FSPMI asal Bogor yang dalam artikel ini disamarkan dengan nama Asli.
Seperti rutinitas setiap pagi sebagai kepala keluarga, Asli berangkat dari rumahnya di Bogor pukul 05.20 WIB untuk mengantarkan anaknya bersekolah di SMP Negeri 217 Cijantung, Jakarta Timur. Di sepanjang perjalanan, ia memperhatikan ratusan kendaraan roda dua yang melintas di Jalan Raya Bogor hingga menuju Jakarta.
Yang membuatnya prihatin, hampir tidak ditemukan satu pun kendaraan yang memasang bendera Merah Putih, padahal bulan Agustus merupakan bulan penuh makna bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai momentum mengenang perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.
“Selama perjalanan saya memperhatikan kendaraan satu per satu. Hampir tidak ada yang memasang bendera Merah Putih sebagai simbol penghormatan kepada para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Asli, kondisi tersebut mencerminkan semakin menurunnya kesadaran masyarakat dalam menghormati nilai-nilai perjuangan bangsa. Ia bahkan mengaku prihatin ketika melihat kendaraan yang dikendarai anggota TNI maupun Polri juga tidak memasang atribut Merah Putih.
“Bukan soal kewajiban memasang bendera di kendaraan, tetapi bagaimana memberikan contoh semangat nasionalisme dan penghormatan terhadap jasa para pahlawan,” ujarnya.
Setelah mengantar anaknya ke sekolah, Asli kembali melanjutkan perjalanan menuju Bogor untuk menjalankan aktivitasnya sebagai pekerja. Dalam perjalanan pulang, ia kembali mengamati kendaraan yang melintas. Di tengah banyaknya kendaraan tanpa atribut kemerdekaan, ia merasa bersyukur masih menemukan seorang ibu yang telah lanjut usia memasang bendera Merah Putih di kendaraannya.
Pemandangan sederhana itu, menurutnya, menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang memiliki kepedulian dan rasa hormat terhadap sejarah perjuangan bangsa.
Asli menilai bahwa membangun kesadaran nasional tidak cukup hanya melalui pendidikan formal atau gelar akademik. Yang lebih penting adalah menanamkan nilai etika, rasa hormat, dan penghargaan kepada sesama serta kepada para pahlawan yang telah berkorban demi Indonesia.
“Setinggi apa pun pendidikan seseorang, akan lebih bermakna jika diiringi dengan etika, rasa hormat, dan kemampuan menghargai orang lain. Karena menghormati dan menghargai orang lain pada hakikatnya adalah menghormati diri sendiri,” tuturnya.



