Surabaya, KPonline – Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Aneka Industri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPAI FSPMI) Kota Surabaya, Slamet Raharjo, S.H., mendorong seluruh anggota PUK SPAI FSPMI PT. ISS Indonesia–Jatim untuk memperkuat keberanian, militansi, dan soliditas organisasi dalam memperjuangkan kepentingan buruh.
Pesan tersebut disampaikan Slamet saat memberikan sambutan pembukaan Musyawarah Unit Kerja (Musnik) III PUK SPAI FSPMI PT. ISS Indonesia–Jatim Surabaya Tahun 2026, yang digelar di Gedung Penginapan Remaja, Jalan Dukuh Kupang XXV No. 5, Surabaya, Minggu (23/8/2026).
Dalam sambutannya, Slamet menilai perjuangan buruh saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Menurutnya, perubahan regulasi dan pola pengamanan aksi membuat gerakan buruh harus semakin memahami aturan sekaligus memperkuat strategi perjuangan.
“Perjuangan saat ini bukan berarti kawan-kawan tidak berani. Tetapi memang tingkat keberanian dan kondisi perjuangan sudah berbeda dibandingkan dulu,” ujarnya.
Slamet mengungkapkan, pada masa lalu aksi-aksi di tingkat PUK dapat dilakukan dengan pola yang lebih spontan. Namun, saat ini terdapat berbagai ketentuan yang mengatur pelaksanaan aksi, termasuk batasan waktu dan mekanisme penyampaian aspirasi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya organisasi buruh untuk tidak kehilangan keberanian dalam menyuarakan kepentingan anggotanya, tetapi tetap mampu bergerak secara terorganisasi dan memahami aturan yang berlaku.
“Jangan sampai apa yang kita suarakan berhenti hanya karena terbentur situasi. Kita harus tetap berjuang, tetap solid, dan mampu mengorganisasi gerakan,” tegasnya.
Dua prinsip: Panutan dan Militan
Di hadapan peserta Musnik III, Selamat menitipkan dua prinsip utama kepada kepengurusan yang nantinya terpilih maupun seluruh anggota PUK SPAI FSPMI PT ISS Indonesia–Jatim.
Prinsip pertama adalah menjadi panutan.
Ia meminta setiap pengurus dan anggota terlebih dahulu mampu memberikan contoh dari dirinya sendiri sebelum mengajak orang lain melakukan hal yang sama.
“Kalau kawan-kawan ingin menjadi panutan bagi orang lain, awali dari diri sendiri. Jadilah panutan bagi diri sendiri terlebih dahulu,” pesannya.
Menurutnya, organisasi tidak akan kuat apabila orang-orang di dalamnya tidak mampu memberikan keteladanan. Perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh harus berjalan beriringan dengan kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap organisasi yang baik.
Prinsip kedua adalah militan
Slamet mengingatkan bahwa serikat pekerja dibangun melalui perjuangan panjang. Karena itu, anggota serikat tidak boleh hanya menjadi buruh yang menerima keadaan dan pasrah terhadap nasib.
“Kawan-kawan di FSPMI adalah pejuang tangguh, buruh pergerakan, bukan buruh yang hanya menerima nasib atau sekadar mensyukuri keadaan,” katanya.
Ia menegaskan, membangun organisasi pekerja bukan pekerjaan mudah. Diperlukan keberanian, konsistensi, loyalitas, dan militansi dari seluruh anggota.
“Jadilah panutan, jadilah militan. Dua hal itu yang harus dipegang dalam organisasi,” tegas Selamat.
Selamat juga memberikan tantangan kepada kepengurusan PUK yang akan terpilih dalam Musnik III.
Jika saat ini jumlah anggota sekitar 200 orang, ia berharap dalam 100 hari pertama kepengurusan baru sudah terdapat peningkatan signifikan.
Target yang disampaikan adalah satu anggota merekrut satu anggota baru.
“Kalau anggotanya 200, saya ingin nanti ada laporan dari kawan-kawan PUK ISS: satu orang merekrut satu anggota, Bisa?” tantangnya kepada peserta Musnik.
Pertanyaan tersebut disambut antusias oleh peserta yang menyatakan kesanggupannya.
Dengan target tersebut, Selamat berharap jumlah anggota PUK SPAI FSPMI PT ISS Indonesia–Jatim dapat berkembang dari sekitar 200 menjadi sedikitnya 400 anggota, bahkan lebih.
“Seratus hari kepengurusan yang terpilih harus ada laporan konkret. Anggota PUK ISS Jatim, khususnya SPAI, bukan hanya 200, tetapi 400 orang atau sebisa mungkin lebih,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan jumlah anggota bukan sekadar persoalan kuantitas. Semakin kuat basis anggota, semakin besar pula kapasitas organisasi dalam memperjuangkan kepentingan pekerja.
Slamet juga menekankan bahwa kekuatan serikat pekerja tidak mungkin dibangun hanya oleh satu atau dua orang. Dibutuhkan kolaborasi, komunikasi, dan sinergi seluruh anggota.
Ia meminta anggota tidak mudah terpengaruh oleh berbagai isu dari luar organisasi. Jika terdapat persoalan yang menyangkut organisasi maupun perjuangan anggota, Pimpinan Cabang SPAI FSPMI Surabaya akan mengambil sikap.
“Organisasi tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua orang. Harus ada kolaborasi dan sinergi,” katanya.
Ia juga meminta seluruh anggota memahami bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan organisasi.
“Sebagai anggota, lakukan tanggung jawab kalian. Jadilah panutan dan militan, mulai dari diri sendiri,” pungkasnya.
Setelah menyampaikan sambutan dan pesan perjuangan tersebut, Slamet Raharjo secara resmi menyatakan Musyawarah Unit Kerja III PUK SPAI FSPMI PT. ISS Indonesia–Jatim Surabaya Tahun 2026 dibuka.
Musnik III menjadi forum tertinggi dalam organisasi SP/SB di tingkat Unit Kerja bagi anggota untuk mengevaluasi perjalanan organisasi, menyusun arah perjuangan, serta memilih kepengurusan yang akan menjalankan roda organisasi ke depan.
Agenda Musnik III PUK SPAI FSPMI PT. ISS Indonesia–Jatim Surabaya Tahun 2026 menjadi pedoman sekaligus panduan teknis dalam melaksanakan seluruh rangkaian musyawarah.
Dengan semangat panutan dan militan, Musnik III diharapkan menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat organisasi, memperbesar jumlah anggota, serta meningkatkan daya tawar pekerja dalam memperjuangkan kesejahteraan dan kepentingan buruh.



