Sebuah Refleksi dari Jambore Nasional Perempuan FSPMI

Bogor, KPonlineĀ – “Sedih tau, bang. Sampe nggak terasa air mata meleleh. Jadi inget cucu sama temen-temen yang lainnya,” tutur Alfiah di samping Euis yang juga menampakkan mimik wajah kesedihan ketika kami bercengkerama di salah satu warung makan di bilangan daerah Cibinong.

Kami bercengkerama dan berbincang tentang sebuah film pendek yang diputar dalam sebuah sesi acara pada saat Jambore Nasional Perempuan FSPMI 28-29 Juli 2018 yang lalu. Sesi pemutaran film pendek tersebut, dipandu langsung oleh Vice Presiden FSPMI, Kahar S. Cahyono.

Bacaan Lainnya

Ya, Alfiah dan Euis merupakan salah dua dari anggota PUK SPL-FSPMI PT. Shin Han Indonesia yang saat ini kasus hubungan industrial-nya sedang bergulir di Pengadilan Hubungan Industrial, Bandung, Jawa Barat. Keduanya merupakan saksi hidup dari kerasnya dunia induatri dalam menghadang sepak terjang berdirinya sebuah serikat pekerja.

Pahit dan getirnya mendirikan sebuah serikat pekerja di dalam sebuah perusahaan tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Jalur yang terjal, seperti menapaki dinding tinggi keangkuhan korporasi adalah makanan sehari-hari mereka. Intimidasi dan dikucilkan adalah dampak dari jalan sebuah keyakinan yang mereka jalani.

Hampir genap setahun, PUK SPL-FSPMI PT. Shin Han Indonesia berdiri, dan hanya tersisa beberapa orang anggota saja yang masih bekerja. Sisanya? Habis “dibantai” dengan alasan yang klasik hingga yang mengada-ada.

Kapok? Menyerah? Atau meninggalkan organisasi ini? Ya, beberapa orang anggota sudah menyatakan dengan terang benderang. Beberapa orang anggota yang lainnya, mengangkat bendera putih. Menyerah. Tapi pada akhirnya, mereka dikekuarkan juga dari perusahaan, dengan alasan yang serupa.

Di dalam film pendek tersebut, ada sebuah adegan, dimana Suratiman salah seorang oknum polisi sedang beradu mulut dengan beberapa orang anggota PUK SPL-FSPMI PT. Shin Han Indonesia yang sedang melakukan aksi mogok kerja dan aksi unjuk rasa.

Suratiman memang belum terbukti di pengadilan sudah melakukan tindak kekerasan terhadap Cucu. Akan tetapi, rasa sakit hatinya yang mungkin akan sulit terobati. Betapa tidak. Pihak aparat keamanan alih-alih melakukan pengamanan terhadap sebuah aksi unjuk rasa, malah melakukan tindak kekerasan terhadap buruh perempuan.

“Kasus PUK SPL-FSPMI PT. Shin Han Indonesia udah di PHI. Ya, sebagai anggota kita sih bagaimana pengurus aja,” terang Alfiah sambil mengangkat kwe tiau dengan garpu.

Perbincangan tersebut semakin menarik, dikarenakan hadir seorang buruh perempuan FSPMI dari Cimahi. Lilis namanya. Ketua PUK SPL-FSPMI PT. Sanwa Indonesia ini pun tak kalah gesit dengan kawan-kawan buruh perempuan FSPMI yang lainnya.

Menjadi salah seorang Pengurus Cabang SPL-FSPMI Bandung juga digelutinya, hingga turut serta dalam berbagai pendidikan pun diikutinya.

Tak hanya sampai disitu, saat ini pun, Lilis menjadi bagian dari Tim Media Perdjoeangan FSPMI Bandung. Lelah dalam berorganisasi? Entahlah, Ibu dari 2 orang anak perempuan ini seakan-akan tak kenal lelah berbicara.

Sejak meninggalkan Villa Semak Daun di daerah Ciawi, menuju kediaman Euis di daerah Tajur, Citeureup melalui jalur Gunung Geulis-Sentul. Dengan berboncengan menggunakan sepeda motor jenis skuter-matik, Lilis menceritakan segudang kisah. Sejak mendirikan FSPMI di tempat dia bekerja, hingga harus menjadi Relawan Jamkeswatch.

Menjadi pengurus PUK hingga harus rela meninggalkan keluarga untuk belajar menjadi Pimpinan Cabang SPL FSPMI Bandung.

Mencicipi kuliner khas Bogor memang tidak kesampaian. Soto Mie Bogor baru bisa kami sajikan ke tamu agung yang berasal dari Bandung tersebut. Tak kalah akal, kami ajak berkeliling pinggiran Bogor hingga ikon Kabupaten Bogor yang baru, Stasion Pakan Sari, Cibinong.

Sekedar meneguk segelas kopi gelas plastik, perbincangan berlanjut hingga topik lagu-lagu lawas mengharuskan kami kembali.

Lilis, Euis, Alfiah adalah sebagian kecil dari kisah yang menggugah dari kaum buruh perempuan FSPMI. Dan Jambore Nasional Perempuan FSPMI yang lalu menjadi semacam kawah candradimuka bagi kawan-kawan buruh perempuan FSPMI untuk terus belajar dan menempa diri.

Kagum dan memang patut untuk ditiru. Dengan harapan, kegiatan tersebut menjadi kegiatan rutin bagi kaum buruh khususnya kaum buruh perempuan FSPMI.

Kemana Cucu? Beberapa hari yang lalu sempat melihat gadis itu di salah satu sinetron milik televisi swasta. Dia ada di beberapa scene sinetron remaja yang tayang setiap sore.

Semoga saja Cucu menjadi aktris yang terkenal dan bisa mengajak saya menjadi aktor terkenal. Siapa tahu bukan.

Entahlah, hanya saja saat ini saya doakan yang terbaik buat kalian semua. Ya, kalian! Kaum Buruh Perempuan FSPMI.

Pos terkait