Pernyataan Sikap PUK FSPMI PT. SUZUKI Dalam Aksi di Jakarta 

Jakarta, KPonline – Dalam aksi unjuk rasa yang digelar hari ini (31/7) di plant Cakung, Jakarta Timur. PUK SPAMK FSPMI PT. SUZUKI INDOMOBIL melalui ketua Heru Wibowo menyampaikan pernyataan sikap melalui pengeras suara dari atas mokom DKI.

 

Bacaan Lainnya

Pernyataan yang juga tertuang dalam press release ini menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada titik temu dalam perundingan antara perusahaan dengan pihak serikat pekerja FSPMI mengenai :

1. Penambahan komponen selisih kenaikan Upah Minimum Sektoral yang lama dan yang baru dan masa kerja, sehingga selengkapnya komponen kenaikan upah sebagai berikut : Indeks Harga Konsumen (IHK) + Penilaian Akhir (PA) + Kemampuan Perusahaan (@) + Selisih Upah Minimum Sektoral lama dan baru + Masa Kerja.

 

2. Rumusan uang pensiun dengan komponen sebagai berikut : 3 x (Uang Pesangon + Uang Penghargaan Masa Kerja) + Penggantian hak 15%.

 

3. Plafon pengobatan dengan rumusan :

a. BO (lajang) : 1,5 x gaji pokok

b. K0 (kawin tanpa anak) : 2,5 x gaji pokok

c. K1 (kawin anak satu) : 2,7 x gaji pokok

d. K2 (kawin anak dua) : 29 x gaji pokok

e. K3 (kawin anak tiga) : 3,0 x gaji pokok

 

4. Usut tuntas dan pemberian sanksi tegas atas dugaan korupsi yang dilakukan oleh oknum manajemen sebagaimana telah diakui oleh manajemen dalam risalah perundingan tertanggal 24 Juni 2019 agar di proses sesuai dengan hukum pidana dan hukum perdata yang berlaku.

 

5. Menolak jajaran manajemen lama serta pengurus perseroan lama untuk masuk Suzuki.

Pernyataan ini selain disampaikan di depan massa aksi dan solidaritas buruh FSPMI DKI, juga disampaikan kepada perwakilan komisaris perusahaan yang datang menemui pengurus PUK di lokasi. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan komisaris berjanji akan menuntaskan tuntutan terkait perbaikan kesejahteraan (upah, pensiun, kesehatan) maksimal hari jumat esok (2/8).

 

“Kita beri kesempatan hingga hari jumat, bila tidak ada itikad baik kita akan aksi dengan jumlah massa lebih besar lagi, bila perlu kita mogok kerja di semua plant.” pungkas Heru Wibowo. (Jim).

Pos terkait