Surabaya, KPonline-Minggu, 7 Juni 2026, suasana Sidang Paripurna III dalam Musyawarah Cabang (Muscab) II Pimpinan Cabang (PC) Serikat Pekerja Logam dan Pertambangan (SPLP) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Surabaya yang semula riuh saat memasuki agenda pemilihan ketua, mendadak hening. Situasi tersebut terjadi setelah Heri Novianto, selaku perwakilan Pimpinan Pusat (PP) Serikat Pekerja Logam dan Pertambangan FSPMI, melakukan interupsi untuk menjelaskan mekanisme pemilihan Ketua PC yang ideal dan sesuai khitah organisasi.
Sebagai informasi, pada tahap pra-Muscab, bursa pemilihan telah mengerucutkan dua nama calon ketua, yakni Vinsensius Anjar Lesmana dan Nuryadi. Kedua figur ini dikenal memiliki rekam jejak yang solid serta basis massa yang kuat di tingkat perusahaan.
Dalam penyampaiannya, Heri Novianto yang juga dikenal sebagai sesepuh Logam Jawa Timur, menjelaskan bahwa musyawarah mufakat sudah menjadi tradisi turun-menurun untuk menentukan Ketua Pimpinan Cabang. Proses musyawarah ini tidak berjalan sepihak, melainkan melibatkan pengurus PC demisioner, Pimpinan Pusat, para calon ketua, serta perwakilan Pimpinan Unit Kerja (PUK).
Mendengar arahan tersebut, Sidang Paripurna akhirnya disepakati untuk dilanjutkan dengan forum musyawarah tertutup.
Ternyata, ada alasan luar biasa yang menjadi latar belakang kokohnya tradisi musyawarah tersebut, di antaranya:
1. Menjunjung Tinggi Semangat Kekeluargaan: Musyawarah menjaga hubungan baik di antara para calon dan pendukung, mengingat semua calon ketua yang maju merupakan kader-kader terbaik organisasi.
2. Mencegah Perpecahan Internal: Tradisi ini efektif mengantisipasi adanya faksi atau polarisasi di internal organisasi pasca-pemilihan. Sebab, tantangan buruh ke depan jauh lebih besar dibanding sekadar kontestasi internal.
3. Wadah Aspirasi Konstruktif: Melalui proses musyawarah, semua pihak dapat mengungkapkan pandangan serta evaluasi mendalam mengenai arah gerak dan wajah PC SPLP FSPMI ke depan.
4. Proses Kedewasaan Berorganisasi: Musyawarah memberikan ruang bagi para calon ketua untuk saling menyampaikan harapan dan secara legowo menentukan siapa yang paling siap memimpin. Di sinilah letak proses kedewasaan untuk saling memberikan dukungan.
5. Menjaga Kehormatan Bersama: Musyawarah dinilai jauh lebih terhormat dibanding mekanisme pemungutan suara (voting), karena tidak ada pihak yang merasa kalah atau ditinggalkan. Semua keluar dari ruangan sebagai pemenang dengan visi yang sama.
Setelah beberapa saat melaksanakan musyawarah yang hangat namun sarat akan argumentasi positif, forum akhirnya memutuskan bahwa Vincentius Anjar Lesmana resmi diamanahkan menjadi Ketua Pimpinan Cabang SPLP FSPMI Kota Surabaya periode berikutnya.
Sementara itu, Nuryadi secara ksatria menyatakan legowo atas hasil mufakat ini. Ia menegaskan komitmennya bahwa ke depan, dirinya siap pasang badan dan membantu penuh kerja-kerja ideologis Pimpinan Cabang demi kesejahteraan anggota. Sikap ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi Logam Jawa Timur bukan sekadar slogan, melainkan prinsip yang hidup dalam jiwa para kadernya.