Musniklub Serikat Pekerja PT Freeport Indonesia, Diduga Bentuk Adu Domba Antar Pekerja

  • Whatsapp
Musniklub II PUK SP-KEP SPSI PT Freeport Indonesia.

Mimika, KPonline – Sebanyak 8.100 orang pekerja dianggap mengundurkan diri oleh PT Freeport Indonesia. Tidak hanya itu, managemen PT Freeport Indonesia juga diduga melakukan praktek adu domba antar pekerja dengan memfasilitasi pelaksanaan (Musyawarah Unit Kerja Luar Biasa (Musniklub) II PUK SPKEP SPSI PT Freeport Indonesia dalam rangka pemilihan dan pengukuhan pengurus baru, menggantikan kepengurusan yang lama di bawah pimpinan Sudiro. Padahal kepengurusan Sudiro baru berakhir 30 April 2018.

Demikian disampaikan Ketua PC SPKEP SPSI Kabupaten Mimika, Aser Gobai, dalam keterangan yang diterima koranperdjoeangan.com, Senin (28/8/2017).

Bacaan Lainnya

Musniklub ini di hadiri Kapolres Mimika, AKBP Victor Mackbon dan sejumlah Pimpinan TNI di Wilayah Timika, Papua.

“Sudah seburuk inikah mental pengayom negeri ini yang tunduk dan selalu berpihak pada investor? Tugas dan tujuan organisasi sangat jelas bahwa membela, melindungi dan memperjuangkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Maka kami PC SPKEP SPSI Kabupaten Mimika tetap berpegang teguh roh organisasi yakni AD/ART sesuai kewenangan tugas dan fungsi organisasi,” katanya.

Pengurus PUK SPKEP SPSI PT Freeport Indonesia Tolak Hadir di Musniklub

Pengurus sah PUK SPKEP SPSI PT Freeport Indonesia menolak hadir pada seluruh agenda Musyawarah Unit Kerja Luar Biasa (Musniklub) ke-II di Tembagapura. Pasalnya Musniklub tersebut yang digelar Senin (28/8) siang itu dinilai tidak jelas.

“Karena sampai saat ini kami sendiri tidak tahu persis alasannya untuk melaksanakan Musniklub,” jelas Ketua Bidang Organisasi PUK SP-KEP SPSI PTFI Yapet Panggala, seperti diberitakan harianpapuanews.com, Selasa (29/8/2017).

Yapet mengatakan, apalagi Musniklub ini mengabaikan pernyataan sikap dan imbauan yang diterbitkan oleh Pengurus Cabang SPKEP SPSI Kabupaten Mimika. Dalam surat tertanggal 26 Agustus 2017, PC SPKEP SPSI Mimika telah menyatakan sikap bahwa tidak menyetujui, menghadiri dan memandu pelaksanaan Musniklub tersebut.

PC SPKEP SPSI Mimika juga menyatakan tidak dapat menerbitkan SK pengukuhan atau pengesahan dan melantik pengurus yang terpilih serta tidak bertanggung jawab atas pelaksanaan Musniklub dan keputusan-keputusannya.

“PC SPKEP SPSI Kabupaten Mimika menilai masa kepengurusan PUK SPKEP SPSI PT Freeport Indonesia saat ini masih sah sampai 30 April 2018 sebagaimana SK nomor: SK010/ PP SPKEP/ SPSI/ IV/ 2017,” katanya.

Kepengurusan PUK SPKEP SPSI PT Freeport Indonesia menurut PC masih menjalankan tugas dan fungsinya dalam membela hak-hak dasar dan kesejahteraan pekerja. Apalagi, unsur darurat tidak terpenuhi sebagai dasar utama pelaksanaan Musniklub sebagamana diatur dalam aturan organisasi. Terlebih lagi, saat ini PUK sedang berjuang agar para pekerja yang di PHK bisa dipekerjakan kembali.

“Kami sangat sayangkan adanya kegiatan (Musniklub-Red) ini. Semoga kehadiran beberapa pengurus pusat di kegiatan ini dapat meluruskan dan menegakkan aturan terkait tahapan pelaksanaan Musniklub sebagaimana diatur dalam AD/ART SPKEP SPSI,” kata Yapet.

Sementara itu, puluhan anggota didampingi pengurus PUK SP-KEP SPSI PT Freeport Indonesia melaporkan dugaan pemalsuan tanda tangan dalam pengumpulan petisi dukungan pelaksanaan Musniklub ke-II, Pada Minggu (27/8).

Dalam surat yang ditanda tangani Ketua Perwakilan Anggota (PA) SPKEP SPSI PT Freeport Indonesia, Pakris Umbora dan Sekretaris Subhan Umar, dilampirkan petisi tanda tangan sebanyak 3.302 anggota serikat yang diklaim telah mendukung pelaksanaan Musniklub ke-II. Jumlah anggota yang diklaim tersebut dianggap telah mencapai dua per tiga dari total anggota sebagai syarat pelaksanaan Musniklub.

Terlapor kata Yapet, diduga memalsukan tanda tangan para pelapor dalam lampiran petisi dukungan pelaksanaan Musniklub ke-II tersebut. Pasalnya, para pelapor merasa tidak pernah menandatangani surat petisi itu.

“Sangat besar kemungkinan pelapor bertambah. Karena yang dipalsukan tanda tangannya cukup banyak, sekitar 1000an anggota,” ungkap Yapet.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Komentar

  1. Mohon informasi buat admint koranperjuangan kami melihat banyak sekali aparat ikut musniklub 11 di tembagapura, apakah aparat sekarang sudah jadi komisaris SPSI PT FI atau mungkin aparat sudah menjadi anggota SPSI PT FI yang baru, untuk Setatus SPSI PT FI sampai sekarang masih di bawah kepemimpinan Bung SUDIRO sampai nanti 2018.