Menilik Persiapan Kampung Ramadhan Jogokariyan, Yogyakarta

Menilik Persiapan Kampung Ramadhan Jogokariyan, Yogyakarta

Yogyakarta, KPonline – Minggu siang ini (5/5) kontributor KPonline berkesempatan melihat dari dekat persiapan Gelaran Kampung Ramadhan Jogokariyan di Kampung Jogokariyan, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, DIY.   Pantauan KPonline siang ini di sekitaran Masjid Jogokariyan sendiri sudah dihias dengan lampion-lampion berwarna-warni yang mengubah suasana menjadi lebih cerah dan meriah. Beberapa orang pengurus dan warga disibukkan memasang lampu pernak pernik, membersihkan karpet dan lain sebagainya. Menurut informasi yang diterima Kampung Ramadhan Jogokariyan tahun ini melibatkan tidak kurang 300 pedagang dan sekitar 2.500 hingga 3.000 sajian berbuka harian di Masjid Jogokariyan.

Seperti tahun tahun sebelumnya Kampung Ramadhan Jogokariyan kembali diselenggarakan di sekitaran Masjid Jogokariyan. Biasanya saat bulan ramadhan menjelang adzan Ashar berkumandang, sejumlah lapak-lapak pedagang sudah mulai terlihat di sekitaran Masjid Jogokariyan. Satu persatu makanan dan minuman dipersiapkan untuk memenuhi hasrat masyarakat yang tengah mencari panganan berbuka.

Masjid Jogokariyan Yogyakarta menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat luas, masjid kampung ini memiliki sejarah panjang dan juga dikenal dunia. Masjid ini dibangun pada tahun 1966 dan mulai digunakan pada 1967. Nama masjid diambil dari nama kampung di mana masjid itu berdiri, Kampung Jogokariyan. Tepatnya ada di Jalan Jogokariyan 36, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta

Hal ini mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad SAW yakni memberi nama masjid sesuai dengan di mana masjid itu berada. Saat Rasulullah berdakwah di Quba, namanya Masjid Quba, beliau berdakwah di Bani Salamah, masjidnya juga namanya Bani Salamah sesuai dengan nama tempatnya.

Menurut pemaparan pengurus masjid, pembangunan masjid ini berawal dari wakaf seorang pedagang batik dari Karangkajen, Yogyakarta. Awalnya masjid terletak di sebelah selatan kampung Jokogkariyan, namun seiring berjalannya waktu, takmir masjid pertama yakni Ustadz Amin Said mengusulkan untuk memindahkan masjid ke tengah kampung.

Hingga akhirnya sampai saat ini dengan segala perkembangannya Masjid Jogokariyan berdiri di sudut perempatan kampung. Pembangunannya bertahap, awalnya masjid ini hanya terdiri dari sebuah bangunan inti saja. Baru kemudian berkembang, setelah tahun 2006, pengurus masjid mendirikan Islamic Center di sisi timur bangunan utama.

Pada 2006, ada sebuah rumah warga di sebelah masjid yang runtuh. Dia menawarkan pihak masjid untuk membeli lahan tersebut. Hingga luas kompleks masjid bertambah, dari penawaran itu kemudian pihak masjid membuka kesempatan infaq bagi siapapun yang berkenan. Di Islamic Center Masjid Jogokariyan inilah segala kegiatan pelayanan jamaah banyak dilakukan.

Banyaknya kegiatan yang berjalan di masjid Jogokariyan inilah yang membuat masjid ini tak pernah sepi. Meski di luar Bulan Ramadan, jamaah salatnya selalu ramai. Hal ini menarik perhatian masyarakat muslim tak hanya di luar Yogyakarta tapi juga luar negeri. Masjid juga memiliki website sederhana. Rahasianya ada pada sebuah prinsip yang dipegang para pengurus masjid dan masyarakat sekitar. Pengurus masjid bukan sekedar mengurus masjid tapi juga melayani jamaah.

 

Masyarakat melihat bagaimana uang dari infaq berputar untuk kepentingan jamaah. Dan menurutnya, sudah seharusnya seperti itu. Uang perolehan infaq seharusnya segera digunakan untuk keperluan umat. Bukan diendapkan, tapi selalu diputar dengan banyak kegiatan.(RJ)

Facebook Comments

Comments are closed.