Karawang, KPonline – Ketua Umum Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PP SPAMK FSPMI), Khairul Bakri, mengingatkan para pekerja industri otomotif agar tidak melihat perkembangan teknologi, khususnya kendaraan listrik, semata-mata sebagai ancaman.
Hal tersebut disampaikan Khairul Bakri saat memberikan sambutan dalam Musyawarah Unit Kerja (Musnik) IX PUK SPAMK FSPMI PT AT Indonesia, yang berlangsung di Ballroom Lantai III Hotel Swiss-Bel Karawang. Sab’tu (12/9/26).
Menurut Khairul, perkembangan kendaraan listrik yang semakin masif merupakan bagian dari transformasi industri yang harus dihadapi secara serius oleh pekerja.
“Kemajuan teknologi bukan semata-mata ancaman. Kemajuan teknologi adalah tantangan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sejak sekitar 2021 perkembangan kendaraan listrik mulai semakin terlihat di lingkungan industri. Perubahan tersebut, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan teknologi kendaraan, tetapi juga berhubungan dengan perubahan sistem produksi, investasi, kebutuhan tenaga kerja, hingga kompetisi di industri otomotif.
Karena itu, pekerja tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses transformasi industri.
“Kita harus membenahi diri. Kita harus meningkatkan kemampuan, membenahi organisasi, dan mempersiapkan anggota menghadapi perubahan,” ujarnya.
Khairul juga menekankan bahwa produktivitas perusahaan tidak dapat dipisahkan dari peran pekerja.
Menurutnya, pekerja memiliki kontribusi penting melalui etos kerja, kompetensi, serta komitmen dalam membangun perusahaan.
Namun demikian, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan pekerja.
“Kesejahteraan pekerja dan produktivitas perusahaan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama dalam hubungan industrial yang sehat, adil, dan berkelanjutan,” katanya.
Ia mengapresiasi hubungan industrial yang terbangun di PT AT Indonesia, khususnya dengan hadirnya unsur perusahaan dalam kegiatan Musnik.
Menurutnya, hubungan industrial harus terus dijaga dan dirawat sebagai sebuah sistem yang berkesinambungan.

“Pemimpin bisa berganti, tetapi sistem harus tetap berjalan,” tegas Khairul.
Lebih lanjut, Khairul mengingatkan bahwa Musnik bukan hanya momentum untuk memilih ketua dan pengurus PUK.
Musnik merupakan momentum untuk memberikan mandat kepada pengurus dalam menjalankan program kerja, melakukan pembaruan organisasi, serta menjawab kebutuhan anggota.
Karena itu, ia meminta seluruh pengurus terpilih nantinya menjalankan amanah secara sungguh-sungguh.
“Musnik tidak lepas dari sebuah amanat. Musnik tidak lepas dari sebuah harapan. Musnik juga begitu kuat dengan sebuah cita-cita,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya demokrasi dalam organisasi. Perbedaan pendapat, menurutnya, merupakan sesuatu yang wajar, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk memecah organisasi.
“Kalaupun ada perselisihan, jangan lama-lama. Selesaikan di tempat. Kita kembali fokus kepada tujuan organisasi,” pesannya.
Dalam kesempatan tersebut, Khairul juga mendorong pengurus PUK bekerja secara kolektif kolegial.
Sinergi dan kolaborasi, menurutnya, tidak hanya dilakukan antara serikat pekerja dengan perusahaan, tetapi harus dimulai dari internal kepengurusan.
Ia meminta setiap perbedaan diselesaikan melalui dialog dan musyawarah, bukan dengan saling menghasut atau memperbesar persoalan.
“Bersinergi, berkolaborasi, dan konsisten bukan sekadar ucapan di bibir. Harus tertanam dalam diri kita,” ujarnya.
Khairul juga menegaskan bahwa PUK memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan anggota.
Di tengah perubahan teknologi yang cepat, pekerja harus didorong melakukan upskilling dan reskilling agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri.
“Kalau kendaraan listrik berkembang begitu masif, kita harus bertanya apa yang bisa kita lakukan. Apakah kita bisa mempersiapkan anggota memahami teknologi kendaraan listrik, sistem baterai, atau teknologi pendukung lainnya?” katanya.
Selain transformasi teknologi, Khairul menyebut regenerasi sebagai salah satu tantangan besar FSPMI dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Menurutnya, sebagian besar anggota yang saat ini berada dalam usia produktif nantinya akan memasuki masa pensiun. Oleh karena itu, organisasi harus mulai mempersiapkan kader dan anggota generasi berikutnya.
“Kalau kita tidak melakukan regenerasi sejak sekarang, kekuatan organisasi bisa berkurang,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya tertib administrasi dan database keanggotaan sebagai bagian dari penguatan organisasi.
Data anggota, menurutnya, harus dikelola secara tertib karena berkaitan dengan berbagai kebutuhan organisasi.
“Semakin kuat dan tertib keanggotaan kita, semakin kuat pula organisasi kita,” katanya.
Di bagian akhir sambutannya, Khairul mengajak seluruh kader SPAMK FSPMI untuk tidak hanya bergerak ketika muncul persoalan.
Organisasi harus mampu membaca perubahan dan menciptakan isu yang relevan dengan kepentingan pekerja.
“Jangan sampai organisasi hanya bergerak ketika ada masalah. Organisasi harus mampu membaca persoalan sebelum menjadi masalah,” tegasnya.
Ia mendorong PUK untuk mampu membaca perubahan industri, teknologi, regulasi, serta kondisi sosial dan ekonomi yang berpotensi memengaruhi kehidupan pekerja.
Menutup sambutannya, Khairul mengajak seluruh kader ATI untuk terus bekerja keras memperjuangkan kesejahteraan pekerja sekaligus meningkatkan produktivitas perusahaan.
“Jangan pernah takut terhadap perubahan, tetapi jangan pernah enggan terhadap pembaruan,” pesannya.
Ia kemudian mengucapkan selamat melaksanakan Musnik IX PUK SPAMK FSPMI PT AT Indonesia dan berharap forum tersebut menghasilkan kepengurusan yang amanah, solid, serta mampu membawa organisasi menghadapi tantangan industri ke depan.
27 Tahun FSPMI! Bangga Berjuang Bersama FSPMI!



