Supriyadi Piyong: Merebut Itu Sulit, Tetapi Merawat Organisasi Jauh Lebih Sulit

Supriyadi Piyong: Merebut Itu Sulit, Tetapi Merawat Organisasi Jauh Lebih Sulit
Ketua DPW FSPMI Provinsi Jawa Barat sekaligus Pangkornas Garda Metal FSPMI Bung Supriyadi (Piyong) berikan Sambutan di Musnik IX PUK SPAMK FSPMI PT. ATI di Hotel Swiss-Bel Karawang. Sab'tu (12/9/26). Foto : Hsn

Karawang, KPonline – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (DPW FSPMI) Provinsi Jawa Barat, Supriyadi atau yang akrab disapa Bung Piyong, menyampaikan sejumlah pesan penting kepada peserta Musyawarah Unit Kerja (Musnik) IX PUK SPAMK FSPMI PT AT Indonesia.

Dalam sambutannya, Bung Piyong mengapresiasi pelaksanaan Musnik IX sebagai bagian penting dari proses regenerasi dan penguatan organisasi serikat pekerja di tingkat perusahaan.

Bacaan Lainnya

Ia menyampaikan bahwa perjalanan organisasi selama hampir dua dekade bukanlah sesuatu yang mudah. Karena itu, setelah organisasi berhasil dibangun dan diperjuangkan, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga serta merawatnya agar tetap kuat dan solid.

“Merebut itu sulit, tetapi merawat jauh lebih sulit,” tegasnya.

Menurut Bung Piyong, organisasi membutuhkan kaderisasi yang berkelanjutan. Siapapun yang nantinya dipercaya menjadi Ketua PUK harus mampu menjalankan amanah organisasi, sementara anggota juga memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan kader-kader baru.

Ia mendorong agar para anggota, khususnya yang memiliki pengalaman dan masa kerja lebih panjang, ikut mengambil bagian dalam kepengurusan organisasi.

“Dulu kita susah mencari pengurus PUK, bahkan susah mencari Ketua PUK. Karena itu, ketika sekarang banyak yang ingin menjadi pengurus, harus dipahami bahwa menjadi pengurus bukan berarti semuanya menjadi mudah. Justru banyak tanggung jawab dan persoalan anggota yang harus dihadapi,” ujarnya.

Bung Piyong mencontohkan, pengurus PUK tidak hanya menghadapi persoalan hubungan industrial di tempat kerja. Berbagai persoalan pribadi anggota, mulai dari masalah keluarga, ekonomi, utang-piutang hingga pinjaman online, terkadang turut menjadi persoalan yang harus mendapatkan perhatian organisasi.

Menurutnya, hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus diantisipasi melalui pendidikan, komunikasi, pendampingan, dan penguatan organisasi.

Dalam kesempatan tersebut, Bung Piyong juga menyinggung perjuangan buruh Jawa Barat dalam mempertahankan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) tahun 2026.

Ia mengatakan, persoalan UMSK masih menjadi salah satu pekerjaan rumah besar bagi organisasi buruh di Jawa Barat.

Perjuangan tersebut, menurutnya, tidak dilakukan oleh satu organisasi saja. Berbagai elemen serikat pekerja bersama-sama menempuh perjuangan, termasuk melalui jalur hukum di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Bung Piyong menyampaikan bahwa perjuangan melalui PTUN Bandung telah menghasilkan putusan yang menjadi angin segar bagi kaum buruh.

Supriyadi (Piyong) selaku Ketua DPW FSPMI Provinsi Jawa Barat hadiri Musnik IX PUK SPAMK FSPMI PT. AT Indonesia di Hotel Swiss-Bell Karawang. Sab’tu (12/9/26). Foto : Hsn

Namun, perjuangan tersebut belum selesai karena masih berlanjut dalam proses hukum berikutnya.

“Perjuangan kita belum selesai. Kita harus tetap berjuang dan mengawal prosesnya. Mudah-mudahan dengan kerja keras, kekompakan dan doa kita bersama, persoalan UMSK tahun 2026 di Jawa Barat dapat segera mendapatkan kepastian,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan perjuangan buruh sangat ditentukan oleh kekuatan persatuan dan solidaritas.

Lebih lanjut, Bung Piyong mengajak seluruh elemen organisasi untuk membangun sinergi dan kolaborasi.

Menurutnya, PUK tidak boleh berjalan sendiri. Hubungan antara PUK dengan perangkat organisasi, pemerintah, pimpinan, maupun elemen lainnya harus dibangun melalui komunikasi yang baik.

“Bukan hanya kita bertengkar di internal. Sudah bukan zamannya lagi kita seperti itu,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai membuat organisasi kehilangan fokus terhadap tujuan utama, yaitu memperjuangkan kesejahteraan anggota.

Bung Piyong menekankan bahwa dua hal yang menjadi kekuatan utama organisasi adalah kemampuan untuk mengalahkan ego dan membangun kesamaan.

“Mari kita sama-sama meletakkan ego kita masing-masing. Mari kita rangkul satu sama lain dan maju bersama,” ajaknya.

Ia berharap PUK SPAMK FSPMI PT AT Indonesia mampu terus berkembang menjadi organisasi yang semakin kuat, solid, kompak, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh anggotanya.

“Demi kesejahteraan kita bersama, demi AT Indonesia yang lebih maju, demi organisasi yang lebih solid dan lebih kompak,” pungkasnya.

Musnik IX PUK SPAMK FSPMI PT AT Indonesia sendiri menjadi momentum penting untuk menentukan arah organisasi sekaligus melanjutkan proses kaderisasi dan regenerasi kepengurusan di tingkat unit kerja.

Pos terkait