Karawang, KPonline – Pelaksanaan Musyawarah Unit Kerja (Musnik) IX PUK SPAMK FSPMI PT AT Indonesia menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi sekaligus membangun komitmen bersama dalam menghadapi berbagai tantangan industri otomotif di Indonesia. Sab’tu (12/9/26)
Hal tersebut disampaikan Bung Fajar dari Toyota Supply Chain Union Forum (T-SCUF) dalam sambutannya pada Musnik IX PUK SPAMK FSPMI PT AT Indonesia.
Bung Fajar menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Musnik IX sekaligus memberikan dukungan agar forum organisasi tersebut dapat menghasilkan keputusan-keputusan strategis bagi kemajuan perusahaan dan peningkatan kesejahteraan pekerja.
“Ini merupakan sebuah kehormatan bagi kami bisa hadir dalam agenda Musnik IX PUK PT AT Indonesia. Kami hadir untuk memberikan support dan dukungan agar pelaksanaan Musnik IX ini dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bung Fajar menjelaskan mengenai keberadaan Toyota Supply Chain Union Forum (T-SCUF) yang menjadi salah satu ikhtiar pekerja dalam membangun peran dan kontribusi serikat pekerja di lingkungan Toyota beserta perusahaan-perusahaan supply chain-nya.
Ia menjelaskan, T-SCUF berdiri pada 4 September 2025. Forum tersebut dibentuk melalui proses yang cukup panjang dengan tujuan mendorong pekerja agar tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap kemajuan industrialisasi, khususnya industri otomotif di Indonesia.
Menurut Bung Fajar, Toyota di Indonesia telah memiliki perjalanan panjang selama sekitar 55 tahun. Namun, setiap perkembangan zaman menghadirkan tantangan yang berbeda.
Saat ini, industri otomotif menghadapi berbagai perubahan, mulai dari perkembangan teknologi, pergeseran kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV), hingga tantangan regulasi dan persaingan pasar yang semakin ketat.
“Kita dihadapkan dengan sebuah tantangan yang tentunya meminta pikiran semuanya sebagai supply chain di Toyota ini memiliki kontribusi bersama,” ungkapnya.
Bung Fajar menegaskan bahwa pekerja dan serikat pekerja tidak berada pada posisi menolak perkembangan kendaraan listrik.
Sebaliknya, perubahan teknologi harus disikapi secara bersama-sama agar transformasi industri tetap memberikan ruang bagi keberlangsungan pekerjaan dan kesejahteraan pekerja.
“Kita bukan berarti anti terhadap mobil listrik. Justru bagaimana kita mencoba agar perubahan teknologi yang terjadi, dari konvensional menjadi EV, tidak kemudian menghilangkan pekerjaan yang menjadi hajat banyak pekerja dan keluarga mereka,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan teknologi merupakan sebuah keniscayaan. Karena itu, pekerja harus meningkatkan kompetensi dan kapabilitas agar mampu beradaptasi dengan perubahan industri.
Bung Fajar juga menyoroti kondisi industri otomotif nasional yang menghadapi tantangan cukup berat. Volume produksi kendaraan nasional masih berada di kisaran ratusan ribu unit per tahun, sementara jumlah kompetitor di pasar otomotif terus bertambah.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan bersama bagi seluruh elemen yang berada dalam ekosistem industri otomotif, termasuk perusahaan-perusahaan supply chain dan para pekerjanya.
Ia menekankan bahwa keberlangsungan Toyota di Indonesia sangat berkaitan erat dengan kekuatan supply chain.
Termasuk di dalamnya PT AT Indonesia yang menjadi salah satu bagian penting dalam rantai pasok Toyota.
“Ketika AT Indonesia atau supply chain yang lain bermasalah, tentunya akan berdampak terhadap bisnis Toyota secara keseluruhan,” katanya.
Karena itu, seluruh pihak harus memiliki semangat yang sama untuk meningkatkan daya saing dan menjaga keberlangsungan industri otomotif di Indonesia.
Bung Fajar juga mengingatkan bahwa kondisi market share Toyota di Indonesia yang mulai mengalami koreksi harus menjadi perhatian bersama.
“Kita harus sama-sama bekerja sama, bahu-membahu agar Toyota ini bisa tetap sustain dan mampu menghadapi tantangan ke depan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bung Fajar menyampaikan bahwa hubungan industrial yang kuat merupakan salah satu modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan industri.
Hubungan industrial tidak semata-mata dibangun ketika terjadi persoalan, tetapi harus menjadi ruang dialog yang konstruktif antara pekerja dan manajemen untuk membahas masa depan perusahaan sekaligus kesejahteraan pekerja.
“Dengan hubungan industrial yang kuat, kita akan mampu membahas, mendiskusikan, dan merumuskan kaitan dengan kemajuan perusahaan dan juga peningkatan kesejahteraan karyawan,” ujarnya.
Menurutnya, kemajuan perusahaan dan kesejahteraan pekerja merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan.
Karena itu, serikat pekerja memiliki peran strategis untuk memberikan masukan-masukan konstruktif kepada manajemen dalam rangka mendukung pertumbuhan dan keberlangsungan perusahaan.
“Serikat pekerja harus menjadi bagian dari solusi,” pesannya.
Ia berharap hubungan industrial di lingkungan supply chain Toyota dapat terus dibangun secara sehat, terbuka, dan konstruktif. Dengan demikian, berbagai tantangan yang akan datang dapat dihadapi secara bersama-sama.
“Tantangan yang akan datang tentu tidak bisa kita hindari. Tetapi bagaimana kita menyikapi tantangan tersebut sehingga menghasilkan output yang memberikan kebaikan bagi perusahaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja,” pungkas Bung Fajar.
Ia berharap Musnik IX PUK SPAMK FSPMI PT AT Indonesia dengan tema “Sinergi, Kolaborasi, dan Konsistensi” mampu menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang membawa manfaat bagi organisasi, perusahaan, keberlangsungan industri otomotif, serta peningkatan kesejahteraan seluruh pekerja.



