Ketika Buruh Nekat Berserikat Demi Melawan Penyimpangan Corporate

Ketika Buruh Nekat Berserikat Demi Melawan Penyimpangan Corporate

Purwakarta, KPonline-Di tengah megahnya gedung-gedung pabrik yang dibangun dari keringat, air mata, dan kafein sasetan, sebuah fenomena aneh bin ajaib sedang melanda kaum pekerja. Alih-alih fokus mengejar target Key Performance Indicator (KPI) yang tingginya menyentuh Arsy, para buruh malah sibuk berkumpul, berdiskusi, dan sungguh berani berserikat.

Konon, gerakan ini dilakukan demi sebuah misi suci, yakni menjaga agar penyimpangan hak-hak pekerja tidak menjadi tradisi yang dinormalisasi.

Bagi manajemen, konsep bekerja demi keluarga sering kali diterjemahkan menjadi bekerja sampai melupakan keluarga. Di sinilah serikat pekerja hadir bagai polisi moral di tengah pesta pora kapitalisme yang ugal-ugalan.

Serikat Pekerja ingin memastikan bahwa hak dasar seperti upah lembur, jaminan kesehatan, dan waktu tidur bukan sekadar mitos urban atau dongeng sebelum tidur.

Menurut data fiktif namun terasa sangat nyata dari Kementerian Ketahanan Mental Pekerja, 9 dari 10 bos percaya bahwa loyalitas tanpa batas adalah mata uang yang sah untuk membayar tagihan kontrakan buruh. Serikat pekerja, dengan segala keisengannya, datang untuk mengoreksi iman korporasi yang menyimpang ini.

Untuk memahami mengapa berserikat itu penting dan mengapa bagi sebagian pengusaha hal ini lebih menakutkan daripada film horor mari kita dengar kesaksian dari berbagai sumber valid berikut:

1. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO)

“Kebebasan berserikat adalah hak fundamental untuk menegakkan keadilan sosial dan dialog sosial yang sehat”. Artinya: Tanpa serikat, dialog sosial berubah menjadi monolog: Kamu nurut, atau silakan angkat kaki.

2. Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 (Hukum RI) Serikat pekerja berfungsi memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja.

Sebuah teks hukum yang sering dibaca manajemen sebagai: Manual cara menghadapi sekumpulan orang vokal. |

3. Studi Psikologi Industri Universitas Gajah Duduk.

Buruh yang berserikat memiliki tingkat stres 40% lebih rendah saat menghadapi mutasi sepihak. Sebab, mereka tahu mereka punya backingan massa, bukan cuma pasrah pada takdir dan zodiak.

Lebih lanjut, penyimpangan di dunia kerja itu ibarat rayap. Jika dibiarkan, ia akan merobohkan seluruh rumah bernama kesejahteraan. Mulai dari potongan gaji misterius dengan alasan administrasi, hingga jam kerja 9-to-9 yang dibungkus dengan jargon keren hustle culture.

Diingatkan, bila kamu diam, besok-besok bernapas di area pabrik atau kantor mungkin akan dikenakan pajak fasilitas oleh HRD. Jadi, Berserikat adalah cara untuk mengingatkan perusahaan bahwa manusia pekerja ini aset hidup, bukan inventaris kantor seperti mesin fotokopi yang bisa ditendang kalau macet.

Pada akhirnya, berserikat bukan tentang membuat kerusuhan atau hobi mogok kerja sambil teriak teriak. Ini adalah tentang seni menjaga keseimbangan. Ketika manajemen mulai menyimpang dari koridor kemanusiaan, serikat pekerja adalah ibarat rem darurat yang ditarik agar kereta korporasi tidak masuk jurang eksploitasi.

Sebab, sekaya-kayanya pemilik modal, mereka tetap tidak bisa memproduksi barang tanpa tangan-tangan buruh. Kecuali, tentu saja, jika mereka berhasil menggantikan semua buruh dengan AI yang untungnya, sampai hari ini, belum bisa diajak patungan beli kopi saset saat demonstrasi.