Jamkeswatch Nasional Gelar Pendidikan di Jawa Tengah

Semarang, KPonline – KC/ DPW FSPMI Jawa Tengah di Semarang menyelenggarakan pendidikan Jamkeswatch , pembekalan Jamkeswatch serta sosialisasi BPJS kesehatan kepada perwakilan puk puk fspmi yang ada di Jawa Tengah pada Minggu (28/10) yang diselenggarakan di gedung DPW PKS Semarang.

Pembekalan, pendidikan dan sosialisasi BPJS kesehatan ini dilakukan oleh KC/DPW FSPMI semarang mengingat banyaknya permasalahan dan keluhan serta aduan masyarakat tentang kendala rumah sakit saat berobat. Yang mana sampai sekarang Jamkeswatch di Semarang merasa kewalahan untuk menanganinya, oleh karena itu pihak KC/DPW FSPMI Jawa Tengah berinisiatif melakukan pendidikan dan sosialisasi ini agar para relawan dan PUK mampu mengadvokasi diri sendiri, keluarga tetangga dan masyarakat luas.

Bacaan Lainnya

Tak tanggung tanggung pendidikan dan pembekalan relawan ini KC FSPMI Abidin berkordinasi dan kolaborasi dengan menghadirkan dan di buka langsung Iswan Abdullah Siatta yang merupakan Dewan Eksekutif Nasional relawan Jamkeswatch dan Vice President KSPI. Selain itu dihadiri juga oleh ketua fraksi PKS komisi C Darsono, dinas kesehatan Wachidanijah, BPJS Kesehatan Asri Wulandari. Mereka semua dihadirkan untuk bisa mengikuti pendidikan Jamkeswatch bersama PUK PUK FSPMI di Jawa Tengah, bahkan ada beberapa PUK di luar FSPMI yang hadir juga.

Iswan Abdulah yang membuka pendidikan dan pembekalan Jamkeswatch di Semarang mengatakan bahwa pendidikan ini merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan agar Jamkeswatch bisa merata di seluruh Indonesia guna menolong dan mengadvokasi baik diri sendiri, keluarga, PUK dan anggota serta masyarakat luas.

Dalam acara sosialisasi BPJS kesehatan hadir juga Dirut Advokasi Jamkeswatch Darius yang berkesempatan memberikan materi dan melakukan pembekalan terkait Jamkeswatch.

“Kenapa Jamkeswatch harus di bekali agar bisa saat turun kelapangan untuk advokasi minimal tau apa yang harus dilakukan serta mengetahui kendala apa yang di alami pasien saat di rumah sakit.” ujarnya.

Darius dengan gamblang menjelaskan urutan satu per satu kendala yang bisa di alami di lapangan dan di jelaskan satu dan terjadi inter aktif saling tanya jawab serta melatih public speaking agar bisa bicara dan tidak gagap saat melakukan advokasi di lapangan. Saat berdiskusi Darius juga mengajak agar pembekalan ini di simak baik baik dan bisa langsung di praktekan karena Jamkeswatch saat ini banyak di butuhkan masyarakat.

“Jamkeswatch dibutuhkan ketika saat pasien terkendala, di situ Jamkeswatch hadir untuk melakukan advokasi.”tambahnya.

(Omp).

Pos terkait