Di Tengah Gelombang Disrupsi Otomotif, SPAMK FSPMI Gelar Seminar Nasional

Di Tengah Gelombang Disrupsi Otomotif, SPAMK FSPMI Gelar Seminar Nasional

Karawang, KPonline-Transformasi industri otomotif nasional kini mulai dipacu oleh perkembangan kendaraan listrik dan digitalisasi. Karena itu, Pengurus Pusat Serikat Pekerja Automotif, Mesin dan Komponen Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PP SPAMK FSPMI) menggelar Seminar Nasional bertajuk Transformasi Industri di Era Disrupsi dan Teknologi: Strategi Litigasi dan Mitigasi untuk Perlindungan dan Keadilan Sosial. Kegiatan ini berlangsung di Swiss-Belinn Karawang, Rabu (6/5/2026).

Dalam sambutannya, Ketua Pimpinan Pusat SPAMK FSPMI, Khaerul Bakri, menegaskan bahwa penyelenggaraan seminar ini bukan tanpa alasan. Ia menyebut bahwa transformasi industri saat ini merupakan isu krusial yang harus dipahami secara menyeluruh oleh kaum buruh.

“Kenapa kita mengadakan seminar nasional? Karena ini adalah hal yang sangat penting. Kita sebagai buruh sedang menghadapi krisis ketenagakerjaan yang nyata, ditambah dengan ketidakpastian regulasi yang semakin memperburuk keadaan,” ujar Khaerul.

Ia menjelaskan bahwa transformasi industri tidak dapat dilepaskan dari perubahan teknologi yang masif. Era disrupsi, menurutnya, adalah kondisi di mana perubahan datang begitu cepat dan membawa konsekuensi langsung terhadap tenaga kerja, khususnya di sektor otomotif.

“Era disrupsi adalah tantangan. Ketika teknologi masuk, ada perubahan besar yang terjadi. Dampaknya jelas terasa bagi kita sebagai pekerja,” lanjutnya.

Lebih jauh, Khaerul memaparkan bahwa dalam konteks transformasi industri, terdapat dua tren besar dalam isu ketenagakerjaan nasional yang patut menjadi perhatian serius.

Pertama adalah tren meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan studi kasus di sektor otomotif, angka PHK pada tahun 2024 telah mencapai sekitar 1,5 juta tenaga kerja di Indonesia. Angka ini menunjukkan tekanan besar yang dihadapi industri sekaligus ancaman nyata bagi keberlangsungan pekerjaan buruh.

Kedua adalah tren penurunan rekrutmen tenaga kerja. Di sisi lain, ia menyoroti adanya peningkatan impor kendaraan, baik motor maupun mobil, yang mencapai sekitar 4,7 persen, terutama pada segmen kendaraan listrik. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar domestik mulai tertekan oleh produk luar, yang berimbas pada berkurangnya kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri.

“Ketika kita bicara profit perusahaan pada semester pertama 2026, rata-rata mengalami penurunan hingga 9,7 persen. Ini sering dijadikan alasan oleh perusahaan, apalagi dengan kondisi global seperti perang yang terjadi saat ini,” kata Khaerul.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa dampak tersebut pada akhirnya kembali dirasakan oleh para pekerja, baik dalam bentuk efisiensi, penurunan kesejahteraan, hingga ancaman PHK.

Menurutnya, seminar nasional ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran kolektif di kalangan buruh SPAMK FSPMI agar tidak hanya menjadi penonton dalam arus perubahan.

“Kalau kita sudah tahu tantangan ke depan seperti apa, maka kita juga harus tahu langkah apa yang perlu kita ambil. Kita tidak bisa hanya diam,” tegasnya.

Ia juga mengajak seluruh pekerja di sektor otomotif untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi era globalisasi dan transformasi industri dengan meningkatkan kapasitas, memperkuat solidaritas, serta mendorong inovasi dalam gerakan serikat pekerja.

“Efisiensi ada di depan mata, PHK bisa semakin banyak. Artinya, kita harus menyatukan pemikiran dan semangat. Kita tidak boleh lagi sekadar diam. Kita harus siap dengan langkah-langkah nyata untuk berinovasi dan melakukan perubahan,” pungkasnya.

Seminar ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi strategis, baik dalam aspek litigasi maupun mitigasi, guna memastikan bahwa transformasi industri tidak mengorbankan hak-hak pekerja, melainkan justru menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan tenaga kerja di Indonesia.