Karawang, KPonline-Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Automotif, Mesin dan Komponen Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PP SPAMK FSPMI) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Transformasi Industri di Era Disrupsi dan Teknologi: Strategi Litigasi dan Mitigasi untuk Perlindungan dan Keadilan Sosial” di Swiss-Belinn Karawang, Rabu (6/5/2026).
Dalam forum tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FSPMI Jawa Barat sekaligus Panglima Koordinator Nasional Garda Metal, Supriyadi Piyong, menyoroti isu yang dinilainya menjadi penentu masa depan organisasi: penambahan jumlah anggota.
Menurutnya, kekuatan serikat pekerja tidak hanya diukur dari sejarah panjang atau struktur organisasi, melainkan dari seberapa besar basis anggotanya.
“Kalau kita tidak menambah anggota, jangan harap kita akan menjadi besar. Kita memang sudah besar, tapi kita harus terus menambah jumlah anggota,” tegas Supriyadi di hadapan peserta seminar.
Supriyadi mengungkapkan bahwa di antara Serikat Pekerja Anggota (SPA) dalam naungan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia, sektor SPAMK justru menjadi satu-satunya yang belum menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Ia membandingkan dengan sektor lain yang dinilai mengalami peningkatan pesat.
“Serikat Pekerja Logam dan Pertambangan (SPLP) nambahnya luar biasa. SPAI (Serikat Pekerja Aneka Industri) juga luar biasa. SPEE (Serikat Pekerja Elektronik Elektrik), setelah mengembara ke mana-mana akhirnya kembali ke rumah besar FSPMI. Tinggal kita, SPAMK,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Supriyadi menekankan bahwa penambahan anggota tidak hanya berdampak pada kekuatan politik organisasi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan perjuangan serikat.
Ia menyinggung pentingnya peningkatan jumlah PUK (Pimpinan Unit Kerja) sebagai basis organisasi di tingkat perusahaan.
“Kalau kita bisa menambah jumlah anggota dan PUK, maka dana perjuangan atau COZ juga akan bertambah,” tegasnya.
Dana perjuangan ini, lanjutnya, menjadi tulang punggung dalam mendukung berbagai aktivitas advokasi, litigasi, hingga aksi-aksi solidaritas buruh.
Supriyadi juga menyebut bahwa seminar ini merupakan bagian dari implementasi kepemimpinan Khaerul Bakri dalam mendorong respons organisasi terhadap dinamika industri.
Ia mengingatkan agar para pengurus tidak hanya menjalankan peran secara simbolik, tetapi benar-benar hadir menjawab persoalan anggota.
“Sebagai pengurus SPAMK, kita harus lebih tanggap terhadap berbagai keluhan anggota. Jangan hanya duduk manis dan ngopi-ngopi,” ujarnya dengan nada tegas.
Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, Supriyadi juga mengingatkan adanya ancaman yang tidak kasat mata: tergerusnya ideologi gerakan buruh.
Menurutnya, transformasi industri bukan hanya berdampak pada sistem produksi, tetapi juga pada pola pikir dan solidaritas pekerja.
“Jangan sampai kita tergerus ideologi. Jangan sampai kita kalah oleh pengalihan teknologi. Kita harus sekuat mungkin mempertahankan,” katanya.
Selain itu, Supriyadi juga menyoroti kondisi ekonomi sebagai faktor yang sangat mempengaruhi dinamika gerakan buruh.
Menurutnya, tekanan ekonomi yang semakin berat dapat melemahkan daya juang pekerja jika tidak diimbangi dengan penguatan organisasi.
“Maka dari itu kita harus menguatkan ekonomi. Ini penting agar gerakan buruh tetap bertahan dan tidak mudah goyah,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Supriyadi menyerukan kepada seluruh peserta seminar untuk memperkuat gerakan buruh di semua tingkatan organisasi.
Ia berharap seluruh elemen, mulai dari KC, PC hingga PUK, dapat menjadi garda terdepan dalam membela kepentingan anggota.
“Saya berharap seluruh peserta seminar ini bisa benar-benar membela kawan-kawan. Kita harus solid, kita harus kuat, dan kita harus siap menghadapi perubahan,” pungkasnya.
Tepat apa yang dikatakan Supriyadi Penambahan anggota merupakan hal utama. Karena gerakan buruh sejatinya berbasis kekuatan massa.