“Hatiku Tetap di Omah Buruh, Bahkan Sampai Tua Nanti…”

  • Whatsapp

Bekasi, KPonline – Saat itu tanggal 23 Jul 2012, jam 08.20 pagi. Kami seluruh anggota PUK SPEE FSPMI PT. Kiyokuni Indonesia sudah berkumpul di omah buruh.

Awalnya aku mengira, omah buruh seperti kantor sekretariat atau gedung-gedung tempat meeting. Nggak tahunya hanya jembatan yang diberi atap dari bambu dan banner.

Bacaan Lainnya

Aku juga tak begitu paham, sekedar ikut-ikutan, ketika ada komando dari pengurus PUK untuk berkumpul di sini. Selama 4 hari berturut-turut. Sedang menyusun perlawanan, katanya.

Malam bekerja. Siang istirahat. Sore konsolidasi.

Hal lain yang membuatku heran, ketika banyak orang membicarakan sosok bang Obon Tabroni. Sempat bertanya-tanya dalam hati, Obon Tabroni ini selebritis yang membintangi sinetron apa. Aku penasaran dengan sosok yang menjadi idola banyak orang ini.

Ketika aku berada di omah buruh, ada seorang lelaki gondrong dengan logat bahasa bancong masuk ke omah buruh.

Bang, aer ngak da nech buat anggota. Soalna pumpnya ngak naek-naek,” katanya kepada seorang lelaki yang mengenakan kaos berkerah.

“Lah pan kmaren bisa. Emangna ngak naek lagi.”

“Iya, kmaren bisa tapi dah ngak naek lagi.”

“Ya sudah, ntar wa check dulu.”

Aku mendengarkan pembicaraan itu. Pasti sosok yang dilaporin soal air ini orang penting. Sempat berfikir, apakah ini Obon Tabroni. Tapi orangnya biasa saja. Lagian, masak selebritis ngurusin air. Selagi hatiku bertanya-tanya, kuambil rokok sebatang. Merokok.

Laki-laki itu berlalulah di hadapanku. Sempat melihatku yang sedang merokok.

Setelah mengecek pam, dia memanggil si Gondrong.

“Tolong bantuin di bawah sama saya ya. kalo ngak salah, sumurnya kering. Kita pindah kekali ja ya. Sekalian minta bocah 3 orang bantuin ente,” katanya.

“Iya bang,” jawab Gondrong.

Akhirnya aku disuruh bantuin ke bawah. Sial. Padahal tadi sudah berusaha ngumpet. Bahkan mau nyari alasan agar tidak disuruh. Tetapi ya sudahlah…

* * *

Setelah 3 hari berlalu, akhirnya malam itu tiba. Kami akan melakukan pemogokan di perusahaan. Dibantu oleh team mokom dan macan toa yang sekarang jadi dewan kemakmuran, aech jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bekasi.

Alhamdulillah. Kami bersyukur kehadirat Illahi Robbi. Bahkan sempat bersujud syukur. Terharu. Menangis sejadi-jadinya.

Bagaimana tidak, semua hasil jerih payah kami atas bantuan dari buruh-buruh dari perusahaan lain, team mokom, serta jajaran PUK, kami berhasil membuat kesepakatan dengan perusahaan, bahwa kami dari karyawan kontrak menjadi karyawan tetap.

Ini sesuatu yang tak mungkin kulupakan, bahkan hingga tua nanti.

Terbayang olehku saat ini, di usia senja nanti, kupangku cucuku di beranda rumah pada satu pagi yang syahdu. Sambil minum kopi dan cemilan pisang goreng, kuceritakan kisah ini kepadanya.

* * *

Sebulan telah berlalu. Hingga tibalah waktu bulan suci Ramadhan, dimana bulan ini dan tahun ini adalah momen pertama kali karyawan PT. Kiyokuni Indonesia berkumpul bersama dalam semua departemen. Kami menjadi sangat dekat. Bersahabat. Padahal dulunya saling acuh tak acuh.

Saat itu, setiap jam omah buruh selalu ramai. Setiap hari, selalu ada perwakilan karyawan yang mendaftar untuk menjadi anggota serikat.

Omah buruh yang kukenang sebagai majelis adalah ketika perjuangan pertama melawan ketidakadilan.

Omah buruh yang kusayang adalah ketika penghuni omah buruh menjelang lebaran karena personelnya rela tinggal dikawasan yang langka orang karena mudik.

Omah buruh yang kurasakan adalah ketika menjadi ajang silaturahmi dan berbuka puasa.

Omah buruh yang kuidamkan adalah menjadikan perkumpulan untuk menjadi seorang yang berjiwa sosial bagi lingkungan dan mahluk hidup seperti santunan anak yatim serta penanaman bibit pohon.

Omah buruh yang tak bisa kulupakan adalah dari itu semua hanyalah kenangan.

Terimakasih jebatan/omah buruh. Selama ini kalian telah berusaha memendam amarah disaat kami berkumpul. Terimakasih jembatan / omah buruh, selama ini mahluk sakral satu pun tak ada yang jahil dan menggoda.

Terimakasih jembatan/omah buruh, untuk hal-hal ini: tidak pernah ada korban jatuh, menjadi pusat ajang cari jodoh (pernikahan bung Amir), menjadi ajang olah raga gerak jalan, menjadi event organizer acara pernikahan, menjadi korban sasaran sandiwara hukum dan ketidakadilan, tempat tahlil dan yasinan mengenang almarhum Sebastian; dan masih banyak lagi yang lain.

Terima kasih semua pejuang kesejahteran FSPMI untuk kesejahteraan yamg telah kami dapatkan.

Mudah-mudahan tetap bisa mengenangnya. Bahkan sampai tua nanti….

Wenda_tabiat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *