‘Harta, Tahta, Wanita’ Tiga Ujian Abadi yang Tak Pernah Pensiun

‘Harta, Tahta, Wanita’ Tiga Ujian Abadi yang Tak Pernah Pensiun

Oleh: Yanto (Bidang Organisasi PP SPLP FSPMI)

“Harta, tahta, wanita” adalah adigium (pepatah) budaya populer yang merujuk pada tiga godaan atau ambisi terbesar. Tiga kata ini sudah tua, tapi tetap muda. Ia hidup dari zaman kerajaan sampai era buzzer. Dari pendopo bupati sampai ruang direksi.

Istilah ini menggambarkan siklus di mana seseorang mengejar kekayaan (harta), kekuasaan (tahta), dan pesona lawan jenis (wanita) yang sering kali menjatuhkan moralitas seseorang jika tidak dikelola dengan bijak. Ketiganya bukan dosa bawaan. Yang berbahaya adalah ketika ketiganya jadi tujuan, bukan alat.

Secara historis, frasa ini berakar dari budaya patriarki masa lalu yang diidentifikasikan sebagai tiga hal paling dikejar oleh kaum pria, sekaligus menjadi ujian moral terbesar mereka.

– Harta: Kekayaan materi atau uang yang dicari untuk meningkatkan status.
– Tahta: Jabatan, kekuasaan, atau pengaruh sosial di masyarakat.
– Wanita: Hasrat terhadap lawan jenis atau kecantikan.

Zaman berubah, tapi polanya berulang. Dulu raja tergoda selir dan upeti. Sekarang pejabat tergoda proyek dan “wanita simpanan”. Godaannya sama, bungkusnya saja yang ganti.

Sering digunakan secara negatif untuk mengkritik pejabat, tokoh publik, atau politisi yang menyalahgunakan wewenang.

Berbagai kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan skandal perselingkuhan kerap dikaitkan dengan ketiga hal ini. Lihat saja berita: OTT KPK karena harta, jual-beli jabatan karena tahta, lalu ketahuan “main belakang” karena wanita. Satu jatuh, biasanya dua lainnya ikut terseret. Sebab ketiganya memang saling menguatkan. Punya tahta mudah cari harta. Punya harta mudah tebar pesona. Punya pesona, haus tahta.

Di sisi lain, ketiga elemen ini juga sering diparodikan atau dijadikan motivasi oleh sebagian orang sebagai simbol pencapaian kesuksesan hidup secara material dan sosial*. “Kerja keras biar kaya, biar bisa jadi bos, biar dapat pasangan cantik” — narasi ini laku di tongkrongan sampai seminar ‘self-development’.

Masalahnya, ketika sukses hanya diukur dari tiga hal itu, manusia jadi rentan. Hidup terasa kurang kalau belum “kaya, kuasa, dan punya pasangan menawan”. Padahal banyak yang punya ketiganya, tapi kosong. Banyak juga yang tak punya tahta, tapi hidupnya mulia.

Dalam berbagai ajaran moral dan agama (terutama pandangan Islam), ketiganya bukanlah hal yang haram jika didapatkan dan disikapi dengan benar.

Harta dapat disalurkan melalui sedekah, Tahta harus dijaga dengan menegakkan keadilan, Wanita (serta lawan jenis pada umumnya) harus disikapi dengan menjaga kehormatan dan kesucian diri.

Jadi soal “harta, tahta, wanita” bukan tentang menjauhi, tapi tentang mengendalikan. Harta tanpa zakat jadi pelit. Tahta tanpa amanah jadi tiran. Cinta tanpa batas jadi zina.

Adigium ini akan terus relevan selama manusia masih punya nafsu dan ego. Ia adalah alarm moral. Pengingat bahwa jabatan tertinggi manusia bukan direktur, bukan menteri, bukan sultan. Tapi jadi manusia yang tak diperbudak oleh harta, tahta, dan syahwatnya sendiri.